Pangkalan Bun, mediaperkebunan.id – Industri kelapa sawit kembali ditegaskan sebagai sektor strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Dalam keynote speech pada TKS 2026 Pangkalan Bun, Prof. Dr. Bungaran Saragih, M.Ec., memaparkan bagaimana sawit berperan sebagai penyangga ekonomi nasional, terutama saat menghadapi berbagai krisis besar.
Prof. Bungaran membuka paparannya dengan refleksi terhadap tiga krisis besar yang pernah dialami Indonesia, yaitu krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, serta krisis pandemi COVID-19 pada 2020–2021. Ia menjelaskan bahwa setiap krisis membawa tekanan berat seperti pelemahan nilai tukar, meningkatnya pengangguran, serta lonjakan kemiskinan. Namun di tengah kondisi tersebut, sektor sawit justru menunjukkan ketahanan yang konsisten. “Dalam tiga dekade terakhir, Indonesia telah mengalami tiga krisis besar yang mengguncang fondasi ekonomi nasional,” ujar Prof. Bungaran pada hari Selasa (28/04/2026) yang dalam hal ini diwakili oleh Dr. Gusti Artama Gultom selaku asisten.
Ia menegaskan bahwa di tengah berbagai tekanan ekonomi, sawit selalu hadir sebagai sektor yang mampu menjaga stabilitas. “Ada satu sektor yang secara konsisten hadir sebagai penyangga, bahkan penyelamat ekonomi nasional di masa krisis—yaitu sektor kelapa sawit,” jelas Prof. Bungaran.
Pada krisis 1998, ketika nilai tukar rupiah anjlok tajam, sektor sawit justru memperoleh keuntungan dari sisi ekspor. Daya saing produk sawit meningkat dan menjadi salah satu sumber utama devisa negara. Hal ini menunjukkan bahwa sawit memiliki ketahanan yang unik dibandingkan sektor lain.
Memasuki krisis global 2008, kondisi ekonomi dunia kembali melemah. Namun sektor sawit tetap relatif stabil karena didukung oleh diversifikasi produk yang luas, mulai dari pangan, oleokimia, hingga energi. “Struktur permintaan yang terdiversifikasi membuat sektor sawit tetap resilien dibandingkan sektor lainnya,” kata Prof. Bungaran.
Pada krisis pandemi COVID-19, ketika banyak sektor mengalami perlambatan bahkan berhenti total, industri sawit tetap berjalan. Aktivitas dari hulu hingga hilir masih berlangsung meskipun dengan berbagai penyesuaian. “Karakteristik sawit sebagai komoditas esensial membuat permintaannya tetap terjaga meskipun dalam tekanan,” ujar Prof. Bungaran.
Lebih lanjut, Prof. Bungaran menjelaskan beberapa faktor utama yang membuat sawit mampu menjadi stabilisator ekonomi nasional. Salah satunya adalah basis sektor sawit yang sangat luas dan melibatkan jutaan tenaga kerja. “Sektor sawit memiliki keterlibatan sosial-ekonomi yang sangat luas, dengan lebih dari 16 juta tenaga kerja,” jelas Prof. Bungaran.
Selain itu, sawit memiliki rantai nilai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari budidaya di kebun, pengolahan di pabrik, hingga produk turunan seperti minyak goreng, biodiesel, dan oleokimia. Integrasi ini menciptakan efek pengganda yang besar terhadap perekonomian.
Faktor lain yang memperkuat posisi sawit adalah pasar global yang luas dan beragam. Produk sawit digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari kebutuhan pangan hingga energi. Diversifikasi ini membuat permintaan terhadap sawit cenderung stabil dibandingkan komoditas lain.
Peran sawit sebagai penyumbang devisa terbesar non-migas juga menjadi poin penting. Dalam kondisi krisis, devisa sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan neraca perdagangan. Selain itu, sifat tanaman sawit sebagai tanaman tahunan membuat produksinya relatif stabil dan tidak mudah terhenti.
Prof. Bungaran juga menyoroti bahwa sektor sawit didukung oleh sumber daya domestik, baik dari sisi lahan maupun tenaga kerja. Kondisi ini memberikan keunggulan kompetitif, terutama saat terjadi fluktuasi nilai tukar.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa sektor strategis ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi kebijakan. Regulasi yang berubah-ubah, kebijakan yang terfragmentasi, serta tekanan internasional menjadi hambatan dalam pengembangan industri sawit.
Ia menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam pengelolaan sawit ke depan. “Sawit bukan sekadar komoditas, sawit adalah instrumen stabilisasi ekonomi nasional,” tegas Prof. Bungaran.
Dalam arah kebijakan ke depan, Prof. Bungaran menekankan bahwa sawit harus diperlakukan sebagai aset strategis nasional. Selain itu, diperlukan tata kelola yang terintegrasi dari hulu ke hilir, penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah, serta perlindungan dan pemberdayaan petani sebagai fondasi utama sektor ini.
Ia juga menyoroti pentingnya menghadapi tekanan global dengan strategi yang cerdas dan tidak defensif. Sawit Indonesia harus mampu menjadi bagian dari solusi global, baik dalam penyediaan pangan, energi, maupun dalam menghadapi perubahan iklim.
Sebagai penutup, Prof. Bungaran kembali menegaskan peran penting sawit dalam perjalanan ekonomi Indonesia. “Dalam setiap krisis, ketika banyak sektor goyah, sawit tetap berdiri tegak,” pungkas Prof. Bungaran.
Melalui pemaparan ini, terlihat jelas bahwa kelapa sawit bukan hanya komoditas ekspor, tetapi juga fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.

