Kota Sambas, mediaperkebunan.id – Potensi penghasilan para petani kelapa dalam atau Cocos Nucifera di Kabupaten Sambas, termasuk di Kecamatan Jawai dan Kecamatan Pemangkat, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), bisa mencapai Rp 60 juta sampai Rp 72 juta per tahun per hektar (Ha).
Situasi yang cukup menggembirakan tersebut, kata Heronimus Hero selaku Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalbar seperti dikutip mediaperkebunan.id, Senin (4/8/2025), berkat tingginya permintaan dari pasar global beberapa waktu belakangan ini.
“Terutama dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang tinggi permintaan atas kelapa. Nah, Kabupaten Sambas sendiri merupakan sentra terbesar perkebunan kelapa di Provinsi Kalbar,” terang Heronimus Hero.
“Di antara berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Sambas, Kecamatan Jawai dan Kecamatan Pemangkat adalah penghasil kelapa dalam terbanyak, terutama yang diusahakan oleh para pekebun rakyat,” tambah Heronimus Hero lagi.
Karena itu pihaknya merasa tidak heran kalau belakangan ini aktivitas ekonomi untuk komoditas kelapa dalam atau Cocos Nucifera di Kecamatan Jawai dan Kecamatan Pemangkat serta di Kabupaten Sambas secara umum semakin tinggi.
Hal tersebut, ucapnya kembali, ditunjukkan dengan berbagai aktivitas masyarakat mulai dari memanen, membersihkan, mengangkut dan mendistribusikan kelapa dalam dari dan keluar Kabupaten Sambas.
“Aktivitas yang tinggi tersebut tidak terlepas dari kondisi pasar komoditas kelapa dalam yang sangat baik dan menggeliat saat ini,” tutur Heronimus Hero lebih lanjut.
Menurut data yang ada di Disbunnak Kalbar, menurut Heronimus Hero, saat ini harga kelapa dalam yang relatif tinggi telah mendorong masyarakat pekebun untuk kembali memperhatikan tanaman kelapa dalam.
Di Kecamatan Jawai dan Kecamatan Pemangkat sendiri, beber Heronimus Hero, jamak terlihat kalau para pekebun sudah menunggu dengan tumpukan buah kelapa bulat di sepanjang jalan dan pasti akan dijemput dan diangkut oleh para pengumpul.
“Harga di tingkat pekebun mencapai Rp 5.200 per kilogram (Kg). Harga tersebut relatif tinggi mengingat lokasi Jawai cukup jauh. Harga semakin meningkat jika lokasi penjemputan semakin dekat dengan pengumpul,” beber Heronimus Hero.
Di Kecamatan Pemangkat contohnya, tambah Heronimus Hero, bahkan per kilogramnya mencapai Rp 6.500 per Kg, dan ini pasti sangat menggiurkan bagi para pekebun kelapa dalam.
“Sebagai gambaran, dalam satu tahun, pekebun dapat melakukan panen kelapa sebanyak enam kali, dan dari satu kali panen bisa mencapai sekitar dua ton per Ha,” Heronimus Hero merinci.
“Jadi dalam satu tahun para petani bisa menghasilkan kelapa sekitar 12 ton per Ha. Dengan harga saat ini berarti pendapatan pekebun mencapai sekitar Rp 60 juta sampai Rp 72 juta per Ha per tahun. Sungguh sangat menguntungkan,” kata dia.
Pihaknya semakin optimis kesejahteraan petani kelapa dalam atau petani kelapa bulat di Kalbar semakin meningkat seiring dengan banyaknya permintaan di pasar global plus semakin majunya industri dan teknologi pengolahan kelapa berskala global.
“Semoga kondisi ini terus bertahan dalam jangka panjang dan bisa semakin mensejahterakan masyarakat, khususnya pekebun kelapa dalam di Kalbar,” tegas Heronimus Hero selaku Kadisbunnak Kalbar.

