20 June, 2020

Jakarta, Mediaperkebunan.id –

Kalimantan Tengah merupakan provinsi ke 2 terbesar di Indonesia setelah Papua dengan luas 15,3 juta ha. Sektor andalan adalah perkebunan, terutama kelapa sawit dan karet dan sekarang gubernur mengembangkan kopi, kakao dan kelapa dalam. Pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian lewat Ditjen Perkebunan banyak sekali membantu pembangunan perkebunan di Kalteng. Rawing Rambang, Kepala Dinas Perkebunan,Kalteng menyatakan hal ini pada Mediaperkebunan.id.

Sawit adalah komoditas yang paling dominan dengan luas 1,504 juta ha sedang petani plasma 214.000 ha dan petani swadaya 151.000 ha. Sawit sangat menentukan ekonomi Kalteng. Komoditas kedua terluas adalah karet 450.000 ha tetapi harganya sangat fluktuatif. Pada masa pandemi covid-19 ini harganya turun sekali sehingga banyak petani yang berhenti menyadap. Karet bukan barang primer sehingga sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi.

Sedang sawit merupakan barang primer sehingga tetap survive pada masa pandemi. “Saat ini tidak ada satupun perusahaan perkebunan kelapa sawit yang melakukan PHK. Di Kalteng hanya sawit yang tetap bertahan, ini komoditas yang luar biasa bagi Kalteng,” katanya.

Sawit di Kalteng pertama kali ditanam tahun 1992 oleh perusahaan perkebunan Indotruba milik Yayasan Angkatan Darat. Saat ini ada 150 perusahaan dengan luas 1,7 juta ha. Data Kepmentan nomor 833 tahun 2019 luas tutupan sawit Kalteng 1.778.702 ha. Jumlah PKS 106 dengan kapasitas 7005 ton/jam.

Sawit adalah satu-satunya komoditas yang pengembangannya tetap berjalan meskipun sedang Covid-19. PSR dengan dana BPDPKS saat ini sedang berjalan di Kabupaten Kotawaringain Timur,Kotawaringin Barat dan Seruyan. “Kita berterimakasih dengan dana PSR BPDPKS ini sehingga peremajaan masih berjalan. Komoditas lain yang pengembangannya menggunakan dana pemerintah berhenti semua karena anggarannya dialihkan untuk Covid,” katanya.

Daerah di Kalimantan Tengah yang ekonominya tumbuh dengan pesat adalah bagian barat yang terdiri dari Kotim, Kobar, Seruyan, Sukamara dan Lamandau. Wilayah ini 70% terdiri dari kebun kelapa sawit. Kobar, Kotim, Seruyan punya bandara sendiri. Di Kotim dan Kobar juga ada mall.Pertumbuhan ekonomi di sini tumbuh sangat significant. Bandingkan dengan wilayah tengah yaitu Palangkaraya, Katingan dan Gunung Mas juga wilayah Timur yaitu Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur yang didominasi karet dan ada kakao dan kopi maka pertumbuhan ekonominya sangat berbeda.

“Peranan sawit sangat besar dan luar biasa bagi Kalteng. Bandara-bandara tidak akan hidup kalau tidak ada sawit. Bagi kita protes dari luar soal sawit yang terlalu ekspansif dan lain-lain adalah persaingan dagang saja. Kalau perusahaan itu sudah bersertifikat ISPO maka dia sudah beroperasi sesuai regulasi jadi tidak ada masalah,” katanya.

Kalau berbicara masalah dan kendala, banyak sekali dan tidak akan ada habis-habisnya. Tetapi keuntungannya terhadap perekonomian daerah sudah terbukti sangat nyata. Karena itu Rawing minta pemerintah pusat baik Ditjenbun dan BPDPKS terus mendorong pengembangan sawit.Sebagai putra daerah yang telah merasakan luar biasa dampak komoditi perkebunan terhadap pembangunan kalteng sehingga untuk lebih memajukan sektor ini perlu perhatian khusus dari pemimpin mendatang.

Saat ini kendala pengembangan sawit rakyat adalah lahan. Hanya 18% lahan Kalteng yang APL sisanya masuk dalam kawasan hutan. KLHK diminta memperhatikan keinginan Kalteng untuk penyediaan lahan sawit dengan melepas kawasan hutan.

(Visited 155 times, 1 visits today)