Jakarta, Mediaperkebunan.id- Penurunan produksi kelapa ditambah dengan bebasnya ekspor kelapa segar bukan hanya memukul industri tetapi juga rumah tangga. Harga kelapa yang naik memukul daya beli masyarakat, baik di perdesaan maupun perkotaan.
Hal ini tentu tidak lepas dari semakin berkurangnya pasokan buah kelapa untuk konsumsi rumah tangga yang berdampak pada kenaikan harga buah kelapa butiran secara signifikan. Hal ini disampaikan beberapa pengurus HIPKI (Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia) yang terdiri dari Rudy Hadiwidjaja (Ketua Harian), Dippos Naloandro Simanjuntak (Wakil Ketua), Amrizal Idrus (Wakil Sekjen), Michael Darwis, Ketua bidang Briket arang,karbon aktif, Erwanda (bidang briket arang, karbon aktif) , Yana.
Maraknya ekspor kelapa bulat, mengurangi pasokan untuk pasar dalam negeri. Sehingga hukum penawaran permintaan berlaku: harga kelapa melonjak tajam di Indonesia! Hal ini berdampak langsung ke pasar tradisional, tempat berbelanja kelapa ibu rumah tangga dan pelaku industri kecil menengah (warung makan, catering, pembuat kue, dan sebagainya).
Saat ini harga kelapa butir naik signifikan di seluruh wilayah Indonesia. Di Pasar Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, harga kelapa parut melonjak tajam. Biasanya 1 butir berkisar Rp 6 ribu, kini naik hingga Rp 8 ribu. Demikian juga untuk 1 butir kelapa peras santan, paling murah kini di harga Rp 10 ribu.
Untuk Pasar Jaya, di Rawa Badak, Jakarta Utara harga kelapa melejit. Harga kelapa yang tadinya berkisar Rp 6.000 – 8.000 per butir, kini menjadi Rp 12.000 – 14.000. Sedang harga santan peras melonjak hingga Rp 25.000 per kg.
Ibu rumah tangga dan UMKM tentu mengeluhkan kondisi ini, karena pohon kelapa terlihat di sekitarnya, namun harganya tak terkendali. Kenaikan harga kelapa bulat, telah memicu inflasi dan berdampak langsung kepada daya beli. Masyarakat dan pelaku usaha UMKM adalah yang paling banyak mengkonsumsi kelapa, tapi kini terkendala dengan harga tinggi.
Berdasarkan asumsi perhitungan HIPKI dengan kenaikan harga kelapa yang semula berkisar Rp6.000 – Rp8.000 menjadi Rp12.000 – Rp14.000 per butir akan menyebabkan inflasi sebesar Rp10,8 Triliun. Jika terus dibiarkan, hal ini akan berdampak pada konsumsi domestik (domestic consumption) atas kelapa di Indonesia.

