Medan, mediaperkebunan.id – Keputusan Presiden Donald Trump yang menurunkan berat masuk atau tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen membuat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) asal Indonesia menjadi lebih terjangkau saat dijual di Amerika Serikat (AS).
Harga CPO Indonesia ini pun bakal lebih murah lagi ketimbang produk sejenis milik Malaysia, jiran sekaligus pesaing kita di pasar minyak nabati global dalam urusan produksi dan penjualan CPO beserta beragam produk turunannya.
Menurut Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi asal kota Medan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), keputusan Presiden Donald Trump itu justru menjadi kabar baik bagi industri perkebunan kelapa sawit di Tanah Air.
“Ini menjadi kabar baik sekaligus membuka peluang bagi produk minyak kelapa sawit Tanah Air lebih kompetitif dibandingkan dengan produk serupa dari Malaysia,” ucap pengajar di sejumlah kampus ternama di ibukota Provinsi Sumut tersebut.
“Terlebih Malaysia dikenakan tarif impor oleh AS sebesar 25 persen. Di atas kertas produk minyak kelapa sawit dari Indonesia memiliki posisi tawar yang lebih baik, khususnya untuk memasuki pasar di AS,” kata Gunawan Benjamin lagi.
Dirinya paham bahwa tarif impor bukan satu-satunya faktor yang mengubah peta persaingan dalam industri minyak nabati di pasar global, termasuk persaingan dalam memperebutkan pasar CPO antara RI dan Malaysia.
Gunawan Benjamin mengajak semua pihak untuk mau melihat secara keseluruhan tentang bagaimana konstelasi persaingan di pasar minyak nabati nanti setelah kebijakan tarif impor dari Presiden Donald Trump tersebut berlaku mulai awal Agustus 2025.
Selanjutnya Gunawan Benjamin mengungkapkan dua faktor lain yang membuat Indonesia tetap dapat cuan dari berjualan CPO, yaitu masih stabil tinggi permintaan atau demand di pasar global serta kebijakan penurunan BI rate atau suku bunga perbankan.
Mengenai demand, dirinya bilang India menjadi dorongan utama diserapnya CPO asal Indonesia sehingga turut mendorong kenaikan harga pembelian tandan buah segar (TBS) per kilogram (Kg) yang diproduksi para petani kelapa sawit.
Dia memperkirakan permintaan India terhadap CPO Indonesia akan berlangsung hingga September seiring persiapan menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Deevawali yang jatuh pada Oktober 2025.
Mengenai faktor suku bunga perbankan, Gunawan Benjamin bilang penurunan yang terjadi bakal membuat kinerja industri sawit semakin kompetitif karena penurunan BI rate diyakini akan menekan biaya operasional perusahaan kelapa sawit.
“Bagi para pelaku usaha, BI rate ini akan menekan beban bunga. Terlebih jika perbankan juga menurunkan beban bunga pinjaman ke pelaku usaha sawit,” tuturnya lebih lanjut.
“Dengan bunga yang rendah, sektor ril akan lebih mudah beroperasi. Dan bagi Sumut, penurunan bunga acuan akan berkorelasi positif bagi industri pengolahan minyak kelapa sawit,” tegas Gunawan Benjamin.

