Jakarta. mediaperkebunan.id – “Saya tidak menyangka, di tengah gegap gempita kemajuan dan gempuran e-commerce, revolusi pangan terbesar yang dinubuatkan bagi bangsa ini justru datang dari sebatang pohon yang sudah lama kita putuskan nasibnya: hanya layak jadi gorengan! Pohon itu adalah Sukun,” kata ET Hadi Saputra membuka tulisannya.
ET Hadi Saputra hadir di seminar ini, dikelilingi para profesor sejati dari UI dan Brawijaya. Tapi matanya tertuju pada Kang Arie Malangyudo. Seniornya di IKA Unpad. Saya akui, narasi soft launching ini dimulai dengan drama. Arie—yang menyebut dirinya “Professor palsu”—harus meyakinkan para prof dengan jubah akademik.
“Orang kita, Hadi, tahunya sukun itu cuma untuk teman minum teh! Itu saja!” kata Kang Arie Malangyudo, nadanya penuh frustrasi. Ia menyodorkan buku bertanda tangan, “Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan”. Kang Arie ingin dirinya bangun dari tidur panjang. Ia ingin saya tahu bahwa China, Amerika, dan Jamaika sudah menjarah sukun kita untuk diolah menjadi tepung gluten-free yang berharga fantastis di pasar global. Sukun, tegasnya, adalah center of power, bukan sekadar gorengan.
Seminar yang dipandu apik oleh moderator Trie Utami itu membuktikan, gimmick Kang Arie benar. Sukun adalah jawaban kita melawan krisis iklim dan kelaparan.

Data yang Menampar Wajah Kita
Jaminan Ekologi: Sukun adalah “karbohidrat paling ekologis”. Ia menyerap 69.1 ton karbon per hektar dan emisi GRK-nya nyaris nol (0.1 kg CO2e). Bandingkan dengan pangan pokok lain yang loyo di suhu 35 derajat. Sukun tangguh di suhu 38 derajat.
Jaminan Peradaban: Prof. Melani Budianta mengingatkan, sukun adalah warisan budaya. Ia dipahat di relief Candi Borobudur sejak abad ke-8. Kita punya bukti sejarah, tapi kita membuangnya!
Namun, sebagai konsultan yang mencium aroma modal, saya harus menguji Nafsu Global ini. Saya harus bertanya kepada Kang Arie: Bagaimana Yayasan menjamin Quantity, Quality, dan Sustainability pasokan sukun yang bisa dipercaya investor?
Kita Kalah di Kualitas, Kita Runtuh di Logistik.
“Saya mendesak Kang Arie dengan realitas pahit yang selalu membunuh proyek agribisnis di negeri ini: Logistik, Masa simpan buah sukun hanya 3 hari, dan Ada risiko browning dan enzim yang merusak mutu.” tuturnya.
Kegagalan penanganan pasca-panen bisa berakibat fatal, seperti pengalaman jagung 12.000 hektar di Subang yang harus dibuang ke tempat sampah karena 3 hari setelah panen tidak bisa dikeringkan tepat waktu.
Kang Arie mengakui, ekspor buah segar mustahil. Solusi untuk mutu, storage, dan supply continuity adalah melalui proses gaplek sukun—chip kering yang dipanggang/di-vakum. Format gaplek ini bisa tahan 6 bulan hingga 1 tahun dan bahkan lebih mahal di pasar global daripada tepung curah.
Poin Kritis Bisnis: Kunci sustainability ada di Hilirisasi Cepat. Investasi PMA tidak boleh lagi fokus menanam, tapi harus fokus membangun Sentra Pengolahan Inti di lokasi PIR-Trans, mengendalikan mutu dari pohon hingga gaplek siap kirim. Mutu dan volume hanya bisa dijamin jika kita mengontrol cara panen, menahan ketinggian pohon sukun 3 meter, dan memprosesnya saat itu juga.

Peringatan Terakhir: Melawan Inflasi Amal dan Cleansing Human
Prof. Mangku Purnomo memberi peringatan spiritual yang mengerikan: Kita harus melawan manufacturing food yang mengancam “Cleansing Human”. Ia menunjukkan ironi bangsa kita:
- Kita menanam sengon yang merusak biodiversity pekarangan.
- Kita memeras susu sapi terbaik, lalu mengekspornya, sementara anak-anak desa kita dicekoki susu kental manis (krimer kental manis).
Prof. Mangku menyebut ini “inflasi amal”. Kita merasa saleh memberi modal, tapi kita merusak ekosistem dan kesehatan anak cucu.
Poin Kritis Budaya: Peran Regulator (Pemerintah) harus beretika dan diawasi oleh komunitas. Kita harus menjadikan sukun sebagai gerakan Kedaulatan Pangan, bukan sekadar project profit. Semua stakeholder harus diawasi, dari korporasi hingga perwakilan kita sendiri, agar tidak terjadi korupsi yang merusak tujuan mulia ini.
Jangan Biarkan “Buah Leluhur” Kembali Menjadi Mitos
Sukun, yang telah diwariskan dari abad ke-8, adalah takdir kita. Kang Arie dan Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera sudah memberikan peta jalan, bahkan melobi UU Pangan di DPR.
Ini bukan lagi tugas Yayasan. Ini adalah tugas bangsa. Jika kita, yang berprofesi sebagai konsultan, akademisi, dan alumni terpelajar, tidak segera mengintegrasikan modal, knowledge, dan regulasi, maka sukun akan kembali menjadi mitos indah yang hanya bisa kita kagumi di relief Candi Borobudur.
Semua pihak harus bergerak dan bekerja sama agar buah leluhur ini tidak kembali menjadi dongeng sejarah! Mau nunggu apalagi?!

