Pekanbaru, mediaperkebunan.id – Ratusan pekebun dari dua kabupaten di Provinsi Riau menikmati pelatihan sawit gelombang 5 yang dilaksanakan oleh PT Best Planters Indonesia (BPI), Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian (Kementan).
Dua kabupaten dimaksud, seperti keterangan resmi yang diterima Mediaperkebunan.id, Selasa (22/7/2025), adalah Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) yang terkenal dengan olahraga pacu jalur sungai.
Petani sawit yang menjadi peserta pelatihan dari Kabupaten Bengkalis sebanyak 88 orang, sementara dari Kuansing 27 orang. Mereka semua dibagi ke dalam 4 angkatan, masing-masing sekitar 30 orang per angkatan dan digelar dalam dua hotel yang berbeda di Pekanbaru ibukota Provinsi Riau.
Pelatihan gelombang 5 BPI ini diselenggarakan tanggal 8-12 Juli 2025 dan dibuka oleh Kepada Dinas Propinsi Riau Dr Syahrial Abdi AP MSi, serta dihadiri sejumlah tokoh yang berkompeten.
Seperti Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis Mohammad Azmir, SHut M Sc, Kepala Dinas Perkebunan & Peternakan Kabupaten Kuansing yang diwakili Raja Rafli, SP dan Direktur Operasional PT BPI, Friyandito SP MM.
Syahrial dalam sambutannya menekankan bahwa pekebun sawit adalah penopang ekonomi Riau. Oleh karenanya jangan sia-sia kan kesempatan dan ikuti pelatihan ini dengan baik dan penuh semangat agar bertambah pengetahuan dan wawasan petani.
“Kontribusi dana pungutan ekspor harus kembali sebaik-baiknya untuk kemanfaatan pekebun yang salah satunya adalah program pelatihan SDM ini dalam rangka meningkatkan produktifitas pekebun sawit,” kata Syahrial Abdi.
Founder BPI Ir. Heri DB MM saat berlangsung pelatihan menyampaikan bahwa pelatihan kolaborasi BPDP-DITJENBUN-BPI ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pekebun dalam mengelola kebunnya.
Dengan demikian, kata dia, produktifitas diharapkan terus meningkat dan dapat mendekati produktifitas kebun – kebun perusahaan swasta yang saat ini sudah mampu menghasilkan diatas 30 ton tandan buah segar (TBS) per hektar (Ha) per tahun.
“Dengan tercapainya produktifitas sesuai potensi tanaman pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit dan seluruh stake holder terkait, sebagai akibat efek domino ekonomi sawit yang tercipta khususnya di wilayah terdampak,” kata Heri DB menjelaskan.
Sebagai informasi, dalam kolaborasi ini BPDP mengambil peran dalam menyediakan pendanaan, sementara Ditjenbun yang menyusun modul standar pelatihan dan melakukan seleksi peserta.Dan BPI sebagai lembaga pelatihan sawit yang menyelenggarakan sesuai ketentuan yang sudah diatur dalam berbagai peraturan yang diterbitkan oleh BPDP dan Ditjenbun.
BPI sendiri menurunkan para narasumber yang pada umumnya merupakan praktisi yang berpengalaman dari perusahaan besar sehingga diharapkan bisa menjawab semua persoalan yang dialami para pekebun sawit di lapangan.
Dalam melengkapi modul pelatihan sawit, dimana peserta diwajibkan melakukan kunjungan lapang, maka BPI berupaya memilihkan lokasi kunjungan lapang yang menginspirasi, yaitu perusahaan besar yang menerapkan best management practices (BMP) dengan pencapaian produktifitas yang tinggi dan juga operasi yang pencapaian produktifitasnya tinggi.
Untuk pelatihan yang sudah berlangsung bulan Juli 2025 di propinsi Riau (gelombang 4 & 5), lokasi sebagai tempat kunjungan lapang adalah salah satu kebun dari First Resources Group yang produktifitasnya mencapai di atas 30 ton TBS per ha per tahun.
Selanjutnya untuk koperasi dipilih Koperasi Gunung Sari yang produktifitas tanamannya mencapai 28 ton TBS per ha per tahun dengan tata kelola kebun yang bisa dijadikan contoh. Sedangkan untuk pelatihan gelombang 6 dan 7 yang akan diselenggarakan pada minggu 1-2 Agustus 2025, BPI memilihkan lokasi kunjungan lapang kepada 2 perusahaan besar.Yaitu salah satu dari kebun PT.
Minamas Plantations dan PT Astra Agro Lestari yang keduanya berada di kabupaten Siak, sehingga tidak terlalu jauh dari lokasi pelatihan di Pekanbaru.
“Semua program pelatihan sawit BPI di propinsi Riau dengan peserta pekebun sawit asal Bengkalis, Kuantan Singingi, Rokan Hulu dan Rokan Hilir yang jumlahnya mencapai 526 peserta diharapkan sudah selesai maksimal pada minggu ke-3 Agustus 2025,” demikian Heri DB menutup pembicaraanya.

