Kapuas Hulu, mediaperkebunan.id – Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) menegaskan pentingnya membangun pola pikir baru bagi petani sawit rakyat untuk mewujudkan praktik perkebunan yang berkelanjutan. Hal ini disampaikan oleh Pahala Sibuea, perwakilan POPSI dalam acara Pelatihan Teknis Petani Sawit di Daerah 3T, Kabupaten Kapuas Hulu, pada 31 Oktober 2025.
Pahala mengingatkan bahwa salah satu persoalan utama petani sawit di Kapuas Hulu adalah masih maraknya pembelian bibit ilegal. Ia menekankan bahwa praktik tersebut merugikan petani dalam jangka panjang karena bibit yang tidak unggul menghasilkan produktivitas yang rendah dan tidak sesuai harapan.
“Setiap kami melakukan acara seperti ini, masalah yang muncul hampir selalu sama, di Kapuas Hulu yang paling sering adalah pembelian bibit ilegal. Jangan dilakukan lagi, karena bisa menimbulkan kerugian yang besar,” tegas Pahala.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan perkebunan sawit rakyat tidak hanya bergantung pada modal dan lahan tetapi juga pada pola pikir, perilaku, dan kemitraan. Tiga hal inilah yang menurut POPSI menjadi fondasi petani sawit berkelanjutan.
“Dalam bertani ada tiga hal penting yang harus dilakukan. Pertama, merubah pola pikir, bertani itu bukan proses instan. Kedua, merubah perilaku, petani harus tahu waktu panen yang tepat agar rendemen minyaknya tinggi. Ketiga, berkolaborasi dengan pihak yang punya visi dan tujuan yang sama,” ujarnya.
Pahala juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara petani dengan koperasi atau asosiasi agar memiliki kekuatan dalam menjual hasil panen. Pemerintah pun akan lebih mudah menyalurkan bantuan apabila petani tergabung dalam kelembagaan yang resmi.
“Pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga petani, bukan perorangan. Jadi petani harus tergabung dalam kelompok, koperasi, atau asosiasi agar bisa mengakses program,” tambahnya.
Selain persoalan bibit, POPSI juga mencatat masih terbatasnya akses petani terhadap pupuk dan sarana produksi. Untuk itu, ingin menjembatani kebutuhan tersebut dengan produsen pupuk terutama dalam mendukung distribusi langsung ke koperasi.
Pahala juga mengingatkan bahwa peningkatan produktivitas kebun sangat bergantung pada pengetahuan dan kemampuan petani. Oleh karena itu, pelatihan GAP (Good Agricultural Practices) menjadi kebutuhan mendesak yang perlu petani ketahui.
“Kalau ingin hasil kebun tinggi, maka SDM petani juga harus tinggi,” tegasnya.
POPSI juga mengingatkan petani agar menyiapkan diri menuju sertifikasi keberlanjutan. ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) bersifat wajib, sementara RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) merupakan standar pasar global.
“Mau tidak mau, kita harus siap mengikuti dua sertifikasi ini karena akan menentukan akses pasar dan keberlanjutan usaha sawit rakyat,” kata Pahala.
Melalui berbagai program pemerintah seperti PSR (Peremajaan Sawit Rakyat), sarana dan prasarana (sarpras), pelatihan SDM, serta beasiswa pendidikan anak petani, POPSI mendorong petani Kapuas Hulu untuk aktif mengakses peluang tersebut. Menurutnya, daerah 3T seperti Kapuas Hulu memiliki prioritas tinggi dalam program pengembangan sawit rakyat.
“Anak-anak petani dari daerah seperti Kapuas Hulu sudah banyak yang mendapat beasiswa dari BPDP. Ini bukti bahwa peluang terbuka lebar bagi petani yang mau berkembang,” tutup Pahala Sibuea.
Dengan semangat “Membangun Sawit Berkelanjutan”, POPSI berkomitmen terus mendampingi petani di seluruh Indonesia terutama di wilayah 3T agar tidak hanya menjadi penerima manfaat ekonomi sawit, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam rantai nilai yang berdaya saing dan ramah lingkungan.

