Surabaya, mediaperkebunan.id – Sugarex 2025 kini digelar di Surabaya, Indonesia pada hari Rabu-Kamis, 12-13 November 2025 usung tema “Sweetening Indonesia’s Future: Advancing Sugar Processing, Innovation & Sustainability”.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto menyampaikan tentang perlunya transformasi digital untuk ketahanan gula nasional. “Jika ingin berkembang, perlu pemanfaatan teknologi digital dan penerapan prinsip Industri 5.0 . Industri gula harus segera bertransformasi, ini bukan pilihan,” ujar Adik pada pembukaan Sugarex Indonesia 2025 (12/11/2025).
Adik menyoroti Jawa Timur (Jatim) yang menyumbang sekitar 50 persen produksi gula nasional. “Pada tahun 2024, luas lahan tebu di provinsi ini mencapai 229.869 hektare dengan produksi sekitar 1,22 juta ton gula dan rendeman 7,47 persen. Modernisasi industri pergulaan di Jatim akan sangat berdampak terhadap ketahanan gula nasional,” ujarnya lagi.
Rendahnya produktivitas lahan dan pabrik yang sudah tua serta rantai pasok yang belum efisien menjadi tantangan tersendiri dalan industri gula. Penerapan artificial intelligence yang bisa mencakup sistem digital rantai pasok menjadi peluang tersendiri dalam hal ini.
Dihadiri lebih dari 80 peserta pameran dari dalam an luar negeri, Sugarex Indonesia 2025 menjadi momentum penting pagi modernisasi digital industri gula Indonesia. 3.000 pelaku bisnis pun hadir dalam acara ini dari berbagai wilayah.
Kenny Young selaku Group CEO Fireworks Trade Media selaku penyelenggara mengatakan bahwa tren teknologi saat ini dan di masa depan akan menjadi penentu masa depan industri gula Indonesia. “AI solution dan industri 5.0 akan membantu industri gula Jawa Timur mencapai efisiensi yang lebih besar, berkelanjutan, dan kompetitif di masa depan,” kata Kenny Young.
Melalui acara ini, Fireworks Trade Media berharap bisa menciptakan kolaborasi baru antara pabrik, asosiasi, hingga lembaga riset dalam akselerasi teknologi modern dalam proses produksi gula nasional.
Turut hadir, Kepala Divisi Bisnis Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Risvan Kuswurjanto menegaskan bahwa riset menjadi dasar inovasi industri gula, “Kami mendukung penuh transformasi digital seperti traktor otomatis dan sistem prosuksi berbasis efisiensi berasal dari riset mendalam. Varietas benih tebu unggul serta riset produk hilir juga terus dikembangkan,” kata Risvan.

