2nd T-POMI
2024, 31 Mei
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id . Karet adalah tanaman perkebunan yang cocok ditanam oleh masyarakat pedesaan. Tanaman perkebunan lain tidak ada yang ketika harga rendah dibiarkan saja tanpa perawatan, kebun penuh dengan gulma, tetapi ketika harga naik baru petani datang, disadap dan  masih bisa menghasilkan getah. “Itulah yang terjadi sekarang. Kebun yang sudah lama ditinggalkan sekarang kembali disadap karena harganya membaik,” kata Datuk Aziz, Sekretaris Jenderal International Rubber Research and Development Board (organisasi internasional yang beranggotakan lembaga-lembaga riset karet dari berbagai negara).

Petani karet  yang  pohonnya  masih bagus, dengan harga lateks naik harus segera melakukan perawatan dengan baik. Terapkan Good Agriculture Practises. Untuk menyadap, gunakan pisau sadap yang tajam, dan pada bidang sadap saja.  Kalau harga 1-2 bulan mendatang masih membaik maka harus dipupuk. “Filosofinya berbuat baiklah pada tanaman maka tanaman akan berbuat baik pada kita,” katanya.

Bagi petani yang pohon karetnya sudah tua,  gunakan stimulan untuk mengoptimalkan hasil. Pohon karet ini masih bisa menghasilkan 1-2 tahun lagi. Kalau harga masih tinggi maka gunakan kesempatan ini untuk melakukan peremajaan. Kayu dari pohon karet yang diremajakan masih bernilai tinggi. Ekspor mebel Malaysia 85% bahan bakunya kayu karet.

Bagi pemerintah Indonesia, sebaiknya membuat program bantuan petani karet berupa bibit unggul untuk peremajaan dan pupuk untuk 3-4 tahun. Karet sampai saat ini masih menjadi penghasil devisa yang cukup besar. Produksi karet Indonesia tahun 2022 menurut Buku Statistik Perkebunan 2022-2024 yang diterbitkan Ditjen Perkebunan, 2,509 juta ton, ekspor 2,035 juta ton dengan nilai USD3.539,99 juta.

Hal penting lainnya adalah nilai tambah. Dalam sebuah mobil ada 250 komponen yang dibuat dari karet. Indonesia  penduduknya banyak sehingga jumlah kendaraan juga banyak. Komponen mobil yang terbuat dari karet sebagian besar masih impor. Pemerintah perlu memberi insentif supaya komponen-komponen ini bisa dihasilkan industri dalam negeri. Pada akhirnya upaya ini akan memberi manfaat pada negara.

Baca Juga:  DITJENBUN DAPAT ABT Rp337,31 MILIAR UNTUK TEBU, KELAPA, KOPI, JAMBU METE

Indonesia adalah negara yang terletak dalam cincin api sehingga sering mengalami gempa bumi. Karena itu pemerintah sebaiknya membuat regulasi yang mewajibkan penggunaan rubber seismic bearing. “IRRDRB pernah membawa grandfather of seismic bearing yaitu Prof James M Kelly dari University of California at Berkeley Civil and Enviromental Engineering untuk melihat pemasangan rubber seismic bearing di lantai 3 sebuah hotel di Medan. Seharusnya di bawah dan lebih dari satu tetapi di modifikasi karena harganya sangat mahal dan impor dari Jepang,” katanya.

Menurut Datuk, Indonesia seharusnya bisa memproduksi sendiri seismic bearing ini. Banyak produk-produk jadi karet yang masih harus diimpor dan Indonesia harus mampu menguranginya dengan memproduksi di dalam negeri.

Produk lain yang harus diproduksi di Indonesia adalah dock fender. Indonesia sebagai negara kepulauan punya banyak pelabuhan dan setiap pelabuhan membutuhkan dock fender. Masih banyak produk lain yang bisa dihasilkan Indonesia. IRRDB siap bantu mencari produk unggulan yang sesuai.

Dewan Pakar Media Perkebunan, Karyudi,  menyatakan harga karet yang sekitar satu dekade rendah sekarang sudah mulai naik. Petani menjual karet ke tengkulak dengan harga Rp9000-10.000/kg. Sedang petani yang tergabung dalam UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar) BOKAR mingguan harganya bisa mencapai lebih dari Rp13.000/kg.

“Kondisi ini tentu menggembirakan. Masalahnya saat ini pasokan karet di Indonesia sudah sangat berkurang karena banyak kebun karet yang dikonversi. Sebagian besar jadi kebun kelapa sawit. Serangan penyakit gugur daun yang disebabkan pestalotiopsis dan produktivitas tanaman yang rendah akibat tanaman kurang terawat membuat pasokan karet berkurang. Akibat kekurangan pasokan ada sekitar 42 pabrik crumb rubber yang tutup, angka ini mungkin akan terus bertambah jika kondisi perkaretan tidak cepat diselamatkan” kata Karyudi.

Baca Juga:  Perdagangan Tidak Mengenal Pertemanan

Harga yang naik sekarang merupakan momentum bagus untuk membenahi sektor hulu. Kebun karet yang masih tersisa, terutama yang sudah tua diremajakan. Produktivitas ditingkatkan karena Indonesia saat ini produktivitasnya paling rendah diantara negara penghasil karet, hanya di bawah 1 ton/ha/th sedang Vietnam sudah 1,5-2 ton/ha/th.

“Karet 90% dimiliki oleh rakyat. Jadi negara harus hadir dalam program peremajaan karet rakyat dengan klon-klon unggul baru. Pemerintah harus terlibat langsung membenahi masalah perkaretan, supaya karet tidak menjadi komoditi nostalgia bagi Indonesia,” katanya.

Supaya momentum harga bagus bisa bertahan maka dorongan hilirisasi sangat diperlukan. Karet selama ini sekitar 70% digunakan untuk pabrik ban, sehingga bila industri otomotif lesu maka permintaan karet turun dan harga anjlok. Perlu diversifikasi produk hilir sehingga ketika permintaan industri ban turun, permintaan industri lain masih stabil bahkan naik. Jadi permintaan karet tetap tinggi.