Pekanbaru, mediaperkebunan.id – Provinsi Riau kini telah menjelma menjadi sentra perkebunan kelapa sawit terbesar, ikuti oleh industri pengolahan minyak sawit yang terbanyak di Indonesia.
Salah satu elemen yang bisa membuat Riau menjadi begituu tangguh di industri sawit adalah berkat keberadaan dari para petani itu sendiri.
Bahkan, asosiasi – asosiasi petani sawit berskala nasional juga berkantor pusat di Riau, juga dipimpin oleh petani yang berdomisili di Bumi Lancang Kuning tersebut.
Menurut Sekretaris Dinas Perkebunan, Supriadi SHut MT, Provinsi Riau sangat mensyukuri ketangguhan dan kekuatan petani sawit di seluruh Riau.
Didampingi Dr Ir Sri Ambar Kusumawati selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Usaha dan Penyuluhan, Supriadi bilang para petani sawit di Riau butuh hal yang lebih, selain kekuatan dan ketangguhan.
“Provinsi Riau sebagai salah satu provinsi dengan produksi sawit terbesar di Indonesia, sangat membutuhkan petani yang tidak hanya tangguh di lapangan, tetapi juga cerdas dalam mengelola usaha,” kata Supriadi.
Hal itu, seperti keterangan resmi yang diterima mediaperkebunan.id, Jumat (23/5/2025) malam, diungkapkan Supriadi saat menyampaikan kata sambutan dalam acara pelatihan bertema “Manajemen dan Administrasi Keuangan” selama empat hari penuh di kota Pekanbaru, yaitu mulai 20-23 Mei 2025.
Pelatihan tersebut merupakan kolaborasi dan sinergi yang apik antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian (Kementan), serta IPB Training.
Tercatat ada 106 petani sawit yang mengikuti pelatihan yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) sebanyak 18 peserta, Kabupaten Bengkalis (10 peserta), Kabupaten Rokan Hilir atau Rohil (51 peserta), dan Kabupaten Rokan Hulu atau Rohul sebanyak 27 peserta.
Karena itu tidak heran kalau Supriadi turut mengapresiasi atas terselenggaranya pelatihan hasil kolaborasi BPDP, Ditjenbun, serta IPB Training tersebut.
“Riau butuh petani kelapa sawit yang tidak hanya kuat, tapi harus memiliki petani-petani yang cerdas. Jika ingin mengelola perkebunan yang baik tentunya harus memiliki keilmuan yang cukup,” sebut Supriadi.
“Kalau ingin memiliki perkebunan yang maju dan berkelanjutan, maka para pekebunnya harus dibekali dengan ilmu dan keterampilan manajerial yang memadai,” sambungnya lagi.
Ia menambahkan, pelatihan ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas SDM khusus bagi pekebun kelapa sawit agar memiliki ilmu manajemen administrasi keuangan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi, Sugeng Mulyono, yang turut hadir secara daring, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelatihan ini.
Sugeng Mulyono menilai kegiatan ini sebagai bagian dari upaya strategis untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan petani.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjawab tantangan di sektor sawit, khususnya agar petani mampu mengelola usaha kebun secara efisien dan berkelanjutan,” ujar Sugeng.
Sugeng juga berharap para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan nyata, sehingga dampak dari pelatihan ini dapat dirasakan langsung melalui peningkatan produktivitas kebun dan kesejahteraan keluarga petani.
Pelatihan ini, kata Sugeng, merupakan salah satu bentuk konkret sinergi antara pemerintah dan institusi pendidikan dalam menciptakan ekosistem pertanian yang lebih cerdas dan kompetitif.

