Kalimantan Tengah, mediaperkebunan – Perusahaan perkebunan kelapa sawit terus berupaya menjaga kesehatan dan keselamatan para pekerjanya, baik di kebun maupun di pabrik. Hal ini disampaikan oleh dr. Faulim Abdurrachman dari PT. Agro Bukit dan dr. Kristina Silitonga dari PT. Mulia Agro Permai pada Media Perkebunan di sela-sela acara buka puasa bersama GAPKI dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Menurut dr. Faulim, jenis risiko kerja di kebun dan pabrik memang berbeda. Pekerja lapangan seperti pemanen dan pengutip brondolan paling sering mengalami tertusuk duri sawit, tertimpa pelepah, dan iritasi mata akibat serbuk bunga sawit. Sementara itu, karyawan pabrik memiliki risiko yang berbeda sesuai dengan jenis pekerjaannya.

“Yang paling sering kami tangani di kebun adalah mata terkena serbuk bunga sawit, lalu tertusuk duri atau kejatuhan pelepah,” jelas dr. Faulim.
Meski begitu, kejadian kecelakaan tidak terjadi setiap bulan. Dalam setahun, kasus yang paling sering muncul adalah gangguan mata karena serbuk bunga sawit.
Dr. Kristina menyampaikan bahwa untuk mencegah hal tersebut, perusahaan sebenarnya sudah menganjurkan pemanen memakai kacamata pelindung. Namun, masih banyak tantangannya di lapangan.
“Banyak pekerja merasa kurang nyaman karena kacamata sering berembun atau mengganggu gerakan. Jadi tantangannya ada pada kebiasaan dan kenyamanan saat bekerja,” ujar dr. Kristina.
Dari sisi aturan, perusahaan sudah mengikuti standar keselamatan kerja yang berlaku. Ada Departemen EHS (Environment, Health, and Safety) yang mengawasi pelaksanaannya. Selain itu, perusahaan juga memenuhi kewajiban sesuai standar ISPO dan RSPO, termasuk menyediakan stok alat pelindung diri di gudang.
Tidak hanya menangani kecelakaan, perusahaan juga menjalankan berbagai program kesehatan rutin. Kegiatan posyandu dan imunisasi dilakukan secara berkala. Perusahaan juga mengikuti program pemerintah seperti pemberian vitamin setiap Februari dan Agustus, vaksin MR, serta program pencegahan penyakit kaki gajah yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat.
Setiap karyawan juga menjalani pemeriksaan kesehatan rutin dan tahunan. Selain itu, perusahaan memberikan vitamin setiap tiga bulan untuk menjaga daya tahan tubuh pekerja. Pada bagian kerja tertentu, diberikan tambahan nutrisi sesuai kebutuhan.
Perhatian khusus diberikan kepada karyawan perempuan. Ada pemeriksaan kehamilan yang rutin dilakukan untuk memastikan tidak ada pekerja hamil yang melakukan pekerjaan berat atau terpapar bahan kimia.
“Kami pastikan karyawan perempuan yang hamil tidak bekerja di area berisiko. Kesehatan ibu dan bayi jadi perhatian utama,” kata dr. Kristina.

Di setiap kebun juga terdapat Komite Gender. Komite ini menjadi tempat pengaduan jika terjadi pelecehan verbal atau fisik sekaligus wadah kegiatan positif bagi karyawan.
Kesetaraan gender menurutnya berlaku untuk perempuan dan laki-laki. Ada pelatihan keterampilan seperti belajar cukur rambut untuk karyawan laki-laki dan pelatihan memasak atau membuat kue untuk perempuan.
“Kegiatan ini sederhana, tapi dampaknya besar bagi karyawan dan keluarga mereka,” tambah dr. Faulim.
Dalam pelayanan kesehatan, klinik perusahaan berfungsi sebagai fasilitas kesehatan (faskes). Meski sebagian besar karyawan menggunakan BPJS Kesehatan, perusahaan tetap melayani pasien secara gratis sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial (CSR) termasuk bagi masyarakat sekitar.
“Kalau mereka berobat dan belum terdaftar BPJS di sini, tetap kami layani. Itu bagian dari CSR. Tapi memang akan lebih mudah kalau faskes BPJS-nya terdaftar di klinik perusahaan untuk proses rujukan,” jelas dr. Faulim.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan dengan fasilitas kesehatan milik pemerintah seperti puskesmas dan pustu. Jika seluruh masyarakat beralih ke klinik perusahaan, maka kunjungan ke fasilitas kesehatan daerah dapat menurun dan berdampak pada pendapatan daerah.
Melalui berbagai program ini, perusahaan berkomitmen menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan nyaman bagi seluruh pekerja.
“Selama ini kan memang kita tidak sering terekspos ya, kegiatan di klinik kebun ini sederhana tapi dampaknya luar biasa,” ucap dr. Faulim.

