2nd T-POMI
2024, 13 Maret
Share berita:

Jakarta, mediaperkebunan.id – Pembibitan kelapa sawit perlu dilakukan dengan benar agar menghasilkan panen yang memuaskan. Industri sawit sendiri masih menjadi kontributor utama dalam peningkatan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu, pembibitan kelapa sawit tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan tetapi harus sesuai standar.

Tata cara pembibitan kelapa sawit yang sesuai standar

Pusat Penlitian Kelapa Sawit (PPKS) telah merangkum tata cara pembibitan kelapa sawit yang benar dalam buku yang berjudul “Petunjuk Teknis Pembibitan Kelapa Sawit”. Sebelum menjalankan pembibitan, PPKS dalam bukunya mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Kecambah

  • Kecambah sawit harus dalam keadaan sejuk, lembab, dan terhindar dari matahari langsung sampa saat penanaman. Kemudian, kecambah harus ditanam sesegera mungkin setelah pengambilan dari PPKS dan tidak disimpan lebih dari 5 hari.
  • Kecambah harus di simpan dalam ruangan bersuhu 22-24 derajat celcius.

Polybag

  • Polybag harus berwarna hitam dan harus tahan lapuk dengan ukuran saat pembibitan awal 22 x 14 cm, tebal 0,07 mm, memiliki lubang dengan diameter 0,3 cm sebanyak 24 buah.
  • Ukuran polybag pembibitan utama 50 x 40 cm, tebal 0,2 mm, memiliki lubang berdiameter 0,5 cm sebanyak 60 buah.
  • Isian tanah pada polybag setinggi 2 cm dari ujung tepi polibeg dan harus disiram setiap hari.

Tanah

  • Tanah yang digunakan sebagai media tanam adalah top soil gembur, tetapi jika ingin menggunakan tanah yang kurang gembur dapat dicampur dengan pasir (3:1), bebas dari OPT.
  • Tanah diayak dengan ayakan 2 cm.
  • Campurkan P (500 g SP36/10 1 air) pada setiap 1 meter persegi tanah isian sebelum diisi ke polibeg kemudian diamkan selama 1 bulan sebelum ditanam kecambah

Lokasi pembibitan

  • Lokasi pembibitan baiknya dekat dengan areal penanaman.
  • Topografi rata/kemiringan < 15 derajat.
  • Dekat dengan sumber air dan sumber tanah pengisi polibeg.
  • Memiliki akses jalan yang baik dalam segala cuaca.
  • Terhindar dari banjir, kondisi kedap air, dan angin kencang.
  • Aman dari gangguan hama, ternak, dan manusia.
Baca Juga:  Dibentuknya Holding Perkebunan Tak Efektif

Persiapan Lokasi Pre Nursery (PN) Bedengan

  • Bedengan dengan ukuran 1,2 m x 10 m dapat memuat 1000 bibit PN.
  • Bagian dasar bedengan dibuat lebih tinggi dari permukaan.
  • Tambahan papan sebagai pemisah persilangan atau kelompok pertumbuhan.
  • Bedengan harus dipagar.

Proses penanaman kecambah benih kelapa sawit

Setelah mengetahui ketentuan kecambah, polybag, tanah, sampai lokasi pembibitan, saatnya kita mengetahui proses penanaman kecambah tanaman sawit.

Berikut adalah langkah-langkah penanaman kecambah kelapa sawit:

  • Kantong kecambah dikeluarkan dan ditempatkan dalam baki dangkal berisi air agar kecambah tetap dingin, kecambah dalam kantong tidak boleh terkeba air.
  • Kantong dibuka dan dipercik air untuk memberi kelembaban pada setiap kali penanaman bila cuaca panas.
  • Membuat lubang tanam kedalaman 2 cm.
  • Kecambah harus ditanam dalam polibeg dengan akar (radikula) menghadap ke bawah pada kedalaman sekitar 2 cm sehingga daun (plumula) berada 1 c, di bawah permukaan setelah ditutup dengan tanah.
  • Kecambah dengan radikula dan plumula yang sukar dibedakan sebaiknya ditinggalkan dalam kantong dan disimpan engan suhu 25 derajat celcius selama 5-6 hari.
  • Jangan tanam kecambah abnormal, patah, busuk, atau berpenyakit.
  • Ratakan tanah di sekeliling kecambah tetapi jangan menekannya terlalu kuat.
  • Kecambah harus disiram segera setelah tanam.
  • Setelah tanam, lakukan pemetaan pembibitan.

