Jakarta, mediaperkebunan.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memulai langkah nyata dalam mengejar target swasembada gula nasional dari Kota terbesar ketiga di Jawa Timur, Kediri. Melalui peluncuran Program Bongkar Ratoon oleh Gubernur Khofifah pada Sabtu (23/5), pemerintah berupaya meremajakan tanaman tebu tua yang produktivitasnya mulai menurun.
Kepala Dinas Kabupaten Kediri memaparkan bahwa program ini berfokus pada pembongkaran total lahan tebu dengan rendeman rendah. Untuk mendukung para petani, pemerintah menyalurkan bantuan berupa 60 ribu mata benih per hektar serta insentif tenaga kerja senilai Rp 4 juta, demi mempercepat pemenuhan kebutuhan gula kristal secara nasional.
Dari target 7.000 hektare lahan yang ditetapkan pemerintah pusat untuk wilayah Kediri, Surat Keputusan CPCL bagi 2.149 hektare telah diterbitkan hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, lahan seluas 469 hektare sudah berhasil didistribusikan kepada para petani. Dalam proses budidaya, petani setempat sangat mengandalkan varietas tebu seperti Bululawang (BL), Cening, dan varietas lokal Jawa Timur (Panjalu). Selain itu, demi mempercepat masa tanam, pihak dinas terkait mengharapkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah pusat untuk kelompok tani.
Founder CV Lang Buana, salah satu produsen benih tebu di Jawa Timur, Pak Wawan, menjelaskan bahwa varietas Cening dipilih untuk mengawali penanaman perdana kali ini. Jenis tebu ini dinilai sangat sesuai dengan karakteristik tanah di Jawa Timur yang memiliki tingkat kelembapan tinggi atau cenderung basah. Keunggulan varietas Cening terletak pada ukuran batangnya yang panjang, nilai rendemen yang tinggi, serta mayoritas hasil panennya yang sangat ideal untuk diolah menjadi gula merah.
Selain Cening, CV Lang Buana juga menyiapkan Bululawang (BL) dan AS Agribun yang dipelihara sampai lolos sertifikasi dan pelabelan. Selama 2 tahun ikut program hilirisasi, benihnya sudah disalurkan sebagian besar ke daerah Jatim, Lampung, Sulawesi, Sumsel, dan Jateng.
“Gubernur sudah sampaikan tebu lama bikin produktivitas dan rendemen rendah. Bongkar Ratoon ini penting biar diganti benih baru supaya hasilnya naik,” ujar Pak Wawan. Dirut SGN juga menekankan penataan 3 masa tanam tebu yakni awal, tengah, akhir, agar waktu giling selaras musim.
Berdasarkan pantauan di lapangan, staf CV Joyorosan, Pak Agus, mengungkapkan bahwa varietas Panjalu kini menjadi primadona di kalangan petani. Benih yang memiliki tingkat kualitas hingga 90% ini dikenal tangguh karena tahan terhadap kekeringan serta toleran terhadap serangan penyakit. Selain itu, potensi produktivitasnya tergolong sangat tinggi, yakni mampu menghasilkan hingga 150 ton per hektare.
Sinergi antara kebijakan pemerintah, penggunaan benih unggul bersertifikat, dan penyediaan alsintan memicu optimisme besar bagi petani di Kediri untuk merealisasikan target lahan seluas 7.000 hektare. Melalui momentum bongkar ratoon yang dimulai hari ini, langkah nyata menuju swasembada gula nasional kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah proses yang sedang berjalan.

