Palembang, mediaperkebunan.id – Peningkatan produktivitas kelapa sawit tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan mesin, tetapi juga harus dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia dan sistem kerja yang diterapkan di kebun maupun pabrik. Hal ini disampaikan oleh Ir. Posma Sinurat, MT, praktisi p3pi dalam pemaparan materi “The Q-PS Model” pada acara Pertemuan Teknis Kebun–Pabrik Kelapa Sawit berjudul Kiat Sukses Meningkatkan Produktivitas Sawit.
Menurut Posma, Q-PS Model merupakan konsep dasar yang terstruktur dengan menempatkan Quality People dan Quality System sebagai fondasi utama pencapaian target perusahaan.
“Q-PS adalah singkatan dari Quality People and System. Jika dua aspek ini sudah berkualitas, maka kualitas akan menular ke seluruh aspek operasional kebun dan pabrik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kegagalan dalam membangun produktivitas umumnya bersumber dari lemahnya salah satu pilar tersebut. “Jika manusianya tidak berkualitas, maka sistem tidak akan berjalan. Sebaliknya, jika sistemnya sudah baik, maka manusia di dalamnya harus mengikuti dan disiplin terhadap sistem itu,” tutur Posma.
Dalam konsep Quality People pada Q-PA model, Posma menjelaskan pentingnya standar kompetensi yang jelas, khususnya pada level operasional seperti mandor. Ia memperkenalkan kerangka AKSD (Attitude, Knowledge, Skill, Desire) sebagai prasyarat utama bagi individu untuk dapat memimpin dirinya sendiri.
“AKSD ini harus menjadi standar perusahaan. Sikap, pengetahuan, keterampilan, dan kemauan adalah fondasi dasar sebelum seseorang diberi tanggung jawab memimpin,” jelasnya. Setelah mampu memimpin diri sendiri, barulah seseorang dapat naik ke tahap berikutnya, yaitu memimpin orang lain.
Untuk memimpin orang lain, dibutuhkan empat kemampuan utama yaitu manajemen dan kepemimpinan (leadership), komunikasi (communication), dan kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving). Dalam aspek manajemen, Posma menggarisbawahi penerapan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) sebagai proses sistematis untuk mencapai target yang telah ditetapkan perusahaan.
Sementara dalam kepemimpinan, ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin perlu memahami berbagai gaya kepemimpinan, mulai dari birokratik, otokratik, laissez faire, hingga demokratik, yang harus diterapkan secara situasional.
“Leadership adalah seni mempengaruhi orang lain untuk mencapai target,” ujarnya.
Posma menyebutkan bahwa fungsi kepemimpinan mencakup influence, building commitment, motivate, dan change. Seorang pemimpin harus memiliki keberanian, kemampuan komunikasi yang baik, serta keterampilan dalam menyelesaikan masalah (problem solving).
Dalam pemaparannya, Posma menekankan pentingnya komunikasi yang bertanggung jawab di lingkungan kebun dan pabrik. Ia mengingatkan bahwa komunikasi harus mengikuti siklus KPK (Komunikator–Pesan–Komunikan) agar tidak menimbulkan salah paham yang berpotensi mengganggu kinerja.
“Jika komunikasi tidak mengikuti siklus KPK dengan benar, maka sangat rentan terjadi miskomunikasi di lapangan,” katanya.
Selain Quality People, Posma juga mengulas pentingnya Quality System yang mencakup keseluruhan proses IPO (Input–Process–Output). Menurutnya, sistem yang berkualitas tidak hanya bicara soal hasil akhir tetapi dimulai dari kualitas input yang masuk ke dalam proses produksi.
“Di pabrik kelapa sawit, input tidak hanya TBS. Mesin, metode kerja, SOP, dan Work Instruction (WI) juga merupakan input yang harus berkualitas,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa output yang baik tidak akan tercapai jika input dan proses tidak dikendalikan dengan standar yang jelas.
Oleh karena itu, Posma menekankan pentingnya disiplin terhadap SOP dan WI sebagai bagian tak terpisahkan dari Quality System. “Sistem yang baik akan memandu manusia bekerja dengan benar dan konsisten,” ujarnya.
The Q-PS Model sangat relevan untuk menjawab tantangan industri sawit saat ini, baik di kebun maupun di pabrik. Dengan menyeimbangkan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sistem kerja, perusahaan sawit diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
“Produktivitas bukan hanya soal angka produksi, tetapi tentang bagaimana manusia dan sistem saling menguatkan untuk mencapai target perusahaan,” pungkasnya.

