Surabaya, mediaperkebunan.id – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) baru saja merilis bibit hasil kultur jaringan terbaru, SGN-01 yang baru diluncurkan pada bulan Juli 2025 lalu. Asmen Klimatologi dan Kesubuhan Tanah SGN, Wahyudi mengatakan bahwa bibit ini diluncurkan untuk mendukung percepatan program swasembada gula.
Kuljar SGN-01 sendiri sudah dilakukan sejak tahun 2004 dan masuk dalam ketogori masak tengah lambat (usia 11-12 bulan). “Bibit SGN-01 memiliki potensi produktivitas yang tinggi, yaitu 138,5 Ton/Ha,” ujar Wahyudi saat di wawancarai Media Perkebunan di acara Sugarex Indonesia 2025 pada hari Rabu (12/11/2025).
Lebih lanjut, bibit SGN-01 juga tahan terhadap hama dan memiliki rendemen 9,19 ± 1,10 persen, yang berarti lebih banyak gula yang dihasilkan dari setiap ton tebu. “Bibit ini pun lebih tahan terhadap beberapa HPT alami seperti penggerek batang, penggerek pucuk, blendok, pekahbung, mosaik, dan luka api,” katanya.
Berikut ini adalah presentase ketahanan bibit pada hama penyakit:
- Penggerek batang: 1,46 – 2,39 persen
- Penggerek pucuk: 0,62 persen
- Blendok: 0,06 – 0,73 persen
- Pekahbung: 0,17 – 1,69 persen
- Mosaik: 1,51 – 3,68 persen
- Luka api: 0,93 – 2,01 persen

Bibit SGN-01 juga adaptif terhadap tipe iklim C3, baik di lahan bertekstur berat jenis Aluvial maupun lahan ringan jenis Regosol. Sehingga varietas ini memiliki prospek untuk dikembangkan secara lebih luas, tak hanya di Jawa Timur tetapi juga di wilayah-wilayah lain dengan agroekologi serupa.
Analisis usaha tani menggunakan metode anggaran partial menunjukkan bahwa SGN-01 memiliki nilai keekonomian yang menguntungkan. Pada tanaman pertama, SGN-01 memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp45,3 juta per hektar dengan B/C ratio 1,23. Sementara pada tanaman keprasan I dan II, tambahan keuntungan masing-masing sebesar Rp21,8 juta (B/C 1,11) dan Rp28,5 juta (B/C 1,17)
per hektar.
Mengenai program untuk swasembada gula ke depan, SGN saat ini terus fokus pada pengembangan bibit unggul, perawatan tanah, dan menyesuaikan waktu tebang yang sesuai dengan kemasakan. “Tabu kan ada masak awal tengah sampai masak akhir. Jika pas, maka rendemennya akan sangat bagus. Tapi kalau tepat otomatis protas turun,” kata Wahyudi.
Mendukung swasembada gula sepenuhnya, peluncuran varietas bibit unttul SGN-01 diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan nasional. SGN berharap industri gula Indonesia dapat menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

