Jakarta, mediaperkebunan.id – Dikenal sebagai provinsi sentra pertanian dan mampu memproduksi hingga 1,01 juta ton per tahun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo menyatakan kesanggupannya untuk menyiapkan strategi hilirisasi jagung berskala nasional.
Kesiapan ini disampaikan langsung oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat melakukan kunjungan resmi ke kantor Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), Selasa (6/5/2025).
Gubernur Gusnar yang diterima oleh Direktur Pakan, Nur Saptahidayat, seperti dikutip Mediaperkebunan.id, Rabu (7/5/2025), menyebutkan kesiapan itu didukung oleh infrastruktur di kawasan pelabuhan yang sangat memadai.
Di samping itu, sambungnya lagi, provinsi di pesisir utara Pulau Sulawesi tersebut tengah memantapkan langkah untuk memikat investor dan membangun ekosistem industri berbasis peternakan.
“Kami siap memfasilitasi investasi yang masuk pada industri pakan, termasuk penyediaan lahan,” ucap Gubernur Gusnar seperti dikutip dari laman resmi Ditjen PKH Kementan dan Pemprov Gorontalo.
“Pengembangan industri pakan, tidak hanya meningkatkan nilai tambah jagung dan hasil pertanian lokal, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan peternak di Gorontalo,” kata Gusnar Ismail lagi.
Gusnar menyampaikan bahwa jagung merupakan komoditas unggulan Gorontalo yang produksinya terus meningkat, namun sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah.
Gusnar menilai hilirisasi sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan membangun ekosistem agribisnis yang berkelanjutan.
“Hilirisasi akan mendorong transformasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada produk luar daerah,” ujar Gusnar.
Gubernur Gusnar meyakini pengembangan industri pakan akan membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak, serta mendongkrak nilai tambah komoditas lokal.
Dirinya lalu mengungkapkan bahwa industri pakan yang tengah dikembangkan ini ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan pakan unggas dan ruminansia di banyak daerah.
“Tidak hanya untuk kebutuhan di Provinsi Gorontalo, tetapi juga untuk provinsi lainnya, seperti Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Tengah (Sulteng), dan Maluku Utara (Malut),” ungkap Gubernur Gusnar Ismail.
Menanggapi hal itu, Direktur Pakan, yang akrab disapa Sapto, menegaskan bahwa Gorontalo memiliki peluang strategis sebagai pusat industri pakan nasional.
“Gorontalo kaya akan bahan baku yaitu jagung. Dengan integrasi antara petani jagung, peternak, dan pelaku industri pakan, provinsi ini berpeluang besar menjadi kawasan industri pakan di Indonesia,” ujarnya.
Sapto lalu menunjukkan data dari Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo yang menunjukkan bahwa Gorontalo mampu memproduksi dan memiliki 1,01 juta ton jagung per tahun.
Selain itu, ucapnya lagi, Pemprov Gorontalo juga menghasilkan dedak 20 ribu ton, tepung ikan 14 ribu ton, bungkil kelapa 990 ton, dan bungkil kedelai 11.375 ton.
“Populasi ternak di provinsi ini pun cukup tinggi: ayam 7,9 juta ekor, sapi 154 ribu ekor, dan kambing 17 ribu ekor,” rinci Sapto.
Tak hanya bahan baku, pihaknya melihat distribusi pakan juga didukung keberadaan pelabuhan di kota Gorontalo dan ditunjang lagi dengan keberadaan Pelabuhan Internasional Anggrek yang berpotensi menunjang akses pasar domestik dan ekspor.
Dari pihak industri pakan, perwakilan dari PT Haida Indonesia, Bagus Pekik, menyampaikan pentingnya sinergi antara pemerintah, swasta, dan peternak untuk menciptakan rantai bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Ia menekankan bahwa dengan jaminan pasar yang kuat di tingkat hilir, pelaku industri pakan akan lebih percaya diri berinvestasi dan memperkuat ekosistem usaha peternakan dan pangan di wilayah tersebut.
“Ini adalah peluang besar. Kami di pihak swasta sangat terbuka untuk bersinergi, asalkan ada jaminan pasar yang jelas di hilir,” kata Pekik.
“Jika pemerintah dapat memastikan pasarnya, kami para investor akan datang sendiri. Kita perlu bergandengan tangan untuk membangun kolaborasi yang saling berkesinambungan,” tegas Pekik.