Contoh pembibitan kelapa sawit yang belum memenuhi standar

Dilansir dari MMC Kalteng, ada beberapa ciri pembibitan kelapa sawit yang belum memenuhi standar. Berikut di antaranya:

Pembibitan kelapa sawit tidak dilakukan secara bertahap

Pembibitan kelapa sawit dalam satu tahap (single stage) hanya direkomendasikan apabila bibit yang dikelola kurang dari 2000 batang, yaitu dilakukan dengan cara penanaman kecambah kelapa sawit langsung di polybag berukuran besar.

Sementar itu, pembibitan kelapa sawit dua tahap (double step) dilakukan pembibitan awal (pre nursery) terlebih dahulu selama minimal 3 bulan pada polybeg berukuran kecil dan selanjutnya dipindah ke pembibitan utama (main nursery) dengan polybag ukuran yang lebih besar.

Baca Juga:  Industri Oleokimia Masih Seksi

Daripada satu tahap, pembibitan kelapa sawit dua tahap lebih direkomendasikan karena menjamin kualitas bibit yang dihasilkan melalui tahapan seleksi di pre nursery dan main nursery.

Waktu pemindahan yang tidak tepat

Contoh pembibitan kelapa sawit yang tak benar salah satunya dapat dilihat dari waktu pemindahan dari pre nursery ke main nursery yang tidak tepat. Pemindahan yang terlalu cepat dapat menyebabkan bibit menjadi hangus sedangkan jika terlalu lambat akan menyebabkan etiolasi.

Perlu diperhatikan bahwa waktu yang temapt untuk pemindahan bibit kelapa sawit dari pre nursery ke main nursery adalah ketika bibit berusia kurang lebih 12 minggu setelah ditanam.

Salah memilih lokasi pembibitan

Lokasi pembibitan sawit di lahan yang mudah tergenang banjir sangat tidak disarakan. Kebun pembibitan sawit harus memiliki sistem drainase yang baik, dekat dengan sumber air yang tersedia sepanjang tahun, serta memiliki akses jalan yang layak.

Salah memposisikan bakal daun dan bakal akar

Saat penanaman, posisi dan arah kecambah bakal daun (plumula) menghadap ke atas dan bakal akar (radikula) menghadap ke bawah. Bakal daun berbentuk menajam dan berwarna kuning muda, sementara bentuk bakal akar menumpul dan berwarna lebih kuning dari bakal daun.

Jenis-jenis kesalahan lain pada pembibitan kelapa sawit antara lain adalah jarak tanam yang terlalu rapat, penanaman kecambah yang terlambat, penanaman yang terlalu dangkal, kesalahan teknik menyiram tanaman, sampai gulma yang tak terkendali.

Nah, agar tanaman bibit kelapa sawit tak terserang gulma, perlu diperhatikan cara pemeliharaan dalam tahap pre nursery. Tanaman kelapa sawit melalui proses pre nursery selama 3 bulan di polybag kecil dan kecambah dipelihara di dalam bedengan yang dinaungi dan dipagar.

Baca Juga:  Hilirisasi Perkebunan “Dongkrak” Ekonomi Nasional

Pengendalian gulma pada tahap pre nursery bisa dilakukan dengan penyiangan manual untuk rumput atau gulma lain (2 minggu sekali), herbisida tidak boleh digunakan pada tahap ini.

Akibat pembibitan kelapa sawit yang tidak memenuhi standar

Tanaman pada perkebunan kelapa sawit perlu menerapkan pembibitan sesuai dengan standar yang diciptakan oleh dinas perkebunan. Pengguna benih perkebunan akan mengalami akibat jika pembibitan kelapa sawit yang dilakukan tidak memenuhi standar, berikut di antaranya:

  1. Tanaman kelapa sawit dapat mengalami kelainan pembentukan klorofil pada daun yang disebut Khimera.
  2. Titik tumbuh tanaman menjadi tidak perkembang.
  3. Tanaman menjadi kerdil.
  4. Tanaman kelapa sawit bisa mengalami beberapa penyakit seperti tajuk (crown disease), anak daun rapat (narrow internode), anak daun jarang (wide internode), dan daun jadi seperti rumput.
  5. Bibit kelapa sawit jadi mengalami pertumbuhan memutar yang tidak normal atau baik.

Itulah rangkuman Media Perkebunan tentang tata cara pembibitan kelapa sawit yang benar sesuai standar yang dianjurkan PPKS, semoga bermanfaat.