Bogor, mediaperkebunan.id -Beberapa dekade yang lampau, industri perkebunan kelapa nasional pernah begitu berjaya dan digdaya, tidak hanya di dalam negeri, melainkan juga di dalam negeri.
Namun kini kondisinya justru berbalik terbalik 180 derajat. Industri perkebunan kelapa nasional, baik dari hulu maupun hilir, seakan diam terpaku dan mengalami kesulitan untuk berkembang.
Untuk menghentikan semua kemunduran tersebut, PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) dan Dewan Kelapa Indonesia telah saling bersepakat untuk menjalin Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).
Kesepakatan kedua belah pihak tersebut, seperti dikutip mediperkebunan.id dari laman resmi salah satu pusat penelitian (Puslit) di bawah naungan PT RPN, Rabu (28/5/2025), dilakukan belum lama ini di Aula Kantor Direksi PT RPN, Bogor.
Dalam acara penandatanganan MoU ini, top management dari PT RPN langsung hadir seperti Iman Yani Harahap selaku Direktur, Tjahjono Herawan selaku Senior Executive Vice President (SEVP), dan sejumlah pejabat lainnya.
Sementara dari Dewan Kelapa Indonesia dihadiri langsung oleh Osriman Oesman selaku Ketua Umum, dan beserta Har Adi Basri selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Kelapa Indonesia.
Melalui MoU ini, kedua pihak sepakat untuk mengembangkan pelatihan budidaya, penanganan panen dan pascapanen, sekaligus memperkuat basis riset yang mendukung kebutuhan petani dan industri.
Diharapkan, sinergi ini tidak hanya memberi dampak ekonomi, tetapi juga menjadi kontribusi nyata bagi generasi mendatang dalam membangun industri kelapa Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan.
“Kerjasama ini bertujuan memperkuat pengembangan industri kelapa nasional, dari hulu hingga hilir, melalui pelatihan dan riset yang terintegrasi,” ucap Iman Yani Harahap.
Pria yang pernah sukses memimpin Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan ini mengingatkan tentang betapa pentingnya membangun kolaborasi lintas lembaga untuk memulihkan harapan industri kelapa nasional.
“Penandatanganan MoU ini menjadi langkah strategis dalam mendorong penguatan sektor kelapa nasional. Melalui kerjasama dengan Dewan Kelapa Indonesia, kami berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM),” kata Iman Yani Harahap
“Dalam hal ini di seluruh rantai nilai kelapa, mulai dari hulu hingga hilir. Kami juga mendorong adanya pemanfaatan hasil riset dan teknologi yang inovatif,” ungkapnya lagi.
Tentu saja, sambung Iman Yani Harahap , semua itu dilakukan agar industri kelapa di seluruh Indonesia semakin produktif, berdaya saing dan berkelanjutan atau sustainability.
Sementara itu Ketua Umum Dewan Kelapa Indonesia, Osriman Oesman, menegaskan bahwa kolaborasi kedua pihak adalah sebagai langkah awal untuk mendukung regulasi nasional terkait kelapa.
Apalagi, tutur Orisman lebih lanjut, hal ini telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) dan undang-undang (UU) nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.
“Indonesia pernah menjadi nomor satu dalam hal lahan kelapa, tapi kini menurun dan hanya tersisa 60 persen sampai 70 persenl ahan yang ada,” ungkap Orisman Oesman.
Pihaknya berharap kerjasama antara PT RON dan Dewan Kelapa Indonesia ini dapat menjadi kontribusi signifikan untuk membangun kembali kejayaan kelapa Indonesia.
Sekjen Dewan Kelapa indonesia, Har Adi Basri, turut menyoroti rendahnya produktivitas kelapa akibat terbatasnya lahan.
Karena itu ia menekankan pentingnya membangun riset dalam menunjang hilirisasi industri kelapa sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan pemaparan program dari para peneliti PT RPN, termasuk presentasi dari peneliti Rizka Tamani Saptari mengenai riset embrio rescue dan teknologi SE atau Somatic Embryogenesis.
Diketahui bahwa teknologi itu bisa dipergunakan untuk pengembangan varietas kelapa yang unggul di masa depan. Diversifikasi produk seperti kelapa kopyor beku juga menjadi bagian dari strategi pengembangan ke depan.

