Medan, mediaperkebunan.id – Ir. Indra Syahputra, MP, selaku Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia/GAPKI/ Kepala SSPL PT. Socfin Indonesia menyampaikan bahwa penurunan produktivitas kelapa sawit nasional dalam sepuluh tahun terakhir merupakan kondisi nyata yang dialami hampir seluruh perusahaan perkebunan sawit di Indonesia.
Ia mengungkapkan bahwa rata-rata produktivitas crude palm oil (CPO) yang sebelumnya mencapai 6 ton per hektare kini turun menjadi sekitar 5,5 ton per hektare. “Di PT Socfin Indonesia, angka tersebut masih tergolong tinggi secara nasional. Namun tren penurunan ini nyata dan menjadi sinyal peringatan bagi keberlanjutan industri sawit ke depan,” ujarnya.
Menurut Indra, faktor utama penurunan produktivitas adalah penyakit Ganoderma, khususnya yang disebabkan oleh Ganoderma boninense. Penyakit ini banyak ditemukan pada kebun sawit yang telah memasuki generasi tanam ke-2, ke-3, bahkan hingga generasi ke-5. Di wilayah sentra sawit lama seperti Sumatera Utara dan Riau, akumulasi patogen di dalam tanah telah berlangsung lama sehingga terus menggerus produktivitas tanaman.
Tak hanya serangan Ganoderma, persoalan nasional juga dipicu oleh praktik budidaya yang kurang tepat. Masih banyak kebun sawit baik milik perusahaan terutama petani yang ditanam di lahan marginal, menggunakan bibit yang tidak sesuai standar, serta dikelola tanpa penerapan teknik budidaya yang benar.
“Selama harga CPO masih baik, kondisi ini sering kali tidak terasa. Namun ketika harga turun, petani akan sangat terpukul karena produktivitas rendah dan biaya produksi tinggi,” jelasnya.
Indra juga menyinggung kondisi kebencanaan yang terjadi di Sumatera, yang semakin menegaskan pentingnya pengelolaan perkebunan sawit secara berkelanjutan. Saat ini, Indonesia mengelola sekitar 17 juta hektare kebun sawit dengan total produksi sekitar 50 juta ton CPO per tahun. Di lingkungan Socfin sendiri, produktivitas kebun bervariasi antara 4,9 hingga 7 ton per hektare, terutama pada kebun yang masih berada di generasi tanam awal seperti di Aceh.
“Seandainya Indonesia hanya mengelola 10 juta hektare kebun sawit, tetapi produktivitasnya bisa dijaga di level 5 ton per hektare, produksi nasional 50 juta ton tetap tercapai. Bahkan dengan 12 juta hektare, kita bisa mencapai 60 juta ton untuk mendukung program biodiesel B50,” ungkapnya.
Namun, skenario tersebut hanya dapat dicapai jika kebun sawit menggunakan bibit yang benar, ditanam di lahan yang sesuai, serta dikelola dengan manajemen dan praktik budidaya yang baik dan benar. Dengan pendekatan ini, tekanan terhadap perluasan lahan dapat dikurangi dan sebagian lahan berpotensi dikembalikan sebagai kawasan hutan.
Indra menegaskan bahwa pada kebun sawit yang telah memasuki generasi lanjut, upaya melawan Ganoderma menjadi keharusan. Di salah satu kebun Socfin generasi ke-4 yakni di Kebun Matapau dengan kondisi lahan gambut, serangan Ganoderma telah mencapai 70–80% sehingga tanaman harus diremajakan pada usia 14–15 tahun. “Kerugian akibat Ganoderma ini luar biasa dan tidak bisa lagi ditoleransi,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penerapan Integrated Ganoderma Management (IGM) sebagai strategi pengendalian terpadu. Pendekatan ini mencakup penggunaan bibit yang tepat, pengelolaan lahan dan kultur teknis yang baik, serta upaya sistematis untuk menekan perkembangan Ganoderma di kebun.
“Tanpa pengendalian terpadu, produktivitas sawit akan terus tergerus. Ganoderma bukan lagi isu individual perusahaan, tetapi ancaman bersama bagi industri sawit nasional,” tegas Indra.
Sebagai tindak lanjut atas urgensi pengendalian Ganoderma secara terpadu, Konsorsium Ganoderma Indonesia mendorong seluruh pemangku kepentingan industri sawit untuk terlibat aktif dalam 3rd ISGANO (International Symposium Ganoderma) 2026 Conference and Exhibition yang akan diselenggarakan pada 10–11 Februari 2026 di Hotel Adimulia Medan.
Forum internasional ini akan menjadi wadah strategis berbagi ilmu, pengalaman lapangan, serta inovasi terkini dalam pengelolaan Ganoderma. Kegiatan ini juga akan dilengkapi kunjungan lapangan (field trip) pada 12 Februari 2026 ke kebun Bangun Bandar milik PT Socfin Indonesia dan kebun komersial Aek Pancur PPKS guna melihat langsung praktik terbaik pengendalian Ganoderma di kebun komersial dan riset.
Melalui ISGANO 2026, diharapkan terbangun kesadaran kolektif dan kolaborasi nyata untuk bersama-sama mengatasi Ganoderma secara terpadu untuk menjaga produktivitas serta keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.
Untuk mengikuti 3rd ISGANO 2026, Kawan Medbun dapat mengunjungi isgano.com atau menghubungi contact person berikut (+62) 812 8718 2301 (Ika), (+62) 811 1078 02 (Sekretariat), (+62) 812 8169 8248 (Kevin).

