Medan, mediaperkebunan.id – Keberhasilan industri kelapa sawit sering kali diukur melalui tingginya produktivitas dan keuntungan yang diperoleh. Namun, di balik seluruh pencapaian tersebut, terdapat satu faktor mendasar yang sering kali kurang mendapatkan perhatian, yaitu kualitas bahan tanaman atau benih yang digunakan. Benih merupakan titik awal yang menentukan arah produktivitas kebun selama satu siklus tanam yang dapat berlangsung hingga lebih dari 25 tahun.
Dalam pemaparannya pada SCOPEX 2026, Dadang Afandi, M.Agr., Senior Breeder PT Socfin Indonesia, menekankan bahwa keberlanjutan industri sawit tidak dimulai dari pupuk, teknologi panen, maupun pengelolaan kebun, tetapi dimulai dari keputusan paling awal, yaitu memilih benih yang tepat.
“Benih sawit kecil tetapi memberikan kontribusi yang besar bagi keberlanjutan kelapa sawit kita,” kata Dadang dalam acara SCOPEX 2026 pada hari Selasa (19/05/2026).
Menurutnya, ukuran fisik benih yang sangat kecil sering kali membuat orang menganggapnya sebagai komponen sederhana. Padahal secara ekonomi dan biologis, benih memiliki pengaruh sangat besar terhadap hasil akhir perkebunan. Benih kelapa sawit dengan berat hanya sekitar 2–3 gram memiliki kemampuan berkembang menjadi tanaman dengan biomassa yang sangat besar sepanjang siklus hidupnya.
Dadang menjelaskan bahwa pada umur 3–8 tahun, tanaman sawit dapat mencapai berat basah sekitar 400–600 kilogram per pohon. Berat tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 600–900 kilogram pada umur 9–15 tahun, dan dapat mencapai sekitar 1,8 ton pada umur 25 tahun.
Perkembangan tersebut tidak hanya terjadi pada pertumbuhan vegetatif tanaman, tetapi juga pada kemampuan menghasilkan tandan buah segar (TBS). Satu benih yang ditanam dapat menghasilkan sekitar 1,6 ton TBS pada fase awal produksi, meningkat hingga sekitar 3 ton pada fase berikutnya. Secara akumulatif, satu tanaman berpotensi menghasilkan sekitar 5 ton TBS per tahun pada masa produktifnya.
Nilai ekonomi yang muncul dari satu benih juga menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antara biaya awal dan hasil akhir yang diperoleh. “Nilainya hanya 10 ribu rupiah per butir berkembang menjadi 4,8 juta, 9 juta, sampai 15 juta rupiah,” jelasnya.
Perhitungan tersebut bahkan belum memperhitungkan nilai tambah dari minyak sawit yang dihasilkan. Jika dihitung berdasarkan ekstraksi minyak atau CPO dengan asumsi rendemen sekitar 25 persen, satu benih dapat menghasilkan sekitar 400 kilogram CPO hingga umur delapan tahun dan meningkat hingga sekitar 12 ton CPO selama satu siklus tanam.
Dadang menjelaskan bahwa jika menggunakan asumsi harga CPO sekitar Rp15.000 per kilogram, maka keuntungan yang dihasilkan dari satu benih dapat mencapai sekitar Rp18 juta.
Melihat besarnya potensi tersebut, muncul pertanyaan penting mengenai jenis benih yang seharusnya dipilih. “Lalu benih yang seperti apa yang mau diinvestasikan di perkebunan kelapa sawit kita?” kata Dadang.
Saat ini Indonesia memiliki sekitar 20 produsen benih kelapa sawit, sementara Malaysia memiliki sekitar 16–17 produsen. Banyaknya pilihan tersebut memberikan keuntungan karena tersedia beragam alternatif, tetapi pada saat yang sama juga dapat menimbulkan kebingungan bagi petani dan perusahaan.
Menurutnya, pemilihan bahan tanaman tidak cukup dilakukan berdasarkan nama perusahaan atau popularitas benih semata. Pemilihan harus mengacu pada karakter utama yang secara nyata memengaruhi hasil akhir produksi minyak sawit.
Dalam program pemuliaan tanaman yang dilakukan Socfindo, fokus utama seleksi adalah produksi CPO yang tinggi. Selain itu, terdapat karakter pendukung lain seperti produktivitas TBS, pertumbuhan tinggi tanaman yang lebih lambat, serta ketahanan terhadap penyakit. “Kita breeder melakukan seleksi karakter utamanya adalah yang produksi CPO-nya tinggi,” jelasnya.
