Jakarta, mediaperkebunan.id – Sukun yang biasanya jadi cemilan gorengan disebut bisa jadi solusi pangan dan jadi beras masa depan Indonesia. ET Hadi Saputra dalam tulisannya bertajuk “Sukun, ‘Beras’ Baru Indonesia: Misi Pangan, Misi Sehat, Misi Bumi” pada tanggal 22 Oktober 2025 menyampaikan hal tersebut.
Pernah dengar kalimat “kalau belum makan nasi artinya belum makan”? Hal ini menurut Hadi aneh, karena Indonesia sampai saat ini masih menjadikan padi sebagai patokan utama untuk urusan perut. “Padahal, urusan pangan dan perut ini sudah di ujung tanduk. Stok beras tekor, jutaan orang kena diabetes, dan sawah kita rajin “kentut” metana yang merusak langit,” kata Hadi.
Hadi ungkap bahwa Sukun (Breadfruit) adalah pahlawan yang diam-diam siap naik panggung di tengah kegelisahan tersebut. “Ini bukan sekadar tanaman biasa. Ini adalah solusi tiga dimensi yang dibungkus dalam bentuk beras analog. Dulu, sukun hanya dianggap camilan gorengan di pinggir jalan. Kini, berkat momentum politik dan tren kesehatan global, ia bisa menjadi “beras” masa depan Indonesia,” tuturnya.
Faktor mengapa sukun harus jadi beras masa depan Indonesia
Menurut Hadi, berikut ini adalah tiga faktor yang bikin sukun harus jadi beras baru Indonesia di masa depan:
1. Tamparan keras dari Bapak Presiden: Kurang-kurangi makan nasi!
Pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2024 yang intinya tegas, yaitu Rakyat Indonesia harus kurang-kurangin makan nasi. Targetnya pun jelas, yaitu konsumsi beras kita harus turun dari 94kg per orang per tahun, menjadi 85kg. Ini mandat resmi, bukan sekadar imbauan.
“Perintah ini secara otomatis menciptakan pasar raksasa bagi alternatif beras, dan di situlah sukun masuk. Apalagi, ada kabar beras analog sukun ini dipertimbangkan masuk program Makan Bergizi Gratis. Bayangkan, ini cara tercepat untuk mengenalkan sukun ke seluruh pelosok negeri,” ujar Hadi.
2. Pasien diabetes dan ‘Si Anti-Gluten’ dunia
Hadi menyebut sukun si anti gluten dunia karena secara kesehatan punya manfaat yang signifikan, di antaranya:
- Lawan Diabetes: Indonesia kini punya 19-20 juta penderita diabetes. Nasi putih Indeks Glikemiknya (IG) tinggi, cepat jadi gula, sementara sukun IG-nya lebih rendah (68 vs 73 pada nasi putih) dan punya serat tinggi. Ini solusi pangan yang diresepkan dokter, bukan cuma chef.
- Pasar Bebas Gluten Terbesar: Siapa sangka, 22% penduduk Indonesia ternyata aktif menghindari gluten! Itu 61 juta orang. Pasar gluten-free global itu nilainya triliunan rupiah, dan Indonesia punya konsumen terbanyak. Sukun adalah tiket emas kita ke pasar premium ini, baik di dalam maupun luar negeri (Jepang, Korea, Timur Tengah).
3. Sukun pahlawan lingkungan
“Kartu AS sukun yang tidak dimiliki padi adalah: ramah lingkungan, bahkan membersihan lingkungan,” ujar Hadi. Menurut Hadi, padi itu boros dan berpolusi. “Sawah padi butuh air 24% dari air tawar dunia, dan menghasilkan gas Metana yang 27 kali lebih jahat dari CO2,” jelasnya.
Sementara sukun dianggap bisa menjadi ‘Pendingin Bumi’. “Pohon sukun hidup di kebun (agroforestri), menyerap CO2 4 kali lebih banyak dari padi. Dia pakai sedikit air, dan tidak memproduksi gas metana. Kita bisa jualan ke pasar internasional dengan label bangga: ‘Makanan Pokok Carbon-Negative Pertama di Dunia!’,” lanjutnya lagi.
Tiga Palang Tantangan
Potensi besar selalu punya rintangan besar. Menurut hadi, tiga hal ini harus diatasi dengan cerdik:
1. Butuh investor yang sabar (bukan investor yang ingin cepat kaya)
“Sukun itu tanaman yang santai. Anda tanam hari ini, baru bisa panen optimal 5-8 tahun lagi. Masalahnya di modal awal besar 20-30 miliar untuk 100 hektar, tapi balik modalnya lama. Investor kita kebanyakan maunya untung cepat, bukan menunggu pohon berbuah,” ungkap Hadi.
Dari masalah tersebut, solusinya adalah pemodal yang sabar (patient capital). Libatkan investor dari yayasan/lembaga yang fokus pada lingkungan dan ketahanan pangan. “Sambil menunggu panen kebun sendiri, perusahaan harus pintar: beli dulu sukun dari petani lokal eksisting (contract farming) untuk memenuhi pasar awal,” jelasnya.
2. Mengubah stigma dari ‘Camilan Desa’ jadi ‘Superfood Kota’
Menurut Hadi, persepsi bisa menjadi palang pintu terbesar. Di mata orang kota, sukun itu makanan orang kampung, bukan makanan pokok yang berkelas. Maka, jangan jual sukun sebagai “pengganti nasi murah” tetapi jual sebagai “Beras Kesehatan Masa Depan” atau “Solusi Pangan Sehat untuk Generasi Millennial.”
“Gandeng dokter, ahli gizi, dan influencer kesehatan. Tunjukkan datanya, bukan mitosnya. Dan, jika program Makan Gratis berjalan, stigma ini akan terhapus dengan sendirinya,” katanya.
3. Jalan tol ekspor yang penuh rambu dan biaya
Hadi mengatakan bahwa pasar luar negeri harganya bagus, tapi aturannya ketat. “Untuk ekspor ke Jepang, Korea, atau Amerika, kita harus punya banyak sertifikat mahal (Halal, Organik, HACCP, dll.). Biayanya bisa miliaran rupiah,” katanya.
Maka solusinya adalah fokus dulu ke sertifikat dasar (BPOM dan Halal). Setelah perusahaan sehat, baru kejar sertifikat premium seperti Organik. “Yang terpenting, cari mitra distributor di luar negeri yang sudah punya jaringan. Mereka tahu rambu-rambunya, kita tinggal fokus pada kualitas bahan baku,” katanya lagi.
“Jendela kesempatan ini tidak terbuka selamanya. Momentum politik ini langka. Krisis iklim dan diabetes semakin mendesak kita untuk bertindak. Sukun adalah paket lengkap: untung (Profit) bagi investor, sehat (People) bagi rakyat, dan bersih (Planet) bagi bumi,” kata Hadi.
Menurut Hadi, ini bukan cuma urusan bikin beras, ini urusan Misi Nasional. Indonesia harus menjadi pemimpin dunia dalam mempopulerkan sukun sebagai makanan pokok abad ke-21. Tunggu apa lagi? Waktunya bertindak, sebelum ‘Beras Sukun’ ini didahului negara lain!

