14 October, 2020

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Swasembada gula konsumsi rumah tangga ditargetkan tercapai tahun 2023 lewat program percepatan swasembada gula. Dengan intensifikasi 200.000 ha di Jawa dan ekstensifikasi 50.000 ha di luar Jawa tahun 2023 ditargetkan ada penambahan produksi 676.000 ton. Hendratmojo Bagus Hundoro, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Ditjen Perkebunan, menyatakan hal ini dalam webinar tanaman pemanis 5 Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Pusat Penelitian Perkebunan.

Dengan percepatan swasembada gula 2023 diharapkan juga kemitraan saling menguntungkan antara petani plasma dengan PG BUMN dan swasta semakin meningkat, juga kapasitas dan efisiensi PG berbasis tebu. Intensifikasi terdiri dari rawat ratoon 125.000 ha untuk tebu yang masih produktif, sedang yang keprasannya lebih dari 4 kali dilakukan bongkar ratoon 75.000 ha.

Lahan tebu sekarang semakin bergeser ke lahan kering yang jauh dari PG. Irigasi merupakan salah satu faktor penting peningkatan produktivitas. Karena itu dibangun sumber air untuk pengairan tebu.

Perbenihan tebu sering jadi kendala terutama memenuhi jumlah dan waktu yang tepat, apalagi penjenjangan benih tebu cukup panjang mulai dari KBD sampai KTG bisa sampai 2 tahun. Pembangunan sumber benih dilokasi pengembangan menjadi salah satu kegiatan program ini.

Pencapaian swasembada gula 2023 tentu memerlukan pembiayaan yang cukup besar. Ditjenbun akan berusaha mengoptimalkan APBN untuk pendanaan, tetapi tentu tidak bisa semuanya bertumpu pada anggaran pemerintah. Pemda juga diminta ikut membiayai lewat APBD. Selain itu juga kolaborasi pembiayaan APBN dan KUR.

Kemitraan petani plasma dan PG diharapkan semakin baik sehingga bisa dibiayai sepenuhnya oleh KUR dimana PG berfungsi sebagai avalis. KUR untuk pertanian dialokasikan Rp50 triliun dan capaian masih 60-70% sehingga masih ada peluang bagi petani tebu untuk memanfaatkan dana ini.

Sistim pembelian tebu oleh PG kepada petani dengan sistim beli putus berdasarkan bobot tebu dan rendemen sehingga tercapai transparansi. Dengan kemitraan ini maka petani semakin percaya sebab petani akan tahu berapa yang akan diterima.

Tahun 2020 rawat ratoon 10.000 ha, terdiri dari Jawa Timur 4.000 ha ( Malang, Situbondo, Kediri, Madiun masing-masing 1.000 ha), Jawa Tengah 3.600 ha (Rembang 1.600 ha, Pati dan Blora masing-masing 1000 ha), Jawa Barat 2000 ha (Cirebon dan Majalengka masing-masing 1.000 ha) dan DI Yogyakarta 400 ha (Bantul dan Sleman masing-masing 200 ha). Rawat ratoon 2020 ini akan memberikan tambahan produksi tahun 2021 14.250 ton GKP. Tahun 2020 juga dibangun KBD 1.667 ha kebun benih datar yang mampu menyediakan benih untuk 10.000 ha.

Tahun 2021 bongkar ratoon 25.000 ha dan rawat ratoon 75.000 ha, serta perluasan di luar Jawa 15.000 ha sehingga tahun 2022 ada penambahan produksi 258.700 ton. Tahun 2022 bongkar ratoon 50.000 ha, rawat ratoon 40.000 ha dan perluasan di luar Jawa 35.000 ha sehingga tahun 2023 ada penambahan produksi 395.925 ton.

(Visited 273 times, 1 visits today)