Dadang juga menjelaskan bahwa terdapat dua komponen utama yang menentukan tingginya produksi minyak, yaitu TBS dan rendemen (oil extraction rate/OER). Namun berdasarkan hasil penelitian Socfindo bersama PalmElit, kontribusi kedua komponen tersebut ternyata tidak sama. “Produksi minyak lebih dipengaruhi oleh TBS daripada OER,” kata Dadang.
Karena itu, upaya peningkatan produktivitas lebih diarahkan pada peningkatan TBS. Dalam penelitian yang dilakukan, terdapat dua karakter utama yang diamati, yaitu jumlah tandan dan berat tandan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara jumlah tandan dan produksi TBS sangat tinggi. Sebaliknya, berat tandan justru memiliki hubungan yang negatif dengan produktivitas.
“Hubungan antara jumlah tandan per pokok dengan TBS korelasinya sangat positif, yaitu 0,97. Kalau berat tandannya semakin besar, TBS-nya semakin kecil,” tambah Dadang.
Temuan tersebut mengubah pandangan umum bahwa tandan yang besar selalu menghasilkan produksi tinggi. Pada kenyataannya, produktivitas terbaik justru diperoleh dari tanaman yang menghasilkan tandan dalam jumlah banyak meskipun ukurannya relatif sedang. “Tanaman sawit dengan tandan banyak dan kecil itu high yield,” kata Dadang.
Hal ini juga terlihat pada pengamatan di kebun komersial dengan produktivitas tinggi. Dadang menjelaskan bahwa tanaman dengan produksi tinggi umumnya menghasilkan sekitar 20–23 tandan per pohon dengan berat tandan sekitar 11–12 kilogram. “Produksinya tinggi karena jumlah tandannya banyak, tetapi beratnya tidak terlalu besar,” jelasnya.
Socfindo kemudian mengembangkan kombinasi antara material Lame dan Yangambi. Lame dikenal memiliki jumlah tandan yang lebih banyak dan produksi yang lebih stabil, sedangkan Yangambi memiliki tandan lebih besar. Perbedaan karakter tersebut membuat kedua material direkomendasikan untuk ditanam secara bersamaan agar saling melengkapi.
Selain produktivitas, aspek ketahanan penyakit juga menjadi perhatian utama. Salah satu ancaman terbesar pada perkebunan sawit adalah penyakit Ganoderma yang dapat menyebabkan penurunan populasi tanaman dan kerugian ekonomi yang besar.
Dadang menjelaskan bahwa varietas MT Gano dikembangkan untuk memberikan toleransi yang lebih baik terhadap penyakit tersebut. “Penurunan produksi karena serangan Ganoderma pada MT Gano hanya sekitar 1,5 persen, sedangkan non-MTG mencapai 5,8 persen,” jelasnya.
Jika dihitung selama satu siklus tanam, perbedaan keuntungan yang dihasilkan sangat besar. “Selisih investasinya hanya sekitar 1,8 juta, tetapi perbedaan hasilnya bisa mencapai 840 juta rupiah per hektar per satu siklus,” kata Dadang.
Inovasi lain yang dikembangkan adalah Super Male (SM), yaitu bahan tanaman pelengkap yang menghasilkan bunga jantan dominan. Varietas ini dirancang untuk meningkatkan proses penyerbukan sehingga potensi genetik tanaman dapat dimaksimalkan. “Dengan menanam MTG dipadukan dengan Super Male masih bisa memaksimalkan potensi genetik yang kita tanam,” jelasnya.
Dalam sistem tersebut, sebanyak 12 pohon Super Male ditanam per hektare tanpa mengurangi populasi tanaman utama. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan Super Male mampu meningkatkan produksi sekitar 3,6–5 ton per hektare per tahun.
Pada akhir pemaparannya, Dadang kembali menegaskan bahwa keberlanjutan industri sawit tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga keberlanjutan ekonomi. “Sustainability: profit, planet, people,” kata Dadang.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Namun, profitabilitas menjadi fondasi utama yang memungkinkan keberlanjutan dapat berjalan. “Kunci dari keberlanjutan suatu usaha kelapa sawit adalah profit. Profit kuncinya adalah benih apa yang ditanam,” pungkas Dadang.
Dengan demikian, pemilihan benih bukan hanya keputusan teknis, tetapi juga keputusan investasi jangka panjang. Dari satu benih kecil, masa depan produktivitas, keuntungan, dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit ditentukan.

