Bandung, mediaperkebunan.id – Salah satu limbah atau biomassa dari kelapa sawit, yaitu tandan kosong (tankos), bisa dijadikan sebagai sebagai material karbon yang ramah lingkungan untuk pembuatan perangkat teknologi superkapasitor.
Dengan stok yang berlimpah di banyak pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia, keberadaan tankos sawit diyakini bisa membuat superkapasitor menjadi salah satu teknologi kunci dalam mendukung kemandirian energi nasional.
“Inovasi ini tidak hanya mendukung pengembangan teknologi penyimpan energi masa depan, tetapi juga memperkuat transisi menuju energi bersih,” kata Prof. Yusuf Nur Wijayanto selaku Kepala Pusat Riset Elektronika (PRE) pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hal itu disampaikan Yusuf Nur Wijayanto saat menyampaikan kata sambutan dalam webinar SISTEM #5 bertema “Advances in Supercapacitor Devices: From Microstructure Engineering to Biomass-Derived Carbon Material”, belum lama ini.
Kegiatan webinar tersebut menghadirkan para pakar yang membahas perkembangan mutakhir teknologi superkapasitor, mulai dari teknologi rekayasa mikrostruktur hingga pemanfaatan material berkelanjutan.
Prof. Yusuf Nur Wijayanto, seperti dikutip Mediapetkebunan, Minggu (31/8/2025), menekankan pentingnya riset superkapasitor dalam mendukung agenda transisi energi bersih nasional.
“Potensi pemanfaatan limbah biomassa kelapa sawit sebagai material karbon ramah lingkungan serta strategi rekayasa mikrostruktur dalam peningkatan performa superkapasitor dikupas tuntas di sini,” jelasnya.
Yusuf Nur Wijayanto berharap kegiatan ini dapat mendorong diseminasi hasil riset di bidang divais elektronika, khususnya superkapasitor, sekaligus membangun ekosistem riset melalui kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, Rike Yudianti sebagai Profesor Riset dari Pusat Riset Elektronika BRIN, memaparkan potensi TKKS sebagai bahan baku material karbon ramah lingkungan untuk perangkat superkapasitor.
Menurut Rike Yudianto, seiring meningkatnya produksi minyak sawit, limbah TKKS dapat menjadi sumber material bernilai tinggi. Sejumlah penelitian menunjukkan TKKS mampu diolah menjadi tiga produk utama, yaitu porous carbon graphite, nanocellulose, dan nano-silica.
Ketiga material ini menjadi kunci pengembangan energi berkelanjutan, khususnya superkapasitor. Perangkat superkapasitor berbahan dasar TKKS terbukti memiliki kinerja baik dan mampu mempertahankan performanya hingga ribuan siklus.
“Target riset kami adalah menghasilkan perangkat superkapasitor dengan performa setara baterai, dengan material berbasis keluarga karbon yang lebih ramah lingkungan,” jelas Rike.
Rike Yudianto menambahkan, sinergi antara riset material berbasis biomassa lokal dan inovasi rekayasa mikrostruktur merupakan langkah strategis menuju teknologi energi bersih. Pemanfaatan potensi biomassa Indonesia, khususnya dari sektor perkebunan kelapa sawit, dengan dukungan inovasi riset tingkat lanjut, menjadikan superkapasitor semakin dipandang sebagai teknologi penting dalam mendukung transisi energi nasional yang berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, Prof. Markus Diantoro sebagai Guru Besar Departemen Fisika Universitas Negeri Malang, menjelaskan bahwa modifikasi mikrostruktur dapat meningkatkan performa superkapasitor.
“Rekayasa ini membuka peluang besar untuk menghadirkan perangkat superkapasitor yang memiliki kapasitas lebih besar dan efisien, sehingga dapat memaksimalkan kapasitas penyimpanan energi terbarukan,” tegas Prof. Markus Diantoro.

