Bogor, mediaperkebunan.id – Luas areal karet semakin menurun, perkebunan rakyat dari 3.368.186 ha tahun 2020 menjadi 2.849.900 ha tahun 2024, PTPN dari 132.882 ha tahun 2020 menjadi 123.300 ha tahun 2024, swasta dari 225.105 ha tahun 2020 menjadi 176.100 ha. . Lina Fatayati Syarifa dari Pusat Penelitian Karet Indonesia/PT Riset Perkebunan Nusantara menyatakan hal ini.
Total luas kebun karet dari 3.726.173 ha tahun 2020 menjadi 3.149.300 ha tahun 2024. Penurunan luas kebun karet total 4,12%/tahun, rakyat 4,09%, PTPN 1,85%, swasta 5,95%. Faktornya adalah konversi karet ke komoditas lain yang lebih prospektif, turunnya intensitas penyadapan dan serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis.
Tahun 2006 industri karet beroperasi pada utilitas 90% sedang tahun 2025 makin turun tinggal 45%. Kelangkaan bahan baku semakin akut dan mendorong perusahaan mengimpor cup lump atau menutup pabrik.
Ekspor tahun 2017 3.276.900 ton sedang impor 29.773 ton , tahun 2024 ekspor 1.664.700 ton sedang impor 133.697 ton. Ekspor turun 10,7%/tahun sedang impor tumbuh 28,4%/tahun .
Produktivitas karet Indonesia tahun 2024 941 ton/ha, sepanjang 2019-2024 turun 4,27%/tahun. Sedang negara lain naik, Vietnam 2,9%, India 3,57%, Kamboja 2,74%, China 1,3%, Malaysia 0,43%. Kondisi ini menunjukkan ada persoalan mendasar dalam tata kelola komoditas karet Indonesia.
Tantangan industri karet nasional secara ekonomi adalah harga karet yang rendah diikuti dengan meningkatnya biaya produksi membuat keuntungan karet rendah; konversi lahan karet ke sawit; rendahnya bagian harga yang diterima petani karena panjangnya rantai pemasaran sementara UPPB masih terbatas.
Tantangan tenaga kerja adalah keterbatasan petani dalam implementasi GAP, kelangkaan tenaga kerja penyadap, peningkatan biaya tenaga kerja. Dari sisi produksi tantangan produksi jauh dibawah potensinya karena banyaknya tanaman tua dan rusak; serangan pestalotiopsis, perubahan iklim yang ekstrim. Banyak pabrik karet yang tutup usaha. Dari sisi regulasi terbatasnya dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri hilir dan impelementasi EUDR.
Sejak 2012 harga karet berfluktuasi dengan beberapa periode penurunan yang signfikan terutama dipengaruhi oleh oversupply dan permintaan melemah. Meski ada beberapa kali pemulihan, harga sering cenderung tidak menguntungkan bagi produsen. Tahun 2024 harga menguat jadi USD1,74/kg karena kelangkaan pasokan.
Proyeksi demand karet dunia tahun 2025 15,62 juta ton, 2026 16,145 juta ton, 2027 16,664 juta ton, 2028 USD17,162 juta ton, 2029 USD17,65 juta ton, 2030 18,134 juta ton. Hal ini didorong oleh peningkatan permintaan industri otomotif dan mobil listrik. Sedang supply tahun 2025 diperkirakan 14,976 juta ton, 2026 15,201 juta ton, 2027 15,334 juta ton, 2028 15,337 juta ton, 2029 15,377 juta ton, 2030 15,404 juta ton.
Usulan kebijakan jangka pendek adalah program nasional pengendalian wabah penyakit gugur daun pestalotiopsis; alokasi pupuk bersubsidi untuk petani karet, diversifikasi usaha tani, multiplkasi dan pemberdayaan UPPB; akses pembiayaan usaha tani.
Jangka panjang program peremajaan karet rakyat terkoordinasi dan berkesinambungan; penyusunan master plan pengembangan komoditas karet; mendorong tumbuhnya industri karet dalam negeri; pembentukan Badan Karet Nasional.

