Kubu Raya, mediaperkebunan.id – 5TH IPOSC (Indonesia Palm Oil Smallholders Conference, Expo & Field Trip) 2025 yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dibuka pada hari ini di Kubu Raya dan dikuti sangat antusias oleh petani sawit. Hadir 800 orang baik untuk mengikuti konferensi maupun pameran. Ada 25 stand pameran terdiri dari produsen kecambah, pupuk, pestisida, alat dan mesin perkebunan, jasa perkebunan juga organisasi.
“Target kita sebenarnya 500 orang tetapi yang hadir melebihi target. Hal ini membuktikan petani sebenarnya sangat haus pada informasi dan teknologi terkini soal kelapa sawit. Ketika ada kesempatan mereka mencari teknologi terbaru yang bisa meningkatkan produktivitas kebun mereka,” kata Hendra J Purba, Ketua Panitia.
Petani dengan antusias memenuhi booth pameran mencari tahu produk apa saja yang bisa meningkatkan produktivitas kebun mereka. Banyaknya produsen kecambah membuka akses petani pada produsen kecambah unggul bersertifikat sehingga tidak ada alasan lagi menggunakan benih ilegitim.
Pembukaan IPOSC (Indonesia Palm Oil Smallhodler Conference and Expo) tanggal 24 September 2025 di Kubu Raya yang bersamaan waktunya dengan Hari Tani Nasional jadi momentum bagi Ketua POPSI (Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesa) Mansuetus Darto untuk memperjelas nasib petani sawit, terutama yang kebunnya berada dalam kawasan hutan.
“Lahan dalam petani dalam kawasan hutan dikuasai kembali oleh negara tanpa negoisasi. Seluruh asosiasi petani yang tergabung dalam POPSI harus membangun dialog dengan pemerintah supaya penguasaan kembali lahan sawit dalam Kawasan hutan bagi petani akan lebih adil,” katanya.
Ir Bambang MM, Deputi Karantina Tumbuhan, Badan Karantina Indonesia sebagai Pembina POPSI menyatakan pentingnya kekompakan seluruh petani kelapa sawit di 5th IPOSC untuk melawan persepsi negatif soal sawit. Sebagai tanaman yang paling efisien maka musuhnya banyak sekali.
Persepsi negatif yang harus dilawan adalah sawit tanaman yang boros air padahal kenyataanya sawit sangat efektif untuk konservasi tanah dan air karena mampu menyerap air. Justru sawit akan jadi penyelamat hutan dunia. Kedepan ketika bahan bakar fosil habis maka bahan bakar nabati jadi penggantinya. Sawit karena menghasilkan minyak yang paling efisien akan menyelamatkan hutan karena hanya perlu sedikit lahan dibanding tanaman nabati lain.
“Minggu depan saya akan ke Rotterdam yang menjadi hub pasar ekspor sawit Indonesia ke Eropa. Kita akan kampayekan sawit sehingga membantu fasilitasi pasar sawit di Eropa . Sawit harus dilindungi dan didukung,” katanya.
Program PSR merupakan salah buah dari perjuangan Bambang ketika masih menjadi Dirjen Perkebunan. Sayang sampai sekarang realisasi masih dibawah target. “Waktu itu saya yang melobi Menkeu dan Menko Ekuin supaya PSR ditingkatkan. Petani harus kompak supaya target PSR bisa dicapai. Trik utama adalah fasiltasi kebun rakyat yang berada di kawasan hutan supaya clear and clean. Pendanaan bisa dari BPDP,” kata Bambang.
Sebagai Deputi Karatina Tumbuhan tugas Badan Karantina adalah perlindungan dari organisasi penganggu tanaman yaitu A1 yang ada di luar negeri tetapi belum ada di Indonesia supaya jangan masuk dan yang ada spesifik di pulau tertentu dan belum menyebar supaya jangan menyebar. Tugas lain adalah memenuhi ketentuan persyaratan ekspor yaitu fitosanitary supaya tidak ada OPT yang terbawa dan tidak ada cemaran kimia maupun biologi. “Jadi jangan takut kalau ada pemeriksaan karatina karena tujuannya bukan mempersulit tetapi melindungi dan meningkatkan pasar,” katanya.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar Heronimus Hero yang mewakili Gubernur Kalbar Rio Nursan menyatakan sawit 20% PDRB Kalbar berasal dari pertanian, dengan dominasi dari perkebunan sawit. Ada 1,2 juta orang petani sawit yang berkembang luar biasa. Sedang investasi swasta agak di rem supaya pemda selektif sesuai dengan rambu regulasi.
Ada 368 perusahaan perkebunan kelapa sawit, konsesi yang sudah diberikan 3 juta ha sedang yang sudah ditanam 1,7 juta ha. Pemprov berharap konsesi yang sudah diberikan untuk dimanfaatkan terlebih dahulu. Rencana pemprov untuk sawit adalah 3,9 juta ha.
Selain hulu, sektor olahan juga berkontribusi besar terhadap PDRB dan didominasi industri olahan sawit. Total 32% perekonomian Kalbar ditopang sawit baik hulu hilir. Pekerja di perkebunan sawit ada 150.000 ditambah petanu 1,2 juta orang maka 30-40% masyarakat Kalbar hidup dari sawit. Pekebun swadaya Kalbar mencapai 32% dari luas kebun sawit.
Satgas Penertiban Kawasan Hutan yang menguasai kembali kebun sawit yang dinyatakan dalam Kawasan hutan menganggu aktivitas pekebun. Pekebun yang sudah turun temurun rumah disitu, kebun berada di belakang rumah dinyatakan menurut regulasi berada dalam Kawasan hutan.
Gubernur berusaha menyelesaikan masalah ini dan sudah konsultasi dengan satgas PKH untuk memastikan masyarakat masih dapat beraktivitas. Diharapkan ada toleransi bagi kebun masyarakat. Di Pelawi ada 6.000 ha kebun petani masuk Kawasan hutan.
PSR di Kalbar sudah mencapai 24.000 dengan dengan dana Rp600 miliar sehingga sangat membantu petani. Sarpras juga Kalbar sudah mendapat cukup besar untuk ekstensifikasi, intensifikasi, peralatan pasca panen, alat angkut dan lain-lain. POPSI sebagai asosiasi sedang beasiswa tahun ini Kalbar 150 orang. Heronimus Hero secara resmi membuka 5th IPOSC.

