Yogyakarta, mediaperkebunan.id – PTPN III Holding saat ini memiliki 100.00 ha kebun karet tersebar di Sumatera dan Jawa, dan sedikit di Kalimantan dan Sulawesi. Produksi tahun 2023 104.000 ton dan produktivitas 1 ton/ha/tahun. “PTPN 3 Holding akan meningkatkan produktivitas, menjaga produksi dan menekan biaya produksi,” kata Denaldy Mulino Mauna, Wakil Direktur PTPN III Holding.
Produktivitas di targetkan naik 40% dari 1,15 ton/ha menjadi 1,63 ton/ha. Produksi tahunan di jaga 100.000-120.000 ton/tahun, biaya produksi di kurangi 20-25% berdasarkan biaya tahun 2024.
Peningkatan pendapatan dari karet di dapatkan dari penyesuaian produk sesuai permintaan pasar dan masuk ke pasar premium dengan sertifikasi. Operasional excellent di capai dengan klusterisasi kebun dan pabrik untuk optimalisasi produksi dan biaya, membangun ekosistem karet dengan pihak ketiga.
Digitalisasi kebun contohnya memonitor kesehatan/kondisi tanaman dengan menggunakan peta satelit/drone yang bisa di lihat di hp; dapat memperkirakan volume panen sehingga lebih optimal. Digitalisasi pabrik dengan memasang sensor dan berbasis IoT akan memonitor semua faktor kunci di pabrik secara real time oleh direksi.
Total luas areal karet di Indonesia tahun 2023 3,6 juta ha , produksi 2,7 juta ton, produktivitas 975 kg/ha/tahun. Produksi karet Indonesia 86% dari pekebun, 8% perusahaan perkebunan swasta dan 6% dari PTPN. Indonesia menjadi produsen nomor 2 di dunia dengan kontribusi 18% , posisi pertama Thailand 33% dan ketiga Vietnam 9%.
Produksi karet Indonesia tahun 2019 3,3 juta ton, sampai tahun 2023 (5 tahun) berkurang 5%. Ekspor tahun 2019 2,5 juta ton, 2023 2,3 juta ton atau turun 2%. Kapasitas produksi tahun 2019 5,7 juta ton, 2013 4,3 juta ton atau turun 7%. Kapasitas terpakai tahun 2019 56%, tahun 2023 49%, turun 3%. Padahal produksi kendaraan pada periode yang sama tumbuh 2%, tetapi penjualan turun 3%.
Industri karet Indonesia sendiri menghadapi berbagai kendala dari semua lini. Dari tenaga kerja terjadi kelangkaan karena orang sudah tidak tertarik bekerja di kebun karet, tenaga kerja yang ada kemampuannya terbatas untuk menerapkan GAP , meningkatnya biaya tenaga kerja tidak diimbangi dengan harga karet.
Teknologi dan infrastruktur , produktivitas belum optimal karena tanaman dan pabrik tua, penyakit gugur daun karena pestalotiopsis yang menyebabkan produksi turun 40%, El Nino dan La Nina, serangan penyakit, keterbatasan infrastruktur di daerah terpencil dan investasi di litbang masih kecil sekali.
Ekonomi, biaya produksi naik sehingga keuntungan berkurang, konversi lahan ke komoditas lain karena tidak ada insentif keuangan bagi pekebun , terbatasnya akses pada pupuk, perlu biaya tinggi untuk peremajaan, akses terbatas pada kredit. Posisi tawa pekebun lemah sedang jaringan koperasi petani juga masih lemah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Dari sisi regulasi kepemilikan dan sengketa lahan, insentif untuk industri termasuk hilirna tidak ada, EUDR. Padahal permintaan karet dunia pada masa depan diperkirakan akan semakin meningkat, terutama meningkatnya produksi mobil, khususnya mobil listrik. Digitalisasi dan mekanisasi akan meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya produksi.
Contohnya penggunaan robot penyadap di China dikembangkan oleh Hainan University; digitalisasi kebun untuk monitoring dengan sensor yang diterima langsung lewat hp, informasi yang ada didalamnya termasuk aktivitas penyadalan dan identifikasi penyakit dikembangkan oleh Sri Langka Institute of Information Technology; analisis Optimalisasi Hasil dengan menggunakan data varietas, tahun tanam, dan plot-plot tertentu untuk mencari rencana penanaman jangka panjang dan meninkatkan dan menjaga kestabilan produksi, dikembangkan oleh the Institute of Statistical Mathematics, Jepang.
Dukungan pemenerintah yang diharapkan untuk menjaga sustainabilitas kebun karet adalah dalam jangka pendek meningkatkan akurasi data dengan pemetaan lewat satelit; intervensi bila diperlukan contohnya untuk mengatasi penyakit gugur daun; memberdayakan petani lewat UPPB dan akses terhadap kredit dan pupuk.
Dalam jangka panjang membuat rencana induk pengembangan karet Indonesia , membuat peremajaan karet rakyat nasional, mendorong hilirisasi dan membuat lembaga ototiritas karet Indonesia.
“Kami siap bekerjasama dengan pemerintah dan perusahaan swasta lain untuk menjaga posisi karet Indonesia,” kata Denaldy.

