Lebak, mediaperkebuan.id – Produktivitas perkebunan kelapa sawit milik rakyat di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terhitung masih cukup rendah, yaitu sekitar 4 ton tandan buah segar (TBS) per hektar (Ha).
“Produktivitas saat ini masih di bawah 4 ton per hektar, padahal dengan teknologi yang benar, petani bisa mencapai di atas 6 ton. Pelatihan ini jadi jembatan menuju target itu,” ujar Dr Ir Ahmad Junaedi, M.Si, dari IPB Training.
Hal itu dia katakan saat berbicara dalam pelatihan bertajuk “Teknik Budidaya Sawit Rakyat” yang diselenggarakan oleh IPB Training dan didukung sepenuhnya oleh Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian (Kementan) serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Kegiatan itu diadakan di Kabupaten Lebak, mulai 21–25 Juli 2025 dan diikuti oleh 51 petani sawit dan pengurus koperasi dari Kabupaten Lebak, serta menghadirkan sejumlah pembicara berkualitas dan berkompeten.
Seperti Dr Ir Ahmad Junaedi, M.Si, dari IPB Training, Dr M Apuk Ismane dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Mula Putra SAP dari Kementan, dn Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Banten, Rahmat SSTP M.Si.
Sebagai informasi, pelatihan teknis tersebut didukung oleh pelatih lapangan seperti Ir Sri Hermawan, Fajar Wahyudi, MBA, dan Abdul Rosid, AMd. SE, yang memandu kelas secara interaktif dan berbasis studi kasus.
Sementara itu, Mula Putra SAP dari Kementan menegaskan bahwa rendahnya produktivitas perkebunan kelapa sawit milik rakyat, salah satunya, disebabkan oleh teknik budidaya yang belum sesuai standar.
“Produktivitas masih sekitar 3,3 ton CPO per hektar (Ha). Lewat pelatihan, kita ingin mempersempit gap atau jurang ini secara nyata,” kata Mula Putra.
Melihat fakta tersebut, Dr M Apuk Ismane menyampaikan bahwa pelatihan yang digelar IPB Training, Ditjenbun, dan BPDP ini adalah bagian dari transformasi pertanian, termasuk di tingkat perkebunan kelapa sawit rakyat, yang dijalankan secara tradisional ke arah yang lebih modern.
“Kami mendorong semua petani sawit di Indonesia, termasuk yang ada di Kabupaten Lebak ini, untuk terus belajar dan berkembang,” kata Dr M Apuk Ismane.
“Sebab, perlu diketahui, SDM adalah kunci keberhasilan bagi sub sektor perkebunan kelapa sawit di masa depan,” tutur Dr M Apuk Ismane lebih lanjut.
Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Banten, Rahmat SSTP M.Si, juga menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.
“Kami berharap ilmu dari pelatihan ini disebarluaskan ke petani lainnya. Kolaborasi seperti ini sangat berarti untuk mendorong kebun sawit rakyat lebih maju,” kata Rahmat.
Sekadar pengingat, pelatihan tersebut merupakan implementasi langsung dari strategi nasional pengembangan SDM perkebunan sawit yang mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 5 Tahun 2025 dan Keputusan Dirjen Perkebunan nomor 40 Tahun 2025.
Dua regulasi itu menegaskan tentang empat jalur utama penguatan SDM di tingkat pekebun, termasuk kelapa sawit, yaitu melalui jalur penyuluhan, pendidikan, pelatihan, dan jalur pendampingan.
Melalui pendekatan pelatihan yang sistematis dan berbasis praktik, pelatihan itu diharapkan mampu memperkuat profesionalisme pekebun rakyat dalam mengelola usaha tani sawit, serta meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan di tingkat akar rumput.
Fokus pelatihan adalah pada penguatan kemampuan teknis petani dalam mengelola kebun sawit secara berstandar dan efisien.
Adapun materi budidaya sawit yang dipelajari seperti persiapan benih dan bahan tanam, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman sawit.
Baik dari mulai dari tanaman belum menghasilkan (TBM) sampai tanaman menghasilkan (TM), serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama, penyakit dan gulma.

