Jakarta, mediaperkebunan.id – PT Global Inspeksi Sertifikasi (GIS) menyelenggarakan acara Penyerahan Sertifikat ISPO dan Webinar Penerapan Supply Chain di Sektor Pertanian & Sosialisasi terkait Perkembangan ISPO di Indonesia di Hotel Starlet, BSD City, Tangerang – Banten pada hari Senin (25/08/2025).
PT GIS sendiri merupakan Lembaga Sertifikasi ISPO dengan nomor registrasi LSISPO-005-IDN. Hampir 10 tahun berdiri, GIS berkomitmen mendukung tercapainya praktik pertanian berkelanjutan melalui sertifikasi, sosialisasi, serta edukasi kepada perusahaan dan pemangku kepentingan di seluruh Indonesia.
Dalam webinar ini juga dilakukan penyerahan sertifikat ISPO kepada beberapa perusahaan, antara lain PT Kurnia Luwuk Sejati, PT Adhyaksa Dharmasatya, PT Candi Artha, dan PT Lunik Anugerah.
Direktur PT Global Inspeksi Sertifikasi, Vera Marini, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen LSISPO dalam mendukung implementasi ISPO, khususnya di sektor hilir.

ISPO. Senin (25/08/2025).
“Melalui acara ini, kami ingin memperkuat pemahaman pelaku usaha tentang pentingnya sertifikasi ISPO dan penerapan supply chain yang sesuai standar. Dengan demikian, industri sawit dan pertanian Indonesia akan semakin berdaya saing serta diakui di pasar global,” ujar Vera Marini.
Praktisi ISPO, Ir. Dedi Junaedi , M.Sc. dalam materinya menjelaskan bahwa Sertifikasi Rantai Pasok ISPO adalah proses sertifikasi untuk menjamin keterterlusuran TBS, CPO, PKO, dan produk samping (cangkang, POME, dll). Menurut Perpres ISPO No. 16 Tahun 2025, pemerintah mengatur rantai pasok industri hiir sawit sampai ke industri bio energi (biodiesel, biogas, dan biomas).
Menurut Dedi, transparansi menjadi prinsip ISPO hilir yang ditekankan dalam implementasi ISPO hilir. “Bicara soal supply chain, transparansi menjadi kunci dalam penerapan ISPO hilir,” tegas Dedi. Tujuh prinsip ISPO sendiri terdiri dari kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, penerapan praktik berkelanjutan, pengelolaan lingkungan, tanggung jawab ketenagakerjaan, tanggung jawab sosial, transparansi, serta peningkatan usaha secara berkelanjutan.

ISPO. Senin (25/08/2025).
Namun, menurut Dedi implementasi ISPO dari hulu pun masih ada tantangan. “Bayangkan dari sekitar 6 juta ha baru sekitar 200 ribu ha yang memiliki sertifikasi ISPO, yaitu 42 persen dari total kebun sawit nasional,” kata Dedi.
Kemudian, lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan yang belum bersertifikat ISPO dan tidak adanya insentif bagi perusahaan-perusahaan yang sudah tersertifikasi ISPO juga menjadi perhatian.
Acara ini dihadiri oleh pimpinan perusahaan perkebunan, praktisi industri, serta pemangku kepentingan di sektor pertanian. Melalui acara ini, PT GIS bberharap dapat ikut memperkuat penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di hilir serta mendorong terciptanya rantai pasok pertanian yang berkelanjutan.

