Subang, mediaperkebunan.id – Sistem resi gudang (SRG) yang diterapkan pemerintah Indonesia untuk berbagai komoditas, termasuk kopi yang ada di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat (Jabar) bisa menjadi solusi dan strategi yang jitu dalam menjaga kepercayaan para importir kopi.
“Ini merupakan keunggulan kompetitif kita. SRG bukanlah sekadar solusi domestik, tetapi menjadi jawaban strategis Indonesia terhadap sinyal pasar global yang jelas, yaitu kebutuhan akan mitra dagang yang handal,” ucap Wakil Menteri (Wamen) Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, Senin (28/7/2025) yang lalu.
Dia mengatakan hal tersebut saat melepas ekspor kopi Robusta sebanyak 57,6 ton oleh perusahaan eksportir bernama Zhanjiang Fruit Home Trading. Co Ltd, dengan perkiraan nilai ekspor sebesar USD 264,96 ribu atau setara dengan Rp 4,31 miliar.
Saat itu Wamendag didampingi oleh Bupati Subang Reynaldy Putra Andita, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya, dan Ketua Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah (KPGLB) Miftahudin Shaf.
“Bagi mitra dagang dan importir, SRG merupakan jaminan kepercayaan (seal of trust), baik kualitas dan kuantitas komoditas karena komoditas di gudang SRG melalui uji mutu sebelum penyimpanan,”lanjut Wamendag Roro dalam sebuah keterangan resmi seperti dikutip mediaperkebunan.id, Kamis (31/7/2025).
Melalui pengelolaan dan pemanfaatan SRG secara baik dan optimal, Wamendag Roro mengatakan bahwa pemilik komoditas, termasuk kopi, mampu menembus pasar ekspor secara langsung.
“Kegiatan pelepasan ekspor kopi Robusta hari ini merupakan prestasi yang patut kita apresiasi. Ini menjadi bukti bahwa melalui SRG mampu meningkatkan daya saing komoditas Indonesia ke pasar global,” tambah Wamendag Roro.
Sementara itu Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya dalam laporannya menjelaskan mengenai pencapaian implementasi SRG di Indonesia selama lima tahun terakhir.
Kata Tirta Karma Senjaya, pada tahun 2020–2024, nilai transaksi SRG rata-rata tumbuh sebesar 112 persen. Sementara, pada tahun 2025, hingga 16 Juli, nilai transaksi Resi Gudang mencapai Rp 583,84 miliar dengan nilai pembiayaan Rp 285,9 juta.
Proses pembiayaan itu, sambung Tirta Karma Senjaya lagi, disalurkan oleh tujuh lembaga pembiayaan bank maupun bukan bank, yaitu Bank BJB, Bank BRI, Bank BSI, Bank Aceh Syariah, Bank Kalsel, Bank Jatim, dan PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia.
”Pelaksanaan SRG telah mencakup 27 komoditas, baik komoditas pangan pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan. Dari jumlah tersebut, pelaku usaha telah memanfaatkan SRG untuk penerbitan Resi Gudang atas 18 jenis komoditas,” kata Tirta Karma Senjaya.
18 komoditas itu, ungkapnya, meliputi produk-produk pertanian dan perkebunan seperti gabah, beras, jagung, kedelai, kopi, tembakau, kakao, gambir, lada, teh, bawang merah.
Selanjutnya mencakup komoditas peternakan seperti ayam karkas beku; lalu kelautan dan perikanan yakni ikan, rumput laut, garam; serta pertambangan dan industri timah, rotan, gula.
Tirta Karma Senjaya bilang, penerbitan Resi Gudang telah dilaksanakan di 138 kabupaten dan kota yang tersebar di 25 provinsi di Indonesia.
Khusus untuk gudang SRG di Subang, Tirta Karma Senjaya bilang sukses dan dapat menjadi panutan bagi gudang SRG di wilayah lain dalam mendorong optimalisasi pemanfaatan SRG guna mendukung perluasan ekspor komoditas SRG di Indonesia.
Di sisi lain, Ketua KPGLB Miftahudin Shaf menyampaikan terimakasih atas dukungan yang diberikan oleh Kementerian Perdagangan melalui Bappebti, sehingga membuat mereka bisa meningkatkan transaksi ekspor, termasuk kopi robusta.
“Dari tahun 2011 hingga sekarang, trennya selalu meningkat. Mulai akhir Agustus 2024 sampai Maret 2025, kami berhasil melakukan transaksi kurang lebih 57 kontainer dengan nilai USD 4,6 juta,” tegas Miftah Shaf.

