Belawan, mediaperkebunan.id – Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan yang ada di Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara (Sumut), diketahui secara resmi telah menggunakan co-firing bio compressed natural gas (BioCNG) yang berbahan pengolahan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME).
Penggunaan BioCNG limbah sawit tersebut menandai babak baru pemanfaatan energi bersih di Tanah Air, sekaligus menjadi penanda penting diversifikasi sumber listrik ramah lingkungan.
“Juga menunjukkan konsistensi PLN dalam mewujudkan target net zero emissions (NZE) pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat,” kata Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo di Belawan, belum lama ini.
Darmawan Prasodjo, menekankan bahwa PT PLN akan terus memaksimalkan potensi energi lokal demi menghadirkan solusi kelistrikan yang lebih berkelanjutan.
“Melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan ini, kami tidak hanya menghadirkan listrik yang ramah lingkungan,” kata Darmawan Prasojo dal keterangan resmi seperti diperoleh Mediaperkebunan.id, Jumat (29/8/2025).
Tetapi juga, sambung Darmawan Prasojo, ini bisa memperkuat kedaulatan energi dan di saat yang bersamaan menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja baru, dan membantu mengentaskan kemiskinan.
Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Darmawan Prasojo menyebutkan kalau Indonesia memiliki peluang besar untuk mengonversi limbah ini menjadi energi terbarukan yang berkesinambungan.
Menurutnya, dampaknya tidak sebatas pada penyediaan listrik ramah lingkungan, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan mampu meningkatkan pendapatan petani kelapa sawit.
“Juga berpotensi mendukung tumbuhnya industri pengolahan lokal, serta menekan risiko pencemaran di sekitar wilayah perkebunan,” tutur Darmawan Prasojo lagi.
Sementara itu Direktur Teknologi, Enjiniring, dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, menyampaikan bahwa potensi energi bersih dari pemanfaatan BioCNG di Sumatera Utara bisa mencapai 478 giga watt hour (GWh) per tahun.
“Melalui integrasi BioCNG sebagai bahan bakar alternatif, PLN berhasil mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan sekaligus mendayagunakan limbah organik menjadi energi bersih,” kata Evy Haryadi.
Pemanfaatan BioCNG ini, ucapnya, akan berkontribusi terhadap produksi listrik bersih sebesar 478 GWh per tahun, penghematan bahan bakar setara Rp 48 miliar per tahun dan pengurangan emisi CO2 sebesar 80 ribu ton per tahun.
“Dengan kapasitas terpasang 1.184 MW, PLTGU Belawan menyumbang 10,96 persen pasokan listrik untuk seluruh Pulau Sumatera dan 30,75% di kawasan Sumatera Bagian Utara atau Sumbagut,” papar Evy Haryadi.
Sepanjang 2024, kita dia, PLN mencatat produksi co-firing biomassa sebesar 854 ribu MWh, dan capaian ini ditargetkan meningkat melalui pengembangan BioCNG.
Menurut Evy Haryadi, inisiatif strategis ini membuktikan kesiapan PT PLN (Persero) dalam mempercepat transisi energi bersih, mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, dan mengembangkan energi terbarukan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia
Di sisi lain, Eniya Listiani Dewi selaku Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) memberikan apresiasi atas inovasi PLN menghadirkan teknologi BioCNG pertama di Indonesia.
“Saya sangat mengapresiasi co-firing BioCNG pertama di Indonesia ini sebagai upaya membangun energi baru terbarukan (EBT) di sektor pembangkitan,” kata Eniya Listiani Dewi.
“Hal ini akan menambah bauran energi baru dan terbarukan (EBT), khususnya yang berada di Provinsi Sumatera Utara,” tegas Eniya Listiani Dewi.

