Medan, mediaperkebunan.id – Penyakit Ganoderma masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlanjutan industri kelapa sawit nasional. Penyakit yang menyerang batang dan akar tanaman ini tidak hanya menyebabkan penurunan produktivitas, tetapi juga mampu memperpendek umur ekonomis tanaman hingga 50 persen.
Head of SSPL PT Socfin Indonesia sekaligus Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia, Indra Syahputra pada ajang SCOPEX 2026 di Medan menyebutkan bahwa sekitar 4,9 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan telah terinfeksi Ganoderma. Tingkat infeksi tertinggi berada di Sumatera dengan kisaran 39–52 persen, disusul Kalimantan sekitar 19 persen, Jawa sekitar 30 persen, Sulawesi sekitar 10 persen, dan Maluku-Papua sekitar 9 persen.
“Ganoderma dinilai menjadi ancaman serius karena dampaknya sangat besar terhadap produktivitas kebun karena dapat menurunkan hasil produksi kelapa sawit sebesar 50–80 persen. Selain itu, kepadatan tanaman atau density kebun juga mengalami penurunan drastis dari generasi ke generasi,” jelas Indra.
Mengacu pada Petterson, 2019, generasi pertama yang terkena ganoderma kehilangan populasi tanaman hanya sekitar 0–2 persen dalam satu siklus tanam. Namun pada generasi kedua meningkat menjadi 30–40 persen, dan pada generasi ketiga dapat melampaui 40 persen hanya dalam waktu 14–15 tahun.
Indra menjelaskan bahwa pola serangan Ganoderma antar generasi tanaman memiliki karakteristik berbeda. Pada generasi pertama dan ketiga, serangan umumnya muncul di akhir umur tanaman karena patogen masih memanfaatkan sisa kayu dan tunggul lama sehingga infeksi berlangsung lebih lambat. Sementara pada generasi kedua dan keempat, sumber makanan lama mulai berkurang dan patogen telah beradaptasi sehingga infeksi terjadi lebih cepat pada tanaman muda.
Karena itu, pengendalian Ganoderma tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan saja, yaitu Integrated Ganoderma Management atau pengendalian Ganoderma secara terpadu. Pendekatan tersebut meliputi sanitasi lahan, metode replanting yang tepat, pemantauan dini, penggunaan varietas toleran, perbaikan drainase, serta penggunaan agen hayati.
Salah satu pendekatan yang saat ini banyak dikembangkan adalah penggunaan bahan tanaman toleran Ganoderma. Pengendalian menggunakan tanaman toleran menjadi salah satu fokus penelitian dan pengembangan karena dinilai mampu menekan tingkat serangan penyakit di lapangan.
Socfindo sendiri telah mengembangkan penelitian ketahanan Ganoderma sejak lama. “Pada tahun 2001 dimulai kerja sama ilmiah antara Socfindo, Sum Bio, dan CIRAD untuk mengimplementasikan metode skrining dini di pembibitan guna menyeleksi kelapa sawit tahan Ganoderma dalam waktu lebih singkat,” ungkap Indra.
“Metode screening tersebut menggunakan beberapa calon famili yang tahan ganoderma kemudian kita create motode screening yang standard untuk menguji metode kita paakah betul konsisten. Kemudian telah ditemukan ranking resistensi terhadap ganoderma dengan ranking yang konsisten,” jelasnya lagi.

Penelitian tersebut kemudian berkembang melalui berbagai tahapan pengamatan, mulai dari parental garden dan seed garden sejak 1970-an, pengamatan genetic trial sejak 1975, hingga percobaan khusus Ganoderma di lapangan sejak tahun 2000. Berdasarkan pengamatan tersebut, dikembangkan early screening test di laboratorium pathology dan nursery untuk menemukan progeni yang diduga tahan terhadap Ganoderma.
“Proses seleksi dilakukan secara ketat dan konsisten melalui pengujian berbagai parameter, mulai dari gejala penyakit pada kecambah dan bibit, ukuran media tanam, waktu inkubasi, tahap inokulasi, hingga analisis statistik pengujian,” jelas Indra.
Socfindo juga telah mengembangkan bahan tanaman moderat tahan Ganoderma atau DxP Socfindo MT Gano. Varietas ini disebut sebagai salah satu bahan tanaman toleran Ganoderma pertama yang merupakan hasil screening dari ribuan varietas sejak tahun 2006.

Benih MTG lolos empat tahapan pengujian tersebut tanpa adanya indikasi kelemahan serius. Benih ini dihasilkan benar-benar berasal dari proses seleksi ketat mulai dari nursery hingga pengujian lapangan sejak 2001-2006.
Pola serangan dan kehilangan produksi akibat Ganoderma berubah dari satu generasi tanam ke generasi berikutnya di perkebunan kelapa sawit Socfindo, khususnya berdasarkan pengalaman di Kebun Tanah Gambus, Bangun Bandar, dan Matapao hingga generasi tanam keempat.

Grafik di atas menunjukkan bahwa tingkat kehilangan akibat Ganoderma tidak sama pada setiap generasi tanam. Ada empat garis yang mewakili generasi 1 sampai generasi 4. Semakin tinggi garisnya, semakin besar tingkat kehilangan tanaman akibat serangan Ganoderma.
Pada generasi pertama (garis hijau), kehilangan akibat Ganoderma relatif lambat dan rendah. Serangan baru meningkat pada umur tanaman yang lebih tua. Hal ini terjadi karena patogen Ganoderma pada awalnya masih memanfaatkan sisa kayu dan tunggul tanaman lama sebagai sumber makanan utama, sehingga infeksi ke tanaman baru berlangsung lebih lambat.
Kemudian pada generasi kedua (garis biru), pola serangan berubah menjadi lebih cepat. Serangan mulai muncul sejak umur tanaman masih muda dan tingkat kehilangan meningkat lebih tajam. Hal ini menunjukkan bahwa patogen mulai beradaptasi dengan lingkungan perkebunan sawit yang terus ditanam berulang.
Pada generasi ketiga (garis oranye), kehilangan tetap tinggi tetapi pola serangannya sedikit lebih lambat dibanding generasi kedua. Sedangkan pada generasi keempat (garis ungu), serangan Ganoderma menjadi paling agresif. Tingkat kehilangan meningkat sangat cepat sejak awal umur tanaman dan mencapai level tertinggi dibanding generasi sebelumnya.
Selain Socfindo, Indra mengungkap beberapa produsen benih lain di Indonesia juga telah mengembangkan benih toleran Ganoderma. “Total kapasitas produksi benih toleran Ganoderma nasional saat ini mencapai sekitar 17,5 juta benih per tahun dengan 10 varietas berbeda. Namun angka tersebut masih jauh dari kebutuhan nasional yang diperkirakan mencapai 136 juta benih per tahun untuk mendukung areal sawit sekitar 17 juta hektare,” ungkapnya.
Kolaborasi lintas pihak juga penting dalam menghadapi Ganoderma. Melalui Konsorsium Ganoderma Indonesia, berbagai pendekatan penelitian dan pengembangan terus didorong, mulai dari eksplorasi bahan tanaman baru, teknologi genetika inovatif, sistem deteksi penyakit, pengendalian hayati, pengembangan teknologi budidaya, hingga penyusunan kebijakan pengendalian penyakit tanaman.
Selain itu, konsorsium juga menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kesadaran petani dan pekebun mengenai Ganoderma melalui kegiatan penyuluhan, penyusunan panduan praktis pengendalian Ganoderma, hingga pengembangan teknologi dan manajemen terpadu di lapangan.

