Pangkalan Bun, mediaperkebunan.id – Rendemen kelapa sawit menjadi indikator utama dalam menentukan keuntungan industri sawit, baik di tingkat kebun maupun pabrik. Dalam acara TKS 2026 Pangkalan Bun, Ir. Posma Sinurat, MT, praktisi P3PI, memaparkan secara mendalam tentang penyebab rendahnya rendemen serta solusi strategis yang dapat diterapkan secara terintegrasi.
Dalam pemaparannya, Posma menegaskan bahwa rendemen bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari keseluruhan proses produksi. Oleh karena itu, setiap penurunan rendemen akan berdampak langsung terhadap kinerja finansial perusahaan.
Namun, ketika rendemen menurun, sering kali muncul konflik antar pihak. Saat rendemen turun, yang sering muncul pertama adalah saling menyalahkan,” ujar Posma pada hari Rabu (29/04/2026). Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak pelaku industri yang belum memahami akar masalah secara menyeluruh.
Ia juga menyoroti bahwa manajemen kerap hanya fokus pada hasil akhir tanpa memahami sumber kehilangan. “Manajemen sering hanya melihat angka akhir, bukan sumber kehilangan. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama lambatnya perbaikan dalam sistem produksi,” tambahnya.
Secara definisi, Posma menjelaskan bahwa Rendemen adalah persentase minyak yang berhasil dipisahkan dari potensi minyak yang ada dalam setiap ton buah yang diolah menjadi CPO. Rendemen sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yaitu rendemen kebun, rendemen pabrik, dan rendemen bersama.
Pada sisi kebun, tantangan utama terletak pada bagaimana memaksimalkan kandungan minyak dalam buah serta memastikan seluruh berondolan dapat sampai ke pabrik. Ia menekankan pentingnya dua aktivitas utama, yaitu panen berkualitas dan sistem pengangkutan yang efisien.
Posma mengidentifikasi titik-titik kritis kehilangan (losses) di kebun yang sering diabaikan, seperti berondolan yang tertinggal di piringan, tercecer di jalan, hingga yang masih tertinggal di truk. Ia menegaskan bahwa titik-titik ini sangat berpengaruh terhadap rendemen, terutama terkait jumlah berondolan dan kualitas buah.
Selain itu, faktor buah mentah juga menjadi penyebab utama rendahnya rendemen. Dalam materinya disebutkan bahwa buah mentah memiliki kontribusi nol terhadap rendemen, sehingga pengendalian kualitas panen menjadi sangat krusial.
Sementara itu, di sisi pabrik, tantangan utama adalah memastikan proses pengolahan berjalan optimal. Posma menjelaskan bahwa Memastikan minyak dipisahkan secara optimum menjadi kunci utama dalam meningkatkan rendemen.
Ia juga mengidentifikasi beberapa titik losses di pabrik, seperti minyak yang hilang pada fiber, nut, hingga limbah cair (final effluent). Bahkan, disebutkan bahwa oil loss pada empty fruit bunch (EFB) bisa mencapai 1,10–1,80%, yang merupakan angka signifikan jika tidak dikendalikan.
Posma menegaskan bahwa persoalan rendemen bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Ia menyampaikan bahwa baik kebun maupun pabrik memiliki peran yang sama penting dalam menentukan hasil akhir.
Untuk mengatasi masalah ini, Posma menawarkan dua pendekatan solusi. Tahap pertama adalah solusi jangka pendek dengan melakukan identifikasi cepat terhadap akar masalah. “Identifikasi akar masalah secara cepat dan tetapkan tindakan korektif yang terukur,” kata Posma.
Langkah ini meliputi identifikasi faktor yang dapat dikendalikan (controllable), serta analisis detail pada titik-titik losses baik di kebun maupun pabrik. Total terdapat 11 titik kritis yang perlu diperhatikan secara serius.
Tahap kedua adalah solusi jangka panjang melalui penerapan konsep sistematis dan berkelanjutan. Posma memperkenalkan konsep Q-PS (Quality People and System), yang menekankan pentingnya kualitas manusia dan sistem dalam mencapai produktivitas optimal.
Dalam kesimpulannya, Posma menyampaikan pernyataan yang sangat kuat, “Rendemen tidak pernah turun di atas kertas. Rendemen turun di lapangan (kebun dan pabrik).” Ia menambahkan bahwa penurunan tersebut terjadi pada titik losses yang dibiarkan, manusia yang belum dibina, serta sistem yang belum dijalankan dengan baik.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya peran manusia dalam sistem produksi. “Perbaiki manusianya, maka manusia itu akan memperbaiki sistem dan sistem itu akan memberikan hasil yang optimum.” Pernyataan ini menekankan bahwa transformasi sumber daya manusia menjadi kunci utama keberhasilan.
Sebagai penutup, Posma mengingatkan bahwa produktivitas bukan hanya soal mesin atau teknologi, tetapi juga tentang kepemimpinan dan disiplin dalam menjalankan sistem. Ia menyatakan, “Produktivitas (rendemen) bukan sekadar hasil mesin dan angka laporan, tetapi cerminan langsung dari kualitas sistem yang dijalankan dan kualitas tim yang bekerja,” pungkas Posma.
Dengan pendekatan terintegrasi antara kebun dan pabrik, serta fokus pada perbaikan berkelanjutan, peningkatan rendemen bukanlah hal yang mustahil. Materi ini menjadi panduan penting bagi pelaku industri sawit untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing secara berkelanjutan.

