Medan, mediaperkebunan.id – Serangan jamur atau ganoderma terhadap perkebunan kelapa sawit di berbagai kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), baik milik rakyat maupun perusahaan perkebunan, ternyata sudah begitu endemik dan mewabah.
Situasi ini dinilai membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai pihak yang berkompeten. Bahkan untuk kalangan petani sawit, serangan Ganoderma ini tidak mungkin dikendalikan sendiri karena biaya pengendaliannua sangat banyak.
“Karena itu, menurut saya, sosialisasi Safari Ganoderma 4 yang kami lakukan di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dan Kabupaten Simalungun beberapa hari yang lalu, seharusnya dilakukan di awal-awal merebaknya serangan ganoderma di Sumatera Utara,” kata Dr Ir Darmono Taniwiryono kepada Mediaperkebunan.id, Sabtu (12/7/2025).
Sebagai informasi, Dr Ir Darmono Taniwiryono adalah Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) serta dikenal sebagai inventor atau penemu dan peracik berbagai produk olahan yang sangat sehat berbasiskan kelapa sawit.
Didampingi Fery Harianja selaku salah satu pengurus MAKSI, pakar yang kerap disapa dengan panggilan Pak Dar ini mengungkapkan kalau saat ini serangan Ganoderma di Sumut sudah bersifat endemik.
“Biaya pengendaliannya sudah menjadi sangat besar yang tidak mungkin dibiayai oleh petani sendiri, apalagi harus menggunakan alat berat untuk membantu petani menghancurkan sumber inokulum ganoderma di lapangan,” ungkap Darmono Taniwiryono.
Pak Dar bilang, di daerah yang sangat endemik ganoderma, yang sakit tidak terbatas pada tanaman kelapa sawit saja, tetapi yang sakit juga adalah lahannya. Ketika lahannya sakit ditanami dengan tanaman yang baru dan unggul, dapat dipastikan tidak lama setelah ditanam akan tertular oleh ganoderma.
Oleh karena itu, menurut Darmono Taniwiryono, pertama-tama yang harus dilakukan adalah penyehatan lahan dengan menggunakan alat berat.
“Kalau tidak dilakukan penyehatan lahan, maka serangan ganoderma akan semakin parah sampai titik di mana lahan-lahan di Pulau Sumatera tidak layak lagi ditanami kelapa sawit,” kata Pak Dar lagi.
Menurutnya, bantuan pembiyaan perlu diberikan oleh pemerintah dari dana sawit. Kesuksesan program peremajaan sawit rakyat tidak bisa hanya diukur dari keberhasilan penanaman bibit unggul di lapangan saja.
Melainkan juga dari keberhasilan tanaman sawit PSR dalam bertahan menghadapi terpaan serangan kumbang tanduk atau Oryctes di 5 tahun pertama, dan terpaan serangan ganoderma di tahun-tahun berikutnya.
“Jangan sampai petani meratapi nasibnya ketika sepuluh tahun kemudaian hasil peremajaannya malah hancur,” kata Darmono Taniwiryono.
Pernyataan itu juga ia sampaikan kepada para petani sawit yang mengikuti kegiatan Safari Ganoderma 4 dengan materi pengenalan dan pengendalian ganoderma pada perkebunan kelapa sawit.
Para petani sawit sendiri sangat antusias untuk mengetahui bagaimana menyehatkan kembali tanaman kelapa sawit mereka yang sudah banyak meluruh oleh serangan ganoderma.

