Jakarta, mediaperkebunan.id – Bukan hanya aspek “planet” dan “profit“, industri kelapa sawit juga punya aspek“people” yang harus diperhatikan oleh para pelaku usaha. Tak hanya bahas perihal isu lingkungan yang sedang dihadapkan oleh kelapa sawit, 1st International Environment Forum (IEF 2026) juga membahas perlunya memperhatikan kesejahteraan jutaan pekerja dan petani yang bergantung pada sektor ini.
Di tengah sorotan global terhadap praktik keberlanjutan, Sumarjono Saragih yang merupakan Ketua Bidang Pengembangan SDM Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Chairman Founder Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil (WISPO), dan Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan dalam paparannya membahas perlunya inisiatif bagi para pelaku usaha untuk tak hanya bicara perihal melindungi hutan, tetapi juga melindungi manusia atau pekerja.
Kelapa sawit memiliki peran strategis dalam mendorong ekonomi nasional sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarkat dengan melibatkan sekitar 16 juta pekerja dan tersebar di ratusan kabupaten. Sumarjono menyebut bahwa industri sawit tersebar di 170 kabupaten dari 415 kabupaten Indonesia, ada di 16 ribu desa dari 80 ribu desa, dan punya lebih dari 16 juta pekerja, yang artinya 1/3 dari negara ini ada sawitnya.
“Sustainable Development Goals (SDGs), Indonesia Emas 2045, Asta Cita, dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) memiliki kesamaan, yaitu bagaiman manusia dapat hidup lebih baik. Namun, ada sejumlah publikasi yang mengatakan bahwa kita masih memiliki sejumlah pekerjaan yang harus dikerjakan,” kata Sumarjono melalui paparannya dalam IEF pada hari Rabu (22/04/2026).
Sumarjono menyebut berbagai laporan dan publikasi menunjukkan masih adanya persoalan mendasar dalam aspek ketenagakerjaan di sektor sawit. Mulai dari sistem kerja hingga perlindungan hak-hak pekerja di antaranya mencakup status pekerja yang belum jelas, upah dan beban kerja, diskriminasi buruh perempuan, konflik agraria dan perburuhan, dan tak kalah penting penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) oleh para pekerja.
“K3 ada dua kata, keselamatan dan kesehatan tetapi selama ini K3 sering dipahami sebatas penggunaan alat keselamatan seperti helm atau sepatu. Padahal, aspek kesehatan jangka panjang pekerja juga perlu diperhatikan,” ujarnya.
Selain K3, perlindungan jaminan sosial juga menjadi perhatian utama, terutama bagi pekerja informal yang jumlahnya cukup besar di sektor sawit. Dijelaskan bahwa pekerja formal di perusahaan umumnya telah terlindungi oleh BPJS Ketenagakerjaan. Namun, pekerja informal seperti petani, buruh tani, hingga pelaku usaha kecil di sekitar industri sawit masih banyak yang belum mendapatkan perlindungan serupa. Padahal, jaminan sosial memiliki peran penting dalam melindungi pekerja dari berbagai risiko, mulai dari kecelakaan kerja hingga jaminan hari tua.
“Salah satu yang terus dikejar ada jaminan sosial untuk petani, buruh tani, penjual minyak, tambal ban, dan semua yang ada di ekosistem industri sawit. Sehingga harapannya sustainable dapat terjadi dalam sebuah ekosistem yang besar,” kata Sumarjono.
Dalam acara IEF 2026, ia juga menjelaskan bahwa selain memperbaiki para pelaku industri sawit juga harus aktif mengklarifikasi, mengkampanyekan hal baik supaya tidak dituduh sebagai industri yang tidak berbenah. “Kita juga harus melakukan perbaikan yang lebih agresif untuk peningkatan kondisi perburuhan, tidak ada diskriminasi, pekerjan anak, mematuhi K3, ada kesetaraan gender, dan tidak ada kekerasan. Momen Hari Kartini bukan sekedar memakai baju kebaya tetapi bagaimana implementasi kesetaraan gender pada industri sawit. GAPKI juga melakukan inisiatif dalam bidang ini,” ujar Sumarjono.
GAPKI sendiri telah berinisiatif untuk mengkampanyekan K3 secara komprehensif sehingga pemahaman semua pemangku kepentingan sama dan menerapkannya. Bersama dengan serikat buruh, GAPKI bertemu dengan Komisi Eropa. Mereka mendapat perspektif baru tentang sawit sebagaimana yang dituturkan oleh Serikat Buruh. Bersama-sama aktif melakukan kampanye sawit baik. Selain K3, masih banyak masalah lain dalam bidang ketenagakerjaan pada industri sawit tetapi dengan antara GAPKI dengan serikat pekerja melakukan perbaikan secara terus menerus.
“Kita harus mulai berpikir sawit adalah tentang kehidupan, tentang ekonomi kita, tentang environment kita, tentang 16 juta pekerja, 2 juta petani, dan tentang masa depan kita. Sawit adalah kita,” pungkasnya.

