Jakarta, mediaperkebunan.id – Kelapa telah menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan ekonomi Indonesia selama puluhan tahun. Dari pesisir Sumatera hingga kawasan timur Indonesia, komoditas ini menjadi sumber penghidupan jutaan petani sekaligus penopang berbagai industri berbasis kelapa. Namun dalam satu dekade terakhir, perhatian terhadap sektor perkelapaan dinilai belum sebanding dengan potensi yang dimilikinya. Akibatnya, produktivitas kebun kelapa nasional masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara produsen utama dunia seperti Filipina, India, dan Thailand.
Kondisi tersebut menjadi perhatian utama yang disampaikan oleh Petrus Tjandra, MBA., President Director Agro Investama Group, dalam Webinar Talkshow “Pengembangan Benih Kelapa untuk Mendukung Hilirisasi Perkebunan” yang diselenggarakan pada hari Rabu (3/06/2026). Menurutnya, pengembangan kelapa Indonesia tidak cukup hanya berfokus pada penyediaan benih unggul, tetapi harus dibarengi dengan pendekatan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara nyata.
“Pengembangan perkelapaan tidak cukup hanya menghasilkan benih yang bagus, tetapi juga memastikan benih tersebut ditanam dan memberikan keuntungan bagi petani,” ujar Petrus.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keberhasilan program pengembangan kelapa tidak hanya diukur dari jumlah benih yang tersedia, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat dirasakan oleh petani sebagai pelaku utama di lapangan.
Petrus mengungkapkan bahwa persoalan yang dihadapi industri kelapa saat ini sebenarnya tidak banyak berubah dibandingkan beberapa tahun lalu. Salah satu persoalan tersebut adalah karakteristik tanaman kelapa yang membutuhkan waktu relatif lama untuk menghasilkan dibandingkan komoditas perkebunan lainnya. Di sisi lain, banyak kebun kelapa yang tidak dikelola secara intensif sehingga produktivitasnya terus menurun.
“Selama sekitar sepuluh tahun terakhir, kelapa dinilai kurang mendapat perhatian. Padahal, petani sering kali lebih tertarik menanam komoditas lain karena kelapa membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan dan umumnya tidak dirawat secara intensif,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, banyak tanaman kelapa di Indonesia telah memasuki usia tua sehingga produksi terus mengalami penurunan. Padahal, peluang pasar kelapa dan produk turunannya masih sangat besar, baik di pasar domestik maupun internasional.
Utang Budi Bangsa Indonesia kepada Kelapa
Menurut Petrus, bangsa Indonesia memiliki hubungan historis yang sangat kuat dengan komoditas kelapa. Selama bertahun-tahun, kelapa menjadi sumber pendapatan masyarakat pedesaan dan menopang perekonomian berbagai daerah.
“Bangsa Indonesia memiliki utang budi kepada kelapa sebagai salah satu komoditas yang telah lama menopang kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Karena itu, momentum meningkatnya perhatian pemerintah terhadap hilirisasi perkebunan perlu dimanfaatkan untuk mengembalikan kejayaan kelapa Indonesia. Ia berharap Indonesia dapat kembali dikenal sebagai “Pulau Kelapa”, sejalan dengan potensi sumber daya yang dimiliki.
Meskipun harga kelapa saat ini relatif baik, tantangan terbesar tetap berada pada aspek produktivitas. Banyak tanaman yang telah berusia tua sehingga tidak mampu menghasilkan secara optimal. Situasi ini menuntut adanya program regenerasi tanaman yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Petrus menekankan bahwa masa depan industri kelapa Indonesia tidak dapat lagi hanya mengandalkan penjualan kelapa butiran. Pengembangan harus diarahkan pada produk-produk bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat daya saing nasional.
Beberapa produk yang memiliki prospek besar antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), gula kelapa, air kelapa, santan, serta berbagai produk turunan lainnya. Tren pasar global juga menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan untuk sejumlah produk tersebut.
Data yang ditampilkan dalam materi menunjukkan bahwa pasar produk turunan kelapa terus berkembang. Ekspor air kelapa mengalami pertumbuhan rata-rata lebih dari 100 persen per tahun dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, ekspor VCO tumbuh lebih dari 50 persen per tahun dan gula kelapa meningkat lebih dari 20 persen per tahun.
Khusus untuk gula kelapa, Petrus melihat peluang yang sangat besar karena permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun. “Gula kelapa memiliki prospek yang sangat baik karena tetap menjadi bahan penting dalam industri pangan, termasuk kecap manis,” jelasnya.
Selain memberikan nilai tambah yang lebih tinggi, usaha gula kelapa juga dapat menjadi sumber pendapatan harian bagi petani. Dalam materi yang dipaparkan, disebutkan bahwa meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk yang lebih sehat serta praktik budidaya yang ramah lingkungan turut mendorong permintaan gula kelapa di pasar.
Pertanian Terintegrasi Kelapa-Padi
Sebagai solusi regenerasi kebun kelapa, Petrus juga mengangkat konsep pertanian terintegrasi kelapa-padi. Pendekatan ini bertujuan menjaga pendapatan petani selama proses peremajaan tanaman berlangsung.
Salah satu kendala utama regenerasi kelapa adalah metode tebang habis yang menyebabkan petani kehilangan sumber pendapatan selama 4–7 tahun hingga tanaman baru mulai berproduksi. Melalui sistem integrasi dengan tanaman pangan seperti padi, petani tetap memiliki sumber penghasilan sambil menunggu tanaman kelapa menghasilkan.
Konsep ini juga sejalan dengan upaya meningkatkan kedaulatan pangan sekaligus memperkuat ekonomi pedesaan.
Petrus menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan kelapa sangat bergantung pada penggunaan benih unggul yang sesuai dengan kebutuhan petani dan industri. Ke depan, varietas yang dibutuhkan bukan hanya produktif, tetapi juga memiliki karakter yang memudahkan pengelolaan.
“Diperlukan pengembangan varietas kelapa yang cepat berbuah, produktif, dan berbatang lebih pendek agar lebih mudah dipanen dan lebih ekonomis bagi petani,” pungkasnya.
Dengan dukungan benih unggul, pengembangan industri hilir, serta penerapan sistem pertanian terintegrasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembalikan kejayaan kelapa nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan petani yang menggantungkan hidupnya pada komoditas strategis ini.

