11 August, 2020

Indonesia adalah pemilik kebun kelapa terluas di dunia tetapi produktivitasnya masih rendah. Kelapa berperan besar mensejahterakan masyarakat pada masa lalu. Lagu Rayuan Pulau Kelapa merupakan bukti kebesaran kelapa pada masa lalu, yang mengidentikan Indonesia dengan kelapa.

Tetapi saat ini kelapa produktivitasnya rendah dan petaninya terpuruk. Karena itu perlu upaya mengembalikan kejayaan kelapa dan membuat petani kelapa kembali kaya. “Kelapa yang ada sekarang sudah tua, diatas 60 tahun sehingga produktivitas rendah. Petani tidak mau meremajakan sebab hidupnya tergantung pada kelapa, kalau ditebang selama belum berbuah mereka dapat penghasilkan dari mana,” kata Petrus Tjandra, CEO PT Multi Agro Gemilang Plantation (MAGP).

Peremajaan kelapa dilakukan dengan integrasi tanaman pangan, baik padi, jagung dan kedelai, sambil menunggu kelapanya berbuah. Saat ini Petrus konsentrasi pada kedelai karena Indonesia setiap tahun mengimpor kedelai cukup besar. Setiap tahun impor kedelai nilainya USD2,8 miliar atau Rp42 triliun.

Kalau ini berjalan dengan baik maka dalam lima tahun kedepan produktivitas kelapa akan kembali meningkat dan tanah jadi subur karena ditanami kedelai. Pada tahap awal Petrus sengaja membuat integrasi kelapa kedelai ini di Sulut.

Kelapa yang dikembangkan untuk peremajaan adalah kelapa hibrida. Dunia sekarang sedang menuju kelapa hibrida. Thailand, Filipina dan India saat ini sedang mengembangkan kelapa hibrida , sedang Indonesia masih mengandalkan kelapa dalam.

Indonesia pernah punya program penanaman kelapa hibrida tetapi tidak berhasil. Petani menjadi trauma karena kebun kelapa tuanya sudah ditebang sedang produksi kelapa hibrida tidak sesuai dengan potensinya.

Penyebabnya petani tidak melakukan pemupukan dan perawatan tanaman kelapa hibrida sesuai GAP (Good Agricultural Practises). Mereka merawat kelapa hibrida sama dengan kelapa dalam. Padahal kelapa hibrida produktivitasnya tinggi bila dirawat sesuai dengan GAP seperti dipupuk tepat waktu, dosis, jenis, aplikasi.

Petani bisa memilih apakah akan melakukan integrasi sementara saja sampai kelapa berbuah atau seterusnya. Bila memilih seterusnya maka harus mengikuti hasil penelitian Balit Palma. Dulu biasanya orang menanam kelapa jarak tanam 10 x 10 m sehingga dalam 1 ha ada 100 pohon kelapa.

Untuk tumpang sari permanen jarak tanam diubah 6 x 16 meter, sehingga ada cukup ruang untuk tanaman pangan. Populasi kelapa tetap 100 tetapi bisa menanam tanaman pangan. “Tergantung juga tujuan menanam kelapa untuk apa. Kalau untuk diambil niranya dan menghasilkan gula kelapa maka jarak tanam dirapatkan 7 x 7 m,” kata Petrus lagi.

Indonesia punya varietas kelapa hibrida yang tetua betinanya Kelapa Genjah Kuning Nias sedang tetua jantan KHINA 1 Kelapa Dalam Tenga, KHINA 2 Kelapa Dalam Bali dan KHINA 3 Kelapa Dalam PALU Jadi yang pertama harus diselamatkan adalah Kelapa Genjah Kuning Nias.

Saat ini Kebun Kelapa Genjah Kuning Nias hanya satu yaitu di Tinawangko, Kabupaten Minahasa Selatan. PT MAGP akan menjadikan kebun induk bagi pembuatan kelapa hibrida. Caranya tiap 4 baris Kelapa Genjah Kuning Nias akan ditanami Kelapa Dalam Tenga satu baris untuk KHINA 1, kemudian 4 baris lainnya Kelapa Dalam Bali untuk KHINA 3 dan Kelapa Dalam Palu.

Tentu tidak dalam satu lokasi supaya tidak ada kontaminasi pollen. Cara lainnya adalah dengan membeli polen Dalam Bali, Dalam Palu dan Dalam Tenga dari Balitpalma dan dilakukan polinasi oleh tenaga manusia. Dengan cara ini maka benih KHINA 1, KHINA 2 dan KHINA 3 tersedia untuk kebutuhan peremajaan.

(Visited 282 times, 1 visits today)