Cibinong, mediaperkebunan.id – Sepintas Scirpophaga Excerptalis terdengar seperti mama yang keren, walau sesungguhnya ini adalah hama penggerek pucuk tebu yang sangat ditakuti sekaligus dibenci oleh para petani, termasuk di Indonesia.
Nurindah selaku peneliti ahli utama (PAU) di Pusat Riset Tanaman Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan hama penggerek pucuk tebu (Scirpophaga Excerptalis) merupakan sejenis hama yang bisa mengakibatkan kerugian signifikan pada perkebunan tebu di Indonesia. “Serangan hama ini dapat menurunkan produksi tebu hingga 30 persen sampai 80 persen,” ujar Nurindah dalam diskusi EstCrops_Corner#12: “Serangga dalam Agroekosisten Tanaman Perkebunan” yang digelar BRIN belum lama ini.
Selain itu, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi BRIN, Selasa (1/4/2025), Nurindah mengatakan, hama penggerek pucuk tebu itu juga bisa mengakibatkan penurunan kualitas nira yang berdampak langsung pada rendemen gula tebu. “Tantangan utama dalam pengendalian penggerek pucuk tebu terletak pada perilaku infestasi larva yang sangat cepat masuk ke dalam jaringan tanaman,” kata Nurindah. Nurindah menjelaskan, setelah telur menetas, larva neonate segera bergerak menuju pucuk tanaman dan masuk ke dalam jaringan, memberikan “jendela kerentanan” yang sangat sempit bagi upaya pengendalian. “Begitu larva memasuki jaringan tanaman, pengendalian menjadi sangat sulit dilakukan,” beber Nurindah dalam diskusi tersebut.
Sebelumnya Nurindah juga menjelaskan bahwa sejatinya tanaman tebu punya banyak musuh alami, yang mencakup parasitoid telur yang terdiri dari Telenomus spp, Trichogramma spp., dan Tetrastichus spp.
Selanjutnya, kata Nurindah, ada lagi musuh tebu yang dikenal sebagai parasitoid larva-pupa yang terdiri dari Rhaconotus sp., Isotima sp., dan Stenobracon sp., serta predator umum terutama dari kelompok semut Formicidae.
Nurindah menjelaskan bahwa parasitoid telur Telenomus menunjukkan potensi luar biasa dengan tingkat parasitisasi mencapai 72-100 persen di beberapa lokasi. Serangga parasitoid ini berperan sangat penting sebagai agen pengendalian hayati karena menyerang hama pada tahap awal siklus hidup, mencegah terjadinya kerusakan tanaman. “Parasitoid larva seperti Isotima sp. juga mampu memberikan tingkat parasitisasi hingga 50 persen,” tutur Nurindah lebih lanjut.
Predator umum seperti semut memiliki peran strategis dalam memangsa telur dan larva neonate sebelum hama tersebut masuk ke dalam jaringan tanaman. “Meskipun belum ada data kuantitatif mengenai daya pemangsaan semut terhadap penggerek pucuk tebu, interaksi “handling time” versus “window of vulnerability” menjadi faktor kunci efektivitas predator ini,” pungkas Nurindah.

