Jakarta, mediaperkebunan.id – Permasalahan utama Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi untuk mempertahankan luas areal kelapa adalah rusaknya tanaman kelapa akibat dampak pasang surut. “Air pasang menggenangi kebun kelapa setelah surut tidak keluar sehingga kebun kelapa tergenang. Pohon kelapa seperti rudal tinggal batangnya saja sehingga tidak menghasilkan,” kata Riduwan, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Tanjabar, pada Pertemuan Sahabat Kelapa Indonesia.
Luas tanaman kelapa yang rusak di Tanjabar mencapai 7.188 ha. “Karena itu dalam pertemuan Sahabat Kelapa ini kami minta difasilitasi untuk bertemu dengan Kementerian Pekerjaan Umum membahas perbaikan drainase, tanggul dan parit untuk mengatasi masalah ini. Kami bersama-sama dengan Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Indragiri Hilir, Riau mengalami masalah yang sama. Sehingga kalau ada program Kementerian PU dilakukan bersama-sama di tiga kabupaten ini,” katanya.
Perbaikan ini penting untuk menjaga luas lahan kelapa di Tanjabar. Kalau tidak maka petani enggan meremajakan dan merawat kelapanya dan beralih ke tanaman kelapa sawit. Apalagi pemerintah pusat menyediakan banyak fasilitas untuk petani sawit seperti PSR dan Sarpras.
Kalau diperbaiki maka produksi kelapa di Tanjabar bisa meningkat. Petani masih bersemangat menanam dan merawat kelapa. Tetapi masalah tanggul dan parit sudah diluar kemampuan petani juga pemda maka perlu pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum yang turun.
Luas perkebunan kelapa di Tanjabar 51.427 ha dengan produksi 55.224 ton setara kopra dengan jumlah petani 19.894 KK. Banyak tanaman kelapa di Tanjabar yang sudah tua tetapi belum diremajakan. Ada peremajaan secara mandiri tetapi jumlahnya tidak besar.
Dalam pertemuan sahabat kelapa turut hadir Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasonal (PAKOI), Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional , Kemendag, Natan Kambuno. Natan dengan jaringannya yang luas akan menawarkan investasi membangun pabrik pengolahan kelapa pada investor dari Singapura dan Honkong.
Riduwan sangat berharap ada investor membangun pabrik pengolahan kelapa sebab meskipun produksi setahun sampai 260.000 butir tetapi sampai sekarang belum ada pabrik pengolahan kelapa. “Peluangnya besar tetapi belum dimanfaatkan. Pada pembuatan kopra air kelapa dibuang begitu saja. Demikian juga sabut kelapa. Dengan lokasi dekat Singapura dan Malaysia Tanjabar punya potensi untuk industri olahan kelapa,” katanya.
Tanjabar tahun 2026 ini dari program hilirisasi Ditjebun mendapat alokasi peremajaan kelapa seluas 1.200 ha. “Kami sudah siapkan 4.000 ha dan tahun ini dapat 1.200 ha. CPCL sudah kami siapkan. Bantuan dari Ditjenbun adalah benih unggul, pupuk dan HOK,” katanya.
Hadir dalam pertemuan itu adalah Yan Sintani Giang Ketua DPW Himpunan Petani Sejahtera Mandiri Indonesia Kabupaten Belitung yang menyatakan meskipun merupakan daerah pantai, untuk memenuhi kebutuhan kelapa, Belitung mendatangkan dari provinsi lain karena rendahanya produksi.
Sedang Alias Welo, penasehat Sahabat Kelapa yang juga mantan Bupati Lingga menyatakan selama dia menjadi bupati sudah dibangun industri sabut kelapa dan minyak kelapa. Sayang setelah dia berhenti industri yang sudah dirintisnya itu tidak berlanjut.
Viraj Baragna, Direktur T&I Global, perusahaan mesin pengolahan kelapa dari India menyatakan pihaknya melakukan riset sebelum membantu pembeli membangun pabrik pengolahan kelapa. Mesin-mesinnya digunakan hampir semua industri pengolahan kelapa di Indonesia dan dunia. Terakhir untuk Dewa Coco mesinnya menyesuaikan dengan kelapa Halmahera yang ukuranya kecil. Perusahaannya siap membantu program hilirisasi kelapa dengan mesin pengolahan yang cocok dengan kelapa yang dihasilkan daerah itu. Pada Coconut for Conservation Conference di IKN tahun 2019 lalu Viraj juga ikut berpartipasi.

