Jakarta, Mediaperkebunan.id- Meskipun tahun 2025 iklim diperkirakan normal tetap harus waspada terhadap kekeringan. Ikim adalah given factor yang tidak bisa diubah (kalaupun bisa biayanya sangat tinggi), sehingga perlu dikelola dan beradaptasi dengan apa yang ada. Winarna, Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menyatakan hal ini.
Tiga unsur utama iklim bagi kelapa sawit adalah Vapour Pressure Deficit, Solar Radiation dan rainfall. Sebagai tanaman tahunan kompleksitas faktor –faktor produksi akan menyebabkan variabilitas pada parameter produksi (jumlah tandan, berat tandan,rendemen minyak).
Di Sumatera bagian utara (Sumut, Aceh, Riau), Kalbar dan daerah lainnya sekitar equator pemupukan semester 1 2025 harus dipercepat dan ditambahkan pupuk ekstra lebih baik; aplikasi bahan organik (tandan kosong) + suplemen tanaman + pembuatan rorak dan konservasi tanah air; perlu peningkatan fruit set pada TM; pengawalan kastrasi + keseimbangan fruit set pada TBM; hindari clean wedding.Sentra perkebunan bagian selatan equator (Jambi, Sulsel, Kalsel, Kalteng, Papua dan lain-lain aplikasi pupuk semester 1 2025 harus dipercepat + pupuk ekstra untuk recovery + bahan organik + suplemen tanaman; jika terjadi kekeringan, setelah selesai segera lakukan pemupukan semester 2 2025; wajib membuat bangunan konservasi tanah dan air pada awal tahun; hindari transplanting pada pertengahan tahun (Juli-September 2025).
Produktivitas sawit dipengaruhi oleh faktor endogenous dan exogenous. Faktor endogenous penyebabnya sebagian besar material tanaman, sedang faktor exogenous penyebabnya iklim, tanah, lingkungan biotik, dan praktek budidaya yang baik. Fluktuasi produksi sawit sangat dipengaruhi oleh produksi jumlah tandan.
Ada tiga fase kritis dalam pembentukan dan perkembangan tandan sawit. Fase 1 (22-35 bulan sebelum panen) adalah fase terbentuknya sex yang dominan apakah bunga jantan atau betina. Bila terjadi kekeringan misalnya maka bunga jantan dominan. Fase 2 (15 bulan sebelum panen) adalah penentu terus tumbuhnya bunga.
Bila hujan berlebihan misalnya banyak bunga akan gugur. Fase 3 (3- 6 bulan sebelum tandan dipanen), yang akan menentukan berat tandan dan Elaeidobius kamerunicus memegang peranan penting. Selain memonitor populasi harus juga monitor aktifitasnya pada bunga betina yang anthesis. Hindarkan aktivitas sepele yang mengurangi populasi dan aktivitas kumbang ini seperti penyemprotan land aplikasi limbah pabrik langsung ke tanaman.
Kondisi lingkungan yang suboptimal (kekeringan) dan/atau manajemen budidaya yang kurang baik dapat menurunkan jumlah tandan yang berhasil dipanen. Efek lingkungan (terutama anomali iklim) dapat terjadi paling cepat 6 bulan, dengan pengaruh signifikan pada 1-2 tahun setelah kejadian anomali iklim. Besar kecilnya pengaruh iklim terhadap tanaman juga dipengaruhi bahan tanaman yang digunakan, umur, teknik budidaya dan faktor lainnya.
Dua anomali iklim yang sering berdampak signifikan pada sentra perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan the Indian Ocean Dipole (IOD). Anomali iklim disebabkan keduanya dapat membuat curah hujan diatas dan dibawah normal. Penurunan curah hujan terjadi jika El Nino dan IOD + bersamaan, terakhir terjadi tahun 2023, produksi turun sehingga produksi tahun 2024 diperkirakan turun. Peningkatan curah hujan terjadi bila La Nina dan IOD – terjadi bersamaan, terakhir terjadi tahun 2022. Tahun 2025 tidak ada perubahan iklim sehingga produksi diperkirakan naik.

