Jakarta, Mediaperkebunan.id – Strategi Pengelolaan Ganoderma mengikuti praktik inovatif dari seorang pakar, Ir. Henny Hendarjanti, M.M. Spesies Ganoderma boninense menjadi ancaman besar bagi produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Penyakit busuk pangkal batang (BPB) dapat menurunkan hasil produksi 26% hingga 46% dengan infeksi ganoderma sebesar 31% hingga 57%. Bahkan menyebabkan kematian tanaman sawit. Hal ini akan menunjukkan kerugian ekonomi yang signifikan.
Ganoderma adalah cendawan pelapuk putih yang menyerang pangkal batang dan akar kelapa sawit. Spora seksualnya memiliki plastisitas genetik tinggi, membuatnya mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Proyeksi menunjukkan infeksi akan terus meningkat, dengan kejadian BPB mencapai 70% jika tidak segera dikelola.
Menghadapi tantangan ini, berbagai inovasi dari pakar Ir. Henny Hendarjanti, M.M., memberikan harapan untuk mengelola penyakit ini secara efektif.
Strategi Pengelolaan Inovatif
1. Resistensi Genetik
Pengembangan kelapa sawit toleran seperti MR Gano Themba dan MR Gano Spring yang memiliki ketahanan parsial terhadap infeksi Ganoderma. Program pemuliaan telah menggunakan spesies E. oleifera Amerika Selatan dan E. guineensis Afrika sebagai sumber daya genetik. Kelapa sawit yang tahan terhadap BBP menawarkan pendekatan pengendalian BPB jangka panjang
2. Praktik Kultural
Di perkebunan sawit biasanya disarankan untuk mengelola BPB melalui praktik kultural yang baik. Metode kultural ini melibatkan penghilangan dan pengurangan inokulum patogen untuk memberikan kelapa sawit kelegaan jangka pendek.
Perkebunan kelapa sawit, disarankan untuk mengelola BPB dengan menerapkan praktik kultural yang tepat. Pendekatan ini mencakup penghilangan atau pengurangan inokulum patogen, dengan tujuan memberikan kelapa sawit perlindungan jangka pendek.
- Hand Picking
Hand Picking adalah pengangkatan tubuh buah Ganoderma untuk mengurangi penyebaran spora.
- Clean Clearance
Clean Clearance adalah Pengangkatan dan pembuangan semua fragmen yang tersisa dari area pohon kelapa sawit yang terinfeksi Ganoderma. Pembersihan akar dan jaringan tanaman yang terinfeksi untuk mencegah inokulasi atau menyebarkan penyakit kembali.
- Sanitasi
Pembuatan lubang sanitasi saat replanting untuk memutus rantai penularan. Sepuluh tahun setelah proses sanitasi, BPB terbukti daerah sanitasi lebih rendah kurang dari 1%.
Teknik sanitasi pada umumnya dilakukan pada saat peremajaan (replanting). Sanitasi memerlukan lubang berukuran 2m x 2m x 1m. Kemudian, material tanaman yang terinfeksi disingkirkan dan dihancurkan, menjadi potongan-potongan kecil dan dilakukan eradikasi.
- Surgery
Surgery adalah metode bedah menghilangkan jaringan yang terinfeksi pada batang. Secara mekanis menggunakan bilah backhoe atau secara manual menggunakan pahat genggam.
Namun, keberhasilan operasi ini sering terhambat karena deteksi penyakit yang terlambat. Ketika infeksi telah menyebar luas, termasuk ke akar, kondisi ini dapat menyebabkan pohon kelapa sawit yang dirawat akhirnya tumbang.
3. Kontrol Kimiawi
Pemupukan dengan mineral seperti kalsium karbonat pada bibit kelapa sawit dan pH tanah terbaik untuk menekan BPB adalah pH 6. Tanaman kelapa sawit yang terinfeksi Ganoderma dapat diobati dengan fungisida. Injeksi melalui batang, perendaman tanah, pengobatan kombinasi menggunakan kedua metode, injeksi batang dengan tekanan tinggi, injeksi tanah, dan fumigasi tanah.
Injeksi dengan fungisida sistemik seperti: fusilazol, heksakonazol, siprokonazol, flutriafol, triadimenol, tridemorf, dan oksikardoksin. Dengan ini mampu memperlambat penyebaran BPB. Terbukti pengobatan heksakonazol telah memperpanjang periode produktivitas pada pohon kelapa sawit yang terinfeksi Ganoderma.
4. Kontrol Biologis
Pemanfaatan Trichoderma sp., Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA), dan bakteri endofit untuk menekan perkembangan Ganoderma. Eksperimen dengan mikovirus untuk mengurangi virulensi patogen.
5. Elisitor Pertahanan Tanaman
Elisitor adalah senyawa yang dapat merangsang berbagai respons pertahanan pada tanaman. Senyawa ini telah terbukti mampu memicu respons hipersensitif (HR) serta resistensi sistemik yang diperoleh (SAR). Sehingga tanaman ini lebih efektif melawan infeksi dari bakteri, jamur, dan virus.
6. Innovative Genetic Tools
Modifikasi genetik telah digunakan untuk meningkatkan ketahanan kelapa sawit terhadap infeksi BPB. Pada tahun 2020, bombardemen kalus embriogenik dengan gen AGLU1 dan RCH10 berhasil menghasilkan kelapa sawit tahan terhadap G. boninense.
Selain itu, teknologi CRISPR/Cas9 diterapkan untuk memasukkan gen isoflavone reductase (IFR) dan metallothionein-like protein (MT) ke dalam kalus kelapa sawit, menghasilkan mutasi yang mengubah urutan asam amino. Pada tahun 2021, penyuntingan gen CRISPR/Cas9 yang lebih efisien memungkinkan pengembangan teknik baru untuk meningkatkan ketahanan genetik kelapa sawit.
Henny Hendarjanti menyampaikan, pendekatan ini mampu memperpanjang umur produktif pohon dan mengurangi kerugian ekonomi. Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kombinasi teknologi, praktik lapangan, dan dukungan kebijakan.
Dengan mengintegrasikan berbagai strategi inovatif, tantangan Ganoderma dapat diatasi secara berkelanjutan. Upaya ini memerlukan komitmen bersama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, peneliti, dan pelaku industri. Hasilnya tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung keberlanjutan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

