Medan, mediaperkebunan.id — Ulat api (nettle caterpillar) menjadi salah satu hama defoliator paling merugikan di perkebunan kelapa sawit. Serangan yang tidak terkendali dapat menyebabkan kehilangan tajuk secara masif dalam waktu singkat, mengganggu proses fotosintesis, dan berdampak langsung pada penurunan produksi tandan buah segar (TBS).
Dalam forum ISGANO 2026 di Medan, Maman Marwan dari PT UPL Indonesia menekankan bahwa pengendalian ulat api harus dilakukan secara cepat, presisi, dan mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, dinamika serangan ulat api berlangsung sangat cepat dan dapat muncul dalam berbagai stadia populasi sekaligus mulai dari instar awal hingga larva besar. Kondisi ini membuat pendekatan pengendalian konvensional seringkali kurang responsif, terutama saat terjadi ledakan populasi.
“Jika pengendalian terlambat, kehilangan daun akan signifikan dan berdampak pada produktivitas jangka menengah. Karena itu, intervensi harus dilakukan sejak stadia awal,” ujarnya.
Selama ini, pengendalian ulat api umumnya dilakukan melalui penyemprotan darat. Namun, metode ini menghadapi sejumlah kendala, terutama pada kebun dengan tinggi tanaman yang sudah mencapai fase matang. Akses ke kanopi menjadi terbatas, distribusi semprotan kurang merata, dan respons terhadap outbreak sering terlambat karena keterbatasan tenaga kerja.
Selain itu, aspek keselamatan aplikator dan dampak terhadap lingkungan juga menjadi perhatian. Penggunaan insektisida yang tidak tepat sasaran dapat mempengaruhi musuh alami serta meningkatkan risiko paparan terhadap pekerja.
“Kita perlu solusi yang bukan hanya efektif membunuh hama, tetapi juga presisi dan aman dalam aplikasinya,” jelas Maman.
Untuk itu, UPL menghadirkan inovasi aplikasi berbasis drone yang dikombinasikan dengan insektisida sistemik Shenzi Plus® 400SC, teknologi yang telah dipatenkan perusahaan. Aplikasi berbasis drone memungkinkan penyemprotan yang lebih cepat dan merata pada seluruh permukaan kanopi sehingga meningkatkan efektivitas pengendalian pada berbagai stadia serangan. Meski memerlukan investasi awal yang relatif lebih tinggi, teknologi ini dinilai lebih efisien dalam jangka panjang karena menghemat tenaga kerja dan meningkatkan keselamatan operasional.
Dalam uji lapangan yang dipaparkan, aplikasi insektisida sistemik menggunakan drone dengan dosis 75 ml/ha menunjukkan tingkat kematian ulat api hingga 98 persen dalam waktu 14 hari setelah aplikasi. Perlindungan residu juga bertahan lebih dari dua minggu dengan efektivitas di atas 95 persen terhadap populasi multistadia.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kombinasi antara bahan aktif yang tepat dan metode aplikasi yang presisi dapat menghasilkan mortalitas yang lebih cepat dan stabil dibandingkan metode konvensional.
Pengendalian ulat api tidak dapat dilakukan secara parsial. Maman menegaskan pentingnya integrasi dengan prinsip pengelolaan hama terpadu (IPM), termasuk perlindungan musuh alami dan pemantauan rutin populasi hama.
“Ke depan, pengendalian ulat api di perkebunan sawit harus berbasis data, respons cepat, dan teknologi presisi. Dengan demikian, kita tidak hanya menekan hama, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem kebun,” katanya.

