Bogor, mediaperkebunan.id – PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit)/PT Riset Perkebunan Nusantara ,sudah mengembangkan peramalan produksi dengan metode MODUS yang menunjukkan peningkatan produksi CPO tahun 2025 dibanding 2024 yaitu 49,5 juta ton sedang tahun 2026 50,31 juta ton. Tahun 2023 proyeksi 49,32 juta ton realisasi 50,84 juta ton, tahun 2024 proyeksi 48,88 juta ton realisasi 48,16 juta ton. Rizki Amalia, Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit/PT Riset Perkebunan Nusantara menyatakan hal ini.
Faktor yang mempengaruhi proyeksi: meningkatnya rerata umur tanaman tua dan renta menurunkan produksi; pemulihan dampak kekeringan tahun 2023 produksi naik; realisasi pemupukan meningkat akibat pulihnya harga pupuk, produksi meningkat.
Tahun 2024 PPKS memproyeksikan harga USD963/ton realiasi USD942/MT, tahun 2025 proyeksi USD1029/MT, realisasi sampai September 2025 USD1017, sedang tahun 2026 skenaro rendah USD959/MT, sedang USD1066/MT, tinggi USD1172/MT. Faktor yang mempengaruhi proyeksi harga implementasi program B40; pemulihan ekonomi negara-negara importir; realisasi produksi minyak nabati lainnya di negara-negara produsen, kebijakan tarif impor negara importir.
Tahun 2025 dari luas kebun sawit menghasilkan 13,68 juta ha, produksi CPO mencapai 30,59 juta ton. Kenaikan tertinggi yoy adalah Juli 2024/2025 sebesar 41,4% dari 3.617 juta ton ke 5,113 juta ton. Sedang kenaikan bulanan tertinggi dari Mei ke Juni 2025 sebesar 658 ton dari 4,165juta ton ke 4,823 juta ton
Produktivitas tahun 2021-2024, Indonesia masih dibawah Malaysia. Selama periode itu produktivitas Malaysia terus naik sedang Indonesia naik sampai 2023, 2024 menukik turun. Produktivitas Malaysia (ton/tahun) 2021 3,49, 2022 3,59, 2023 3,62, 2024 3,79. Indonesia 2021 3,28, 2022 3,29, 2023 3,42, 2024 3,18.
Konsumsi domestic sampai Juli 14,3 juta ton, naik 6,57%, ekspor 19,2 juta ton turun 11,1%, Ekspor ke Pakistan sampai Juli 2025 1,67 juta ton naik 7,23% yoy; Bangladesh 943.000 ton naik 63,37%; China 1,32 juta ton turun 2,74%; USA 757.000 ton turun 11,2% ; Mesir 629.000 ton naik 42,3%; Malaysa 528.000 ton naik 272,3%. Nilai ekspor mencapai Rp343,7 triliun.
Sedang minyak laurat produksi PKO dunia tahun 2023 8,14 juta ton turun 3,42% dibanding tahun 2023. Produksi itu berasal dari Indonesia 4,7 juta ton (57,4%). Malaysia 2,1 juta ton (26,3%), Thailand 320.000 ton (3,9%). Ekspor PKO dunia 3,97 juta ton , naik 3,97%. Trend konsumsi PKO dunia 8,3 juta ton naik 2,79%. Produksi CNO dunia 3,39 juta ton naik 6,19% dibanding tahun 2023. Berasal dari Filipina 1,5 juta ton (46%), Indonesia 819.000 ton (46%), India 327.000 ton (11%).
Isu terkin dan tantangannya adalah tata kelola yakni tata kelola hulu (legalitas lahan, penyelesaian sawit dalam kawasan hutan, implementasi FPKMS); tata kelola hilir (kebijakan perdagangan/ekspor); implementeasi standar keberlanjutan.
Legalitas lahan yang harus segera diatasi adalah konflik kepemelikan dan penguasahaan lahan, penyelesaian sawit dalam Kawasan hutan dan kendala perizinan (HGU, Amdal, KLHK). Tata kelola tata niaga yang harus segera diatasi adalah tata kelola PKS brondolan, tercatat ada 527 PKS brondolan skala mikro, kecil , menegah; tata kelola ekspor UCO/residu, termasuk Pome Oil dan HAPOR. Tata kelelola kelapa sawit berkelanjutan adalah mandatory ISPO bagi petani tahun 2029 , sampao 2024 baru 81 kelembagaan petani sawit bersertfikat ISPO.
PSR harus dikejar sebab keterlambatan terus menerus akan menurunkan produktivitas nasonal dan ketidakseimbangan supply demand minyak sawit. Hambatan realisasi adalah faktor sosial ekonomi, kendala adminstratif dan teknis, mekanisme pembiayaan dan kesiapan mitra.
Tantangan implementasi B40 dan seterusnya adalah keberlanjutan bahan baku, selisih harga antara minyak bumi dan minyak nabati, kecukupan subsidi biodiesel, kapasitas industri biodiesel dalam negeri.
Rekomendasi strategis untuk terobosan produksi adalah pengawalan GAP di perkebunan rakyat; akselerasi peremajaan dengan skema pembiayaan inovatif, pemanfaatan inovasi dan teknologi untuk peningkatan produktivitas. Tata kelola meliputi compliance dan sustainability; konsolidasi petani dengan mengorganisasi; solusi atasi konflik legalitas lahan dan penyelesaian sawit masuk Kawasan hutan; mekanisme satu data satu peta.
Maksimalisasi rantai pasok dengan diversifikasi pasar ekspor; penetrasi pasar pada emerging market; peningkatan kapasitas refinery dan industri hilir; pengembangan pada agristruktur industri hilir; dukungan RnD pada industri hilir. Penguatan daya saing dengan cost leadership yang mendorong harga yang kompetitif; stablitas pasokan, optiamalisasi bursa CPO, diplomasi minyak sawit tingkat global.

