Samarinda, mediaperkebunan.id – Punya 1.132 hektar (Ha) kebun aren yang menghasilkan , 504,3 ton nira dan melibatkan 1.690 tenaga kerja, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berupaya melakukan penguatan di sektor hulu dan hilir perkebunan aren.
Sebab, menurut Andi Siddik selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kaltim, disadari kalau komoditas aren tidak hanya menyimpan potensi ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi peluang besar dalam agenda hilirisasi perkebunan.
Melalui rapat kerja (raker) Percepatan Pelaksanaan Hilirisasi Komoditi Perkebunan (Komoditas Aren) di Ruang Rapat Hevea Kantor Disbun Kaltim, akhir pekan lalu, Andi Siddik menekankan pentingnya penguatan sisi hulu dan hilir perkebunan aren.
“Untuk menjaga keberlanjutan tanaman aren dan menjamin ketersediaan bahan baku produk hilirnya, petani atau kelompok tani harus mulai membudidayakan tanaman aren dengan benih unggul yang bermutu dan bersertifikat,” kata Andi Siddik, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi Disbun Kaltim, Senin (4/8/2025).
Andi menambahkan bahwa syarat utamanya mencakup penetapan kebun sumber benih aren oleh Kementerian Pertanian (Kementan), kehadiran produsen benih pembesaran tanaman perkebunan, dan ketersediaan benih unggul.
Sementara itu, ucap Andi Siddik, di Kabupaten Kutai Barat yang menjadi salah satu sentra, luasannya mencapai 366 Ha dengan produksi 40 ton dan menyerap 652 tenaga kerja.
“Data ini menjadi dasar penting dalam memetakan arah hilirisasi komoditas aren yang ada di Provinsi Kaltim di masa depan,” kata Andi Siddik lahi.
Sementara itu Rusmadi Wongso selaku praktisi pertanian, termasuk aren, yang turut hadir dalam raker itu menyoroti pentingnya kepastian produktivitas dalam hilirisasi aren.
“Kalau bicara industri, kita harus pastikan bahwa tanaman aren mampu memberikan hasil yang konsisten dan berkelanjutan,” ujar Rusmadi.
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi bergantung pada jaminan kontinuitas produksi dari sektor budidaya.
Di akhir rapat, Andi menyampaikan harapannya agar semua pemangku kepentingan bisa bersinergi menguatkan ekosistem perbenihan dan membangun model hilirisasi yang menjamin nilai tambah maksimal dari komoditi aren lokal.

