https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
17 September, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, mediaperkebunan.id – Berbagai langkah terus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjen Bun), Kementerian Pertanian (Kementan) untuk meningkatkan produksi perkebunan, termasuk vanili atau disebut Si Emas Hijau. Peningkatan produksi dilakukan untuk memenuhi permintaan yang berujung pada Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks).

Seperti diketahui berdasarkan catatan Dijen Bun, Kementan bahwa ekspor vanili ditahun 202 telah mencapai 363.052,51 kilogram (kg). Dari angka tersebut sebanyak 330.125,99 kg diekspor dalam bentuk vanili yang belum dihancurkan atau ditumbuk dan sisanya diekspor dalam bentuk tumbuk atau sudah dihancurkan.

Dari total ekspor tersebut, nilainya mencapai Rp 883,03 miliar. Dari angka tersebut senilai Rp 883,80 miliar dalam bentuk tumbuk atau dihancurkan dan sisanya senilai Rp 49,23 miliar dalam bentuk tumbuk atau dihancurkan.

“Dari angka tersebut artinya nilai ekspor dan volumenya tidaklah main-main,” kata Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Ditjen Bun, Kementan, Hendratmojo Bagus Hudoro kepada Media Perkebunan.

Bahkan, lanjut Bagus, trend ekspor vanili tahun 2020 meningkat dibandingkan dengan tahun 2019 yang saat itu ekspor mencapai 260,81 kg dengan nilai Rp 965,22 miliar.

“Adapun pasar potensial ekspor vanili yakni: Korea, India, Singapura, Amerika Serikat, Tiongkok, Australia, Kanada, Belanda, Jerman, Swiss, Prancis, dan Polandia” papar Bagus.

Lebih dari itu, menurut catatan Ditjen Bun, Kementan di tahun 2021 ini ada terdapat perluasan areal tanaman vanili sebesar 100 hektar (ha). Bahkan vanili juga dapat dikembangkan tidak dalam satu hamparanyang luas. Salah satunya di Kota Salatiga, Jawa Tengah yang mengembangkan vanili yang memanfaatkan pekarangan. Bahkan Kota Salatiga siap untuk menjadi kota penghasil Si Emas Hijau.

Salatiga, sebuah kota kecil di propinsi Jawa Tengah, yang mempunyai luas wilayah ± 54,98 km², terdiri dari 4 kecamatan, 23 kelurahan, berpenduduk 196.082 jiwa ( Statistik Sektoral Kota Salatiga tahun 2020 ).

Baca Juga  Komisi IV DPR RI Dukung PSR untuk Kedaulatan Pangan dan Energi

Namun, Salatiga mempunyai potensi sebagai penghasil emas hijau atau vanili. Hal ini karena Salatiga didukung dengan agroklimat yang berpontensi untuk dikembangkan sebagai kota vanili. “Jadi dengan posisi salatiga ditinggian antara 450-800 meter dari permukaan lau (mpdl) dan curah hujan 2044 MM/tahun, maka Salatiga siap siap berkontribusi meningkatkan ekspor vanili,” kata Walikota Salatiga, Yulianto, kepada Media Perkebunan, di Kantor Walikota.

Sehingga, lanjut Yulianto, dengan meingkatkan ekpor vanili maka bukan hanya negara yang mendapatkan pendapatan melalui pajak ekspor tapi juga masyarakat pelaku budidaya. Terlebih, saat ini harga vanili kering mencapai diangka Rp 4 juta per kilogram (kg).

Ditempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Salatiga, Nunuk Hartini pun membenarkan bahwa Kota Salatiga siap menjadi kota penghasil vanili. Bahkan, pada dasarnya tanaman vanili sudah lama dibudidayakan oleh penduduk Kota Salatiga. Salah satu warga yang konsisten dalam melakukan budidaya vanili yakni Mbah Harjo di Randuancir.

“Beliau konsisten melakukan budidaya vanili. Dari budidaya tersebutlah dia bisa merubah ekonomi keluarganya dan hingga menguliahkan anak-anaknya. Ini karena harganya yang menjanjikan,” kata Nunuk.

Seperti diketahui, di Kota Salatiga, Jawa Tengah harga vanili basah sekitar Rp 1 juta per kg. Sedakan untuk vanili kering mencapai Rp 4 juta per kg. Bahkan harganya pun cenderung stabil, karena pasarnya cukup luas baik untuk dalam negeri ataupun luar negeri seperti Thailand, Korea Selatan, Jerman, Denmark, India, Prancis, Belanda, Korea Selatan, Filipina, Malaysia dan Singapura.

Nunuk mengungkapkan, luasnya pasar vanili disebabkan karena vanili bisa digunakan untuk berbagai macam produk, seperti bahan makanan dan minuman, kosmetik hingga obat stamina tubuh.

“Optimisme Kota Salatiga akan menjadi Kota Vanili karena selalin agroklimat yang mendukung untuk dibudidayakan vanili sehingga menghasilkan kualitas vanili terbaik juga karena saat ini sudah ada sekitar 9 ribu batang dengan luas lahan 3,74 hektare (ha) yang tersebar di 4 Kecamatan yang sudah dibudidayakan,” papar Nunuk.

Baca Juga  ASOSIASI UPPB : PETANI KARET DIMINTA PERTAHANKAN KEBUNNYA

Menurut Nunuk, Hal ini juga sejalah dengan program Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementan melalui program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Dengan meingkatnya produksi vanili kedepan, maka otomatis meningkat pula ekspornya, mengingat pasar ekspor vanili masih cukup luas dan banyak permintannya. Berita selengkapnya pada majalah Media Perkebunan. (yin)

(Visited 124 times, 1 visits today)