Pangkalan Bun, mediaperkebunan – Rendahnya fruit set masih menjadi salah satu tantangan utama dalam meningkatkan produktivitas kelapa sawit di Indonesia. Dalam pemaparannya pada acara Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 Pangkalan Bun, Ir. Indra Syahputra, M.P., Kepala Socfindo Seed Production & Labs PT Socfin Indonesia, menegaskan bahwa peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada kualitas bahan tanaman dan keberhasilan proses penyerbukan.
Menurut Indra, bahan tanaman memiliki peran fundamental layaknya mesin dalam sebuah sistem produksi. Jika benih yang digunakan unggul, maka potensi hasil yang dicapai juga akan lebih optimal. “Bahan tanaman itu ibarat mesin. Kalau mesinnya bagus, dia bisa menghasilkan produksi tinggi, tapi kalau tidak, akan sulit mencapai hasil maksimal,” ujar Indra pada hari Rabu (29/04/2026).
Indra menjelaskan bahwa peningkatan produksi crude palm oil (CPO) sangat erat kaitannya dengan produksi tandan buah segar (TBS). Korelasi antara TBS dan CPO bahkan mencapai sekitar 76 persen.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa faktor utama peningkatan TBS bukan pada berat tandan, melainkan jumlah tandan per pohon. “Jumlah tandan itu sangat menentukan. Korelasinya bisa mencapai 97 persen terhadap produksi TBS,” jelas Indra.
Sebaliknya, tandan yang terlalu berat justru tidak selalu menghasilkan produksi optimal. Berdasarkan hasil uji coba Socfindo, tandan dengan berat moderat justru memberikan hasil yang lebih tinggi karena jumlah tandannya lebih banyak. “Produksi tinggi justru didapat dari tandan yang tidak terlalu besar, tapi jumlahnya banyak,” tegas Indra.
Rendahnya fruit set tidak terlepas dari proses penyerbukan yang belum optimal. Indra menguraikan bahwa ada tiga faktor utama yang menentukan keberhasilan penyerbukan, yaitu ketersediaan polen, keberadaan kumbang penyerbuk Elaeidobius, serta kondisi bunga betina.
Keberadaan kumbang penyerbuk sangat krusial karena menjadi perantara utama dalam proses polinasi. Namun, populasinya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ketersediaan bunga jantan, serangan hama, penggunaan pestisida, hingga kondisi iklim.
“Kumbang penyerbuk ini sangat sensitif terhadap lingkungan. Curah hujan tinggi dan suhu ekstrem bisa menurunkan aktivitasnya,” jelas Indra.
Selain itu, kondisi bunga betina juga sangat dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu tinggi, proses penyerbukan bisa terganggu sehingga menurunkan tingkat fruit set.
Super Male: Inovasi Socfindo untuk Meningkatkan Fruit Set
Untuk menjawab tantangan tersebut, Socfindo mengembangkan varietas super male, yaitu tanaman kelapa sawit yang secara genetik mampu menghasilkan bunga jantan dalam jumlah lebih banyak.
“Super male ini dirancang untuk menghasilkan bunga jantan lebih banyak sebagai sumber polen dan tempat hidup kumbang penyerbuk,” ujar Indra.
Keberadaan bunga jantan yang melimpah menjadi faktor penting dalam menjaga populasi Elaeidobius, sehingga proses penyerbukan dapat berlangsung lebih optimal.
Pengembangan super male sendiri telah melalui berbagai tahapan sejak 2006, mulai dari uji genetik hingga implementasi di kebun komersial. Pada 2022, varietas ini mulai diterapkan secara luas di blok replanting Socfindo. “Sejak 2022, kami sudah menanam super male di seluruh blok replanting komersial,” kata Indra.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa penggunaan super male memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produksi. Dibandingkan kebun tanpa super male, penggunaan 10–15 pohon super male per hektare mampu meningkatkan produksi TBS dan CPO hingga 19–24 persen.
“Hasilnya sangat nyata, baik dari sisi fruit set maupun produksi minyak,” jelas Indra.
Ia menambahkan bahwa peningkatan ini terjadi karena ketersediaan polen yang lebih stabil dan populasi penyerbuk yang lebih terjaga.
Dalam implementasinya, Indra merekomendasikan penanaman sekitar 12 pohon super male per hektare, dipadukan dengan 143 pohon utama. Pola tanam menggunakan sistem segitiga sama sisi dengan jarak 8,6 meter. “Dengan komposisi ini, kita bisa mendapatkan keseimbangan antara produksi buah dan ketersediaan polen,” ujar Indra.
Dari sisi biaya, investasi penggunaan super male dinilai relatif efisien dibandingkan metode lain seperti assisted pollination. “Biayanya sekitar Rp5,3 juta per hektare, tapi potensi tambahan pendapatan bisa jauh lebih besar,” kata Indra.
Meski member`ikan hasil yang menjanjikan, Indra menegaskan bahwa super male bukan satu-satunya solusi dalam meningkatkan fruit set. Faktor lain seperti manajemen kebun, pengendalian hama, serta kondisi iklim tetap harus diperhatikan.

