Jakarta, mediaperkebunan.id – Di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim, pohon sukun (Artocarpus altilis) kembali menarik perhatian dunia. Buah yang dahulu hanya dianggap sebagai camilan sederhana di Indonesia ini, ternyata menyimpan potensi luar biasa sebagai sumber pangan alternatif, penyangga ekosistem, hingga solusi mitigasi iklim.
Makalah Arie Malangyudo dalam Seminar Nasional Agroforestri Sukun ke I di Bandung menegaskan, sukun adalah warisan leluhur Nusantara yang kini bisa memainkan peran penting dalam melestarikan hutan sekaligus memerangi kelaparan akibat perubahan iklim.
Jejak Panjang Sukun dalam Peradaban
Sukun bukan tanaman baru. Catatan sejarah menyebut pohon ini sudah dikenal di Nusantara sejak abad ke-8, bahkan terpahat jelas dalam relief Candi Borobudur. Di era modern, pohon sukun menjadi simbol penting ketika Bung Karno merenungkan Pancasila di bawah rindangnya pohon sukun di Ende, Flores.
Bangsa Eropa baru mengenal sukun pada abad ke-17 melalui penjelajah Inggris, William Dampier. Karena teksturnya yang empuk dan rasa mirip roti ketika dipanggang, buah ini dijuluki breadfruit. Sejak itu, misi membawa sukun ke berbagai koloni terus dilakukan, salah satunya oleh Kapten Bligh melalui kapal legendaris HMS Bounty.
Kini, di berbagai negara Pasifik, sukun bukan sekadar buah, melainkan makanan pokok setara nasi atau gandum.
Kaya Gizi, Rendah Lemak, dan Bebas Gluten
Sukun mengandung karbohidrat kompleks, serat, vitamin, dan mineral penting seperti kalium, magnesium, serta vitamin C. Dalam 100 gram sukun, terkandung sekitar 27 gram karbohidrat dan 103 kalori, dengan kadar lemak yang sangat rendah.
Keunggulan lain sukun adalah indeks glikemik rendah, sehingga lebih aman untuk penderita diabetes dan membantu menjaga kesehatan jantung. Karena bebas gluten, sukun juga menjadi alternatif pangan bagi mereka yang memiliki intoleransi gluten. Tak heran bila sukun dijuluki sebagai superfood tropis yang layak menjadi pangan masa depan.
Sukun dalam Sistem Agroforestri
Di Indonesia, sukun telah lama menjadi bagian dari sistem agroforestri tradisional. Contoh nyata dapat ditemukan di Negeri Saleman, Maluku, di mana masyarakat menanam sukun bersama kopi, cokelat, pala, sagu, dan tanaman pangan lain. Sistem ini terbukti menopang 60–90% pendapatan keluarga setempat, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati.
Sukun cocok ditanam di berbagai jenis lahan, dari dataran rendah hingga tinggi, bahkan di tanah marginal. Tajuknya yang lebar membantu mengurangi erosi, sementara akarnya yang kuat menyimpan air hujan. Tidak hanya itu, pohon sukun mampu menyerap hingga 69 ton karbon per hektar dalam 50 tahun sehingga membuatnya menjadi tanaman potensial dalam mitigasi perubahan iklim.
Peluang Hilirisasi dan Industri
Meski bernutrisi tinggi, pemanfaatan sukun di Indonesia masih terbatas. Mayoritas hanya dikonsumsi dalam bentuk gorengan, rebusan, atau keripik. Padahal, dengan teknologi pengolahan, sukun bisa diubah menjadi tepung yang tahan lama, lalu dikembangkan menjadi produk modern seperti roti, mie, kue, bahkan pangan fungsional bebas gluten untuk pasar global.
Sejumlah negara Pasifik telah membuktikan hal ini. Di Hawaii dan Fiji, sukun diolah menjadi produk ekspor bernilai tinggi yang mendukung ekonomi lokal sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Masa Depan Sukun sebagai Superfood di Indonesia
Sayangnya, pengembangan sukun sebagai superfood di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala: bibit unggul terbatas, umur simpan buah singkat, serta minimnya persepsi masyarakat tentang manfaatnya.
Namun peluangnya sangat besar. Dengan budidaya yang tepat, dukungan pembibitan nasional, serta pengembangan industri hilir, sukun bisa menjadi komoditas strategis untuk mendukung diversifikasi pangan nasional. Bahkan, dengan keunggulan ekologisnya, sukun mampu menjadi ikon pertanian berkelanjutan Indonesia di mata dunia.

