Jakarta, mediaperkebunan.id – Sawit disebut sebagai penyebab banjir bandang yang terjadi di wilayah Sumatera dan Aceh pada November 2025 silam. Dikaitkan dengan degradasi lahan, kampanye negatif sawit bermunculan dalam ruang diskusi umum secara daring.
Prof. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MS., MPPA, dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) menilai fenomena tersebut menimbulkan banyak implikasi yang merugikan berbagai pihak, termasuk Indonesia sendiri sebagai salah satu penghasil minyak sawit terbesar dunia.
Padahal, Prof. Sudarsono berdasarkan kajian ilmiahnya melihat bahwa penyebab utama banjir bandang adalah hujan ekstrem. “Banjir terjadi ketika run-off melebihi kapasitas sistem dan kalau masuk ke sungai secara berlebihan terjadilah banjir. Peran hutan memanglah intersepsi hujan, meningkatkan infiltrasi, dan meningkatkan air tanah untuk menunda aliran permukaan (lag time) dan sangat efektif pada kondisi hujan normal. Namun, ketika hujannya sangat ekstrem seperti di Sumatera, hutan ada batas dan masalahnya juga,” jelasnya dalam acara 1st International Environment Forum (IEF) 2026 yang diselenggarakan Media Perkebunan pada hari Rabu (22/04/2026).
Menurut Prof. Sudarsono, kapasitas hujan yang menyebabkan banjir bandang saat ini mencapai 411 mm dalam waktu 1-2 hari, sementara biasanya kapasitas tersebut terpenuhi setelah hujan 2-3 bulan. “Ahli hidrologi ITB mengatakan bahwa hujan yang demikian terjadi 400-500 tahun sekali, hutan pun tidak akan tahan,” ujarnya
Dalam paparannya dijelaskan bahwa pada hujan ekstrem tanah mencapai titik jenuh (sturation), infiltrasi menurun drastis setelah beberapa waktu, semua tutupan lahan menghasilkan run-off tinggi dan implikasinya adalah perbedaan antara tutupan lahan mengecil pada kondisi ekstrem. “Pada curah hujan ekstrem, tanah mencapai titik jenuh lebih cepat dan peran hutan dalam merendah puncak banjir menurun signifikan sehingga banjir menjadi keniscayaan hidrologis,” jelasnya.
Banjir bandang terjadi di lokasi dengan hutan lebat, Prof Sudarsono menjelaskan bahwa hutan lebat memang erosi-nya rendah tetapi berbeda jika bicara tentang longsor. “Longsor justru terjadi di hujan lebat, teorinya seperti itu. Oleh karena itu bendungan Cirata ada area yang tidak boleh ditanami pepohonan karena area tersebut labil dan apabila ditanami pohon dapat membahayakan bendungan kalau longsor,” Prof. Sudarson menjelaskan.
Disebut penyebab banjir, lahan perkebunan sawit umumnya di bawah 400 mdpl dan banyak berkembang di lahan non hutan primer. Kemudian, kebun sawit berada di bagian tengah hingga hilir DAS. “Sawit dapat berperan dalam meningkatkan runoff lokal terutama jika tata kelola tanah buruk, drainase tidak baik, dan pembukaan lahan tidak terkendali. Perannya bersifat konstektual, bukan determinan tunggal,” tegas Prof. Sudarsono.
Prof. Sudarsono menilai kesalahan dalam narasi umum yang menyebar secara masif di ruang publik adalah simplifikasi sebab-akibat dan generalisasi berlebihan. “Mengganti analisis sistem dengan penunjukan pelaku adalah bentuk kemalasan intelektual. Denda bagi para pelaku usaha yang terdampak luar biasa, untuk 200 hektar kerugian mencapai 200 miliar. Itu terjadi ke meraka tanpa adanya bukti dimana terjadinya erosi,” jelasnya.
“Saya mengatakan bahwa masalah penyebab banjir bandang kala itu bukan sawit. tapi hujan yang sangat ekstrem. Evaluasi harus berbasis perizinan, amdal, tata ruang, dan prinsip. Implikasinya dalam banyak kasus sawit menjadi korban banjir, bukan penyebab,” pungkasnya.
Prof. Sudarsono menyampaikan bahwa jika ingin mengurangi banjir, pahami sistemnya. Jika hanya ingin menyalahkan, banjir akan terus berulang.

