Yogyakarta, mediaperkebunan.id — Dalam paparan ilmiahnya di acara Perkumpulan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2025, Dr. Fizrul Indra Lubis, Head of Research dari Sulung Research Station mengangkat isu rendahnya produktivitas kelapa sawit di Indonesia akibat efisiensi penyerbukan yang belum optimal, dan menawarkan pendekatan inovatif berupa strategi pola tanam multivarietas.
Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan (2024), luas kebun kelapa sawit Indonesia diperkirakan mencapai 16,83 juta hektar dengan produksi CPO sebesar 51,13 juta ton pada 2025. Namun, Dr. Fizrul menekankan bahwa angka tersebut belum mencerminkan potensi optimal karena salah satu hambatan utama terletak pada efisiensi penyerbukan (fruit set) yang rendah.
“Pola penanaman multivarietas dapat meningkatkan dan mempertahankan keberlanjutan produksi tanaman kelapa sawit,” ujar Dr. Fizrul.

Faktor Penyebab Rendahnya Fruit Set
Dr. Fizrul mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memengaruhi rendahnya fruit set, di antaranya:
- Populasi serangga penyerbuk yang rendah, seperti Elaeidobius kamerunicus
- Sex ratio bunga betina yang terlalu tinggi (rata-rata 90%)
- Perubahan aroma bunga yang memengaruhi ketertarikan serangga (Pett et al, 1995; Lubis, 2024)
- Kondisi iklim, seperti intensitas dan waktu hujan
- Teknik budidaya seperti pola tanam tunggal dalam skala besar, manajemen air, nutrisi, serta serangan hama dan penyakit
- Gangguan musuh alami seperti tikus, laba-laba, dan hemiptera
Dalam kondisi ini, pendekatan konvensional yang mengandalkan satu varietas dalam satu areal luas berisiko memperburuk ketidakseimbangan penyerbukan.
Pola Tanam Multivarietas
Solusi yang ditawarkan adalah pola tanam multivarietas, yakni penanaman beberapa varietas sawit yang disusun membentuk pola menyerupai papan catur dalam satu areal. Model ini terbukti mampu menjaga keseimbangan ekosistem penyerbukan serta mendukung keberagaman aroma dan waktu mekar bunga.
“Ketertarikan serangga penyerbuk pada masing-masing varietas berbeda pada setiap kondisi, waktu, dan lingkungan tertentu,” ungkapnya.
“Keberagaman varietas akan memberikan dampak terhadap efisiensi penyerbukan yang saling melengkapi sehingga mengurangi ketimpangan terhadap nilai fruit set yang akan dihasilkan,” lanjutnya.
Karakteristik dan Potensi Genetik Varietas
Dr. Fizrul juga menyajikan data potensi genetik dari berbagai varietas sawit. Misalnya, potensi jumlah tandan mencapai 20–36,9 tandan/pohon/tahun, potensi produksi TBS sebesar 25,6–34,4 ton/ha/tahun, dan potensi CPO 7–9,5 ton/ha/tahun. Namun, potensi ini hanya akan tercapai jika sistem penyerbukan berjalan secara optimal.
Dari hasil pengamatan lapangan, variasi ketertarikan E. kamerunicus pada varietas yang berbeda menunjukkan bahwa populasi minimum penyerbuk (20.000/ha) tidak selalu terpenuhi, khususnya pada pola tanam single varietas.
Peningkatan produktivitas sawit tidak bisa hanya mengandalkan aspek manajemen teknis semata, tetapi juga perlu memahami interaksi ekologis dan genetika tanaman secara holistik. Strategi pola tanam multivarietas menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlanjutan industri sawit dalam jangka panjang.

