Jakarta, mediaperkebunan.id – Prospek bisnis kelapa nasional pada tahun 2026 dinilai semakin menjanjikan seiring meningkatnya permintaan global dan domestik terhadap produk turunan kelapa. Hal tersebut disampaikan Research Professor pada Research Center for Cooperative, Corporation, and People’s Economy – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Ir. Bedy Sudjarmoko, M.Si, dalam pemaparan Perkebunan Outlook 2026 pada Senin (26/1/2026).
Menurut Prof. Bedy, kelapa menjadi salah satu komoditas strategis yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui penguatan hilirisasi sektor pertanian dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi.
“Tahun 2026, bisnis kelapa sangat cerah. Permintaan ekspor meningkat, pasar domestik tumbuh, sementara produksi justru mengalami tekanan. Ini menciptakan peluang besar jika dikelola dengan baik,” ujar Prof. Bedy.
Prof. Bedy menjelaskan bahwa tren konsumsi global terhadap produk berbasis kelapa terus meningkat, terutama dari sektor energi terbarukan dan industri minuman. Salah satu pendorong utama adalah pengembangan bioavtur berbasis kelapa, yang kini menjadi perhatian internasional.
Salah satu proyek strategis yang tengah berjalan adalah kolaborasi Indonesia–Jepang melalui Japan Business Network (JBNet) dan Indonesia Japan Business Network (IJBNet), dengan nilai investasi mencapai Rp600 miliar. Proyek ini direncanakan membangun pabrik bioavtur di Desa Muara Sungsang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
“Kebutuhan bahan baku bioavtur mencapai sekitar 185.000 ton kelapa per tahun, sementara kemampuan pasokan Banyuasin saat ini baru sekitar 47.000 ton per tahun. Ini menunjukkan peluang sekaligus tantangan besar bagi petani dan industri,” jelasnya.
Selain menyerap bahan baku dalam jumlah besar, proyek tersebut diproyeksikan membuka sekitar 1.000 lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, dan meningkatkan daya saing kelapa Indonesia di pasar global.
Coconut Latte dan Produk Turunan Jadi Primadona
Tak hanya bioavtur, lonjakan permintaan juga datang dari sektor pangan dan minuman. Prof. Bedy menyoroti tren coconut latte yang berkembang pesat di China, terutama di kalangan Generasi Z. Dengan populasi mencapai 1,4 miliar jiwa, China dinilai menjadi pasar potensial terbesar bagi produk kelapa Indonesia.
“China saat ini menjadi pusat tren coconut latte. Amerika Serikat dan Uni Eropa justru mengikuti tren tersebut, disusul Korea Selatan dan Jepang. Ini peluang besar bagi Indonesia sebagai produsen kelapa,” ujarnya.
Selain santan dan minuman berbasis kelapa, berbagai produk turunan lain seperti Virgin Coconut Oil (VCO), nata de coco, arang briket, kosmetik, hingga produk kesehatan juga menunjukkan prospek pasar yang terus berkembang.
Prof. Bedy menekankan bahwa hilirisasi sektor pertanian, termasuk kelapa, mampu memberikan nilai tambah hingga 100 kali lipat dibandingkan penjualan bahan mentah. Pada periode 2024–2025 saja, hilirisasi pertanian tercatat mampu menyerap sekitar 1,6 juta tenaga kerja.
Pemerintah, melalui sinergi BKPM dan Kementerian Pertanian, menargetkan nilai investasi sektor ini mencapai Rp371 triliun, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029.
Meski peluang terbuka lebar, Prof. Bedy mengingatkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi industri kelapa, mulai dari keterbatasan infrastruktur pengolahan, rendahnya akses permodalan, hingga ketimpangan penguasaan teknologi.
Petani kelapa, khususnya skala kecil, didorong untuk memperkuat posisi melalui koperasi dan UMKM berbasis desa, agar mampu bersaing dan terlibat langsung dalam rantai nilai industri.
“Dukungan modal, teknologi, serta konsistensi regulasi sangat penting. Hilirisasi harus inklusif, agar petani kecil tidak tertinggal oleh industri besar,” pungkas Prof. Bedy.
Dengan dukungan riset, inovasi, dan kebijakan yang tepat, prospek bisnis kelapa Indonesia pada 2026 diyakini sangat cerah dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
“Prospek kelapa di 2026 sangat cerah. Melihat market space ekspor termasuk domestik saat ini, sangat beralasan bahwa kita harus mendukung hilirisasi yang dilaksanakan pada saat ini,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Prof. Bedy berharap para petani kelapa yang merupakan smallholder saling berkolaborasi dan pemerintah mendukung dengan kebijakan yang tidak berubah-ubah atau konsisten. “Petani tidak bisa bekerja sendiri-sendiri karena hamparan tidak memenuhi target ekonomis dan mereka menghadapi pemain lainnya di sistem agribisnis yang sangat besar.”
“Keberpihakan pemerintah termasuk kebijakan yang konsisten tidak berubah-ubah adalah kunci utama untuk memakmurkan petani kita,” pungkasnya.

