Kediri, mediaperkebunan.id – Plt Dirjen Perkebunan Ali Jamil minta CPCL bongkar ratoon dipercepat sehingga bulan Mei sudah selesai semua. Kalau bisa dicapai maka tahun 2026 swasembada gula konsumsi bisa dicapai, dan memang harus tercapai. Hal ini disampaikan pada tanam perdana bongkar ratoon di Desa Ngeletih, Kecamatan Kandas Kabupaten Kediri, bersama Gubernur Jatin, Khofifah Indar Parawansa, Sabtu (23/5). Wilayah ini merupakan binaan PG Ngadirejo, PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Dari target 97.979 ha secara nasional capaian masih 61%. Jawa Timur sendiri sekitar 48%. Kalau Jawa Timur bergerak maka bisa tercapai 90%. Ali Jamil minta semua pihak bergerak mewujudkanya. PPL yang sekarang berada dibawah Kementan harus membantu.
SGN yang sudah mengakuisisi PG RNI juga harus sama-sama bergerak bersama dinas perkebunan kabupaten. Sesuai dengan Inpres, saat ini BUMN yang bergerak dibidang pertanian sekarang koordinasinya ke Kementan untuk mempercepat program prioritas nasional, termasuk swasembada gula.
“Kemitraan 30 pg SGN dengan petani harus bagus, demikian juga kemitraan PG swasta. Kalau PG swasta rendemenya lebih bagus maka SGN harus mereformasi PGnya supaya bagus. Tahun lalu CPCL kurang bagus karena anggaran baru turun bulan Oktober, tahun 2026 ini tidak ada alasan lagI,” katanya.
Dirut PT SGN, Mahmudi menyatakan dengan masuknya PG RNI ke SGN saat ini ada 26 PG di Jatim yang dimliki SGN atau 85% dari seluruh PG. Pada musim giling tahun ini 450.000 hidupnya tergantung pada PG SGN. Tahun lalu bongkar ratoon 11.000 ha sedang tahun ini target 54.000 ha.
Pelaksanaanya harus dipercepat sebab rendemen 80% dibangun di kebun, sedang pabrik hanya 20%. Saat ini pabrik baru beroperasi 70% dari kapasitasnya sehingga perahannya tidak maksimum. Dengan bongkar ratoon pabrik beroperasi 100% sehingga perahan optimal dan rendemen naik.
PG Ngadirejo yang dibangun tahun 1912 ini rendemennya paling rendah 8. Dengan semakin banyaknya tebu diharapkan semakin meningkat. Rendemen Ngadirejo tidak kalah dengan pabrik-pabrik baru.
Pengaruh terbesar rendemen ada di varietas. Karena itu varietas harus ditata masak awal, tengah dan akhir. Kalau ditata maka rendemen akan naik, sebagus apapun pabrik kalau tidak ada penataan varietas tidak akan menghasilkan rendemen tinggi.
SGN juga bekerjasama dengan Kementan dalam program hilirisasi , pelaksanaanya akan membangun pabrik bioethanol di Kediri. Kalau sudah berdiri maka kesejahteraan petani juga diharapkan akan semakin meningkat.
Program Agripreneur tebu PT SGN di Kediri ada 9 orang mileniall/genz yang mengelola 56 ha. Tahun ini panen pertama dan pendapatan mereka mencapai Rp12-15 juta/ha. Program yang berjalan di 5 kabupaten di Jatim ini akan diperluas.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan target swasembada gula nasional tidak cukup dicapai lewat peningkatan produksi dan perluasan lahan tebu. Persoalan utama sektor gula justru berada pada rantai pasca panen, terutama kepastian pasar bagi gula produksi petani.
“Bagaimana pasca penggilingan, petani tebu itu berkepastian bahwa hasil panen gulanya terserap pasar dengan harga komersial,” kata Khofifah. Ia mengungkapkan, hambatan penyerapan gula petani pernah dipicu membanjirnya gula rafinasi ke pasar konsumsi.
Akibatnya, gula produksi petani tebu kesulitan bersaing dan distribusi gula dari Jawa Timur sempat terhambat. “Rupanya kebanjiran gula rafinasi sehingga gula dari Jatim tidak bisa keluar Jatim. Artinya target swasembada gula konsumsi ini harus satu paket,” ujarnya.
Karena itu, Khofifah mendukung kebijakan pemerintah mengurangi impor gula rafinasi dan memperketat pengawasan distribusinya agar tidak masuk ke pasar konsumsi. Program bongkar ratoon tebu yang digelar serentak di 11 kabupaten dan 15 titik tanam itu menjadi bagian dari target nasional pengembangan tebu tahun 2026.